Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved

Dede Yusuf Pertanyakan Aksi Represif Aparat dalam Tragedi Kanjuruhan

Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:53 WIB
Oleh : Yustinus Paat / CAR
Dede Macan Yusuf Effendi.

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Komisi X DPR, Dede Yusuf mempertanyakan aksi represif aparat keamanan dalam tragedi Kanjuruhan. Ia menyesalkan peristiwa yang terjadi usai laga Arema FC dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (1/10/2022).

“Mengapa aparat menggunakan kekerasan yang begitu represif, bahkan menggunakan gas air mata? Padahal sudah sejak lama FIFA melarang penggunaan gas air mata di arena pertandingan, karena gas air mata bukan cuma menghalau, tetapi juga membuat sesak napas,” kata Dede, Selasa (4/10/2022).

Menurutnya, tragedi Kanjuruhan merupakan bencana bagi dunia olahraga. “Banyak orang tua kehilangan anaknya, anak-anak kehilangan orang tuanya, dan tidak sedikit korban jiwa datang dari generasi muda harapan bangsa,” ucapnya.

Total, ada 448 korban dalam Tragedi Kanjuruhan dengan perincian 302 orang mengalami luka ringan, 21 orang luka berat, dan 125 orang meninggal dunia.

Diberitakan, pihak kepolisian menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan. Gas air mata juga ditembakkan ke arah tribun, sehingga membuat penonton berlarian berusaha keluar dari stadion.

Dede Yusuf mengatakan harus ada pihak yang bertanggung jawab dari stakeholder terkait, khususnya penyelenggara pertandingan. “Kita tidak boleh selesai hanya sampai dukacita. Harus ada yang tanggung jawab. Panitia pelaksana, PSSI, lantas aparat atas tindakan represifnya hingga sampai seperti itu,” tegasnya.

Komisi X telah mendesak pemerintah untuk melakukan investigasi atas tragedi Kanjuruhan, termasuk melibatkan Kemenpora, Komnas HAM, perwakilan suporter dan perwakilan unsur masyarakat olahraga. Komisi X mengapresiasi pembentukan tim gabungan independen pencari fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan yang dibentuk pemerintah.

“Kita harapkan TGIPF bisa bekerja maksimal mencari titik terang menelusuri secara komprehensif atas kejadian ini,” ungkap Dede Yusuf.

Tak hanya itu, Komisi X juga sepakat adanya penghentian sementara Liga 1, Liga 2, dan Liga 3, serta kompetisi sejenis lainnya sampai ada perbaikan nyata terhadap tata kelola penyelenggaraan kejuaraan sepak bola. Dede mengatakan penghentian sementara liga sepak bola menjadi penting dalam investigasi kericuhan di Stadion Kanjuruhan.

“Sebelum adanya SOP standar yang disepakati semua stakeholder termasuk pihak keamanan sebaiknya liga ditunda dulu. Masalah ini harus ditelusuri hingga ke akar-akarnya agar tidak lagi terulang peristiwa memilukan seperti ini,” ucap Dede.

Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan Jawa Barat II ini mengatakan Komisi X berencana memanggil Kemenpora, Polri, PSSI, PT Liga Indonesia Baru, perwakilan suporter, dan panitia pelaksana untuk melakukan rapat soal tragedi Kanjuruhan.

Lebih lanjut, Komisi X mendesak PT Liga Indonesia Baru untuk segera memberikan kepastian jaminan asuransi terhadap hak-hak korban tragedi Kanjuruhan. DPR juga berharap agar pemerintah segera menegakkan Undang-Undang (UU) Nomor 11 tahun 2022 tentang Keolahragaan. Pemerintah juga diharapkan menerbitkan peraturan turunan, serta tata cara penyelenggaraan dan hak-hak keamanan bagi penonton.

“Semoga peristiwa di Kanjuruhan menjadi yang terakhir dan tidak lagi ada kericuhan-kericuhan yang menimbulkan wajah buruk dunia persepakbolaan Indonesia,” kata Dede Yusuf.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI