Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Komnas HAM: Gas Air Mata Alasan Utama Korban Tragedi Kanjuruhan Meninggal

Rabu, 2 November 2022 | 20:00 WIB
Oleh : Hendro D Situmorang / YUD
Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik (kiri) dan Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara (kanan) memaparkan hasil penyelidikan tragedi kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan Malang, di Jakarta, Rabu (2/11/2022).

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyimpulkan penembakan gas air mata menjadi penyebab awal dan alasan utama kematian korban dalam tragedi Kanjuruhan, Malang di Jawa Timur.

Penembakan tersebut dilakukan oleh sebagian aparat kepolisian yang berada di dalam stadion.

"Penembakan gas air mata merupakan penyebab utama korban meninggal dunia, luka-luka ataupun trauma," kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam dalam konferensi pers di Kantor Komnas HAM, Jakarta pada Rabu (2/11/2022).

Ia mengatakan bahwa penembakan gas air mata dalam tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 telah memicu jatuhnya 135 korban meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka ataupun trauma, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Terkait dengan pemicu secara langsung, kata dia, penembakan gas air mata menjadi sesuatu yang mematikan apabila digunakan di dalam ruang tertentu dan kondisi tertentu, seperti penembakan gas air mata di Stadion Kanjuruhan yang bentuk ruangannya cenderung tertutup dan dipadati oleh penonton pertandingan sepak bola.

Komnas HAM mengakui karakter dasar gas air mata memang tidak mematikan. Namun dalam kondisi tertentu dapat menjadi penyebab kematian, seperti pada Tragedi Kanjuruhan dan massa penonton tengah berdesakan mencari jalan keluar dari kepulan asap gas air mata.

"Dapat dilihat secara langsung sebabkan kematian di pintu 13, asap masuk ke lorong di tengah kepanikan penonton," ujar Anam.

Gas air mata pun disebut Komnas HAM menjadi dalang atas korban luka dan trauma. "Secara tidak langsung sebabkan luka dan trauma karena buat kepanikan dan muncul desakan untuk keluar (stadion) dengan dada sesak, kulit panas," lanjut Anam.

Walau demikian, Komnas HAM tetap mendukung investigasi atas kematian korban Kanjuruhan lewat otopsi. Hal ini guna memastikan penyebab kematian secara ilmiah.

"Secara faktual memungkinkan (meninggal karena gas air mata), tapi harus disandingkan dengan otopsi," ucap Anam.

Selain itu, Komnas HAM menemukan gas air mata kedaluarsa dalam tragedi Kanjuruhan. Namun Komnas HAM belum dapat menyimpulkan efek yang terjadi bila terpapar zat tersebut.

"Terdapat gas air mata kedaluwarsa didasari keterangan yang didapat dari laboratorium. Konsekuensinya masih perlu didalami dengan proses ilmiah. Kami tidak mendalami kalau kedaluwarsa kondisinya A, B, C, D," ucap Anam.

Sementara itu, mengenai pemicu secara tidak langsung, Anam mengatakan bahwa hal tersebut terkait dengan penembakan gas air mata ke arah tribun yang menyebabkan banyak orang panik, lalu sesak napas, dan berujung pada kematian.

"Penembakan ke tribun dan sebagainya mengakibatkan kepanikan. Dari panik itu, banyak yang juga mengalami sesak napas dan lain sebagainya, terus berebut keluar pintu dengan tangga yang curam. Di situ, ada yang jatuh, terluka, dan meninggal," ucap Anam.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI