Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Pemuda Sukabumi Cuan Jutaan Rupiah dari Sampah Kayu di Pantai Palabuhanratu

Sabtu, 29 Oktober 2022 | 17:09 WIB
Oleh : Heru Yustanto / BW
Seorang warga di Pantai Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat, mengambil kayu untuk kemudian diolah menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Sukabumi, Beritasatu.com - Sampah kayu dan sisa tumbuhan menjadi masalah tersendiri di wilayah Pantai Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Puluhan ton kayu yang hanyut di laut terdampar di pantai sehingga mengotori pantai. Namun, para pemuda setempat justru mendapatkan cuan puluhan juta rupiah dari sampah kayu Pantai Palabuhanratu.

Sekelompok pemuda itu, yang tinggal di Desa Loji memanfaatkan sampah kayu dan ranting untuk didaur ulang menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dengan usaha ini para pemuda bisa beraup cuan hingga jutaan rupiah per bulannya.

Proses pemanfaatan sampah pantai untuk menjadi bahan bakar PLTU tersebut cukup mudah. Potongan ranting dan kayu dibuat menjadi serbuk kayu kemudian dikirim ke PLTU dan diolah menjadi bahan pencampur briket batubara.

Semua usaha ini dikelola para pemuda Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat di bawah bendera Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Karya Insani.

Para pemuda awalnya memunguti sampah di sepanjang Pantai Palabuhanratu dan dikeringkan. Setelah kering sampah kayu dan ranting, kemudian digiling sehingga menjadi bubuk kayu atau sawdust. Bubuk kayu ini kemudian dikirim ke sebuah PLTU milik PLN yang di kelola PT Indonesia Power.

Direktur Bumdes Karya Insani Bayu Nugraha mengungkapkan, usaha ini sudah berlangsung sejak tujuh bulan lalu. Dalam satu hari pihaknya menghasilkan sekitar 200 kilogram sampah kayu yang kemudian dijual ke PLTU.

"Kami sudah mulai, awalnya kayu diolah menjadi serbuk. Kalau sudah jadi serbuk kita kirim ke PLTU untuk bahan pencampr batubara," ungkap Bayu.

Meski sudah mulai menghasilkan, usaha ini masih memiliki banyak kendala, terutama dalam pengambilan bahan baku kayu bekas dan peralatan pengolahan.

Dari sisi pengumpulan bahan baku kayu bekas dan ranting, para pemuda masih mengalami kendala karena masih menggunakan sistem tradisional. Mereka mengambil potonga kayu dan sampah mengandalkan tenaga manusia.

Padahal seharusnya untuk skala produksi besar harus menggunakan perlatan pendukung seperti alat berat dan alat pengangkut.

"Harusnya ada motor unuk membawa bahan yang sudah diolah,” lanjutnya.

Selain itu para pemuda juga masih mengalami kesulitan modal karena pengolahan hanya menggunakan mesin kecil, sehingga hanya sedikit yang berhasil diproses.

"Kita sih berharap ada investor sehingga skala usahanya bisa lebih besar," katanya.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI