Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Moeldoko Sebut Lahan di Bima Cocok untuk Budidaya Sorgum

Selasa, 4 Oktober 2022 | 12:29 WIB
Oleh : Lennny Tristia Tambun / FER
Tanaman sorgum.

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko menyebutkan lahan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai cocok untuk budidaya tanaman sorgum. Hal itu disampaikan Moeldoko saat meninjau kesiapan lahan untuk perluasan tanam sorgum di kabupaten Bima, Selasa (4/10/2022).

"Lahan yang disiapkan seluas 200 hektare. Lokasinya berada di desa Sampungu, kecamatan Soromandi, atau sekitar 80 kilometer lebih dari pusat kota Bima,” kata Moeldoko.

Alasan kabupaten Bima menjadi sasaran perluasan tanam sorgum, kata Moeldoko, dikarenakan daerah yang mendapat julukan Kota Tepian Air itu, memiliki kapasitas lahan yang sangat luas dan karakter tanah yang cocok untuk pengembangan budidaya tanaman sorgum.

"Selama ini, lahan hanya ditanami jagung pada musim hujan. Saat kemarau lahan kurang dimanfaatkan dengan baik karena tandus dan kering. Dengan karakter lahan seperti itu, tanaman sorgum yang cocok," ujar Moeldoko.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko saat mendampingi Presiden Joko Widodo menanam dan memanen tanaman pangan sorgum di Desa Laipori, Kab. Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis 2 Mei 2022.

Moeldoko menegaskan, perluasan tanam sorgum di kabupaten Bima sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait peningkatan produksi dan hilirisasi tanaman sorgum, serta mengembangkan tanaman pengganti gandum untuk menjaga ketahanan pangan nasional.

"Pengembangan sorgum di Bima ini untuk memperkuat ketahanan pangan sesuai arahan Presiden,” terang Moeldoko.

Seperti diketahui, pada peta jalan pengembangan sorgum hingga 2024, sasaran luas tanam, yakni seluas 40.000 hektare yang tersebar di 17 provinsi dengan produksi sebesar 154.464 ton atau dengan asumsi provitas 4 ton per hektare.

Moeldoko mengungkapkan pengembangan sorgum akan diintegrasikan dengan peternakan sapi, unggas, dan pengembangan bioetanol yang bersumber dari batang pohon sorgum. Untuk itu, jumlah offtaker atau perusahaan yang bisa menghubungkan komoditas petani ke pasar harus diperbanyak.

"Minimnya offtaker ini menyebabkan industri sorgum tidak bisa berkembang. Makanya budidaya sorgum tidak bertumbuh secara massif. Tapi kalau persoalan offtaker ini bisa segera diselesaikan maka ekosistem sorgum akan terbentuk, industrinya jalan, dan petani juga semangat menanam sorgum,” jelas Moeldoko.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI