Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Pemerintah Perlu Kembangkan Komunikasi Risiko Hadapi Bencana

Rabu, 2 November 2022 | 22:38 WIB
Oleh : Maria Fatima Bona / YUD
Ilustrasi.

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau semua pihak untuk bersiap menghadapi terjangan bencana hidrometeorologi akibat tingginya curah hujan tahunan 2023 yang diprakirakan melebihi rata-ratanya atau melebihi batas normalnya di sebagian wilayah Indonesia. Bahkan juga tetap perlu waspada dan siaga terhadap peningkatan potensi kekeringan dan karhutla di beberapa wilayah rawan.

Untuk itu, Indonesia sebagai negara yang rawan terhadap bencana alam diharapkan mampu membangun komunikasi risiko secara terintegrasi dengan sejumlah stakeholders. Dengan adanya kolaborasi dalam komunikasi risiko ini diharapkan mampu mencegah jatuhnya korban jiwa serta bisa secara efektif menghadapi bencana alam yang unpredictable.

“Sudah seharusnya pemerintah dan stakeholders berkolaborasi untuk menghadapi bencana alam, termasuk ancaman tsunami, dengan melaksanakan komunikasi risiko yang terintegrasi,” kata Dian Agustine Nuriman, founderNAGARU Communication, saat berbincang kepada media di Jakarta, Rabu (2/11/2022).

Dian mengatakan hal tersebut terkait dengan disertasi berjudul “Model Komunikasi Risiko dalam Menghadapi Bencana Alam Tsunami melalui Stakeholder Engagement,yakni kasus tsunami Selat Sunda 2018 di Umang Beach Club Private Island resort Hotel” yang disampaikannya dalam sidang Promosi Doktor Ilmu Komunikasi di Sahid Sudirman Residence, Universitas Sahid Jakarta, Rabu (2/11/2022).

Sebagai CEO Umang Beach Club Private Resort Hotel, Dian melakukan kajian itu menemukan tiga kebaruan atau novelties

Pertama, model komunikasi risiko tsunami tricosta atau tsunami risk communication through stakeholder engagement. Di dalamnya melibatkan delapan stakeholders dan memiliki enam unsur, yaitu kolaborasi komunikasi pemangku kepentingan terpadu, pengelolaan pesan, media dan aktivitas komunikasi, pemangku kepentingan, perubahan perilaku, dan pengurangan risiko bencana.

“Model ini merupakan pengembangan dari model komunikasi risiko Wuhan yang hanya melibatkan tiga stakeholders,” ujarnya.

Kedua, ciri dan kriteria komunikasi risiko yang merupakan pengembangan dari komunikasi efektif.

Ketiga, mengolah kembali posisi komunikasi risiko bencana pada disaster management cycle untuk dapat memahami kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan yang bersifat komunikasi risiko dan komunikasi krisis di saat terjadi bencana.

“Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan paradigma post-positivisme, di mana di dalamnya dilakukan wawancara secara mendalam kepada setiap informan,” jelasnya.

Dian berharap pemerintah dan stakeholder dapat berkolaborasi dalam menghadapi bencana tsunami.

“Tsunami sudah menjadi ancaman yang sangat potensial di negeri kita. Untuk itu perlu dibangun model komunikasi efektif sebagai bentuk mitigasi terhadap risiko,” katanya.

Sementara itu Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Boy Kelana Subroto, mengapresiasi riset yang dikembangkan oleh Dian. Ia sepakat bahwa Indonesia membutuhkan strategi komunikasi efektif dan kolaboratif untuk merespons kebencanaan.

“Sebagai negara yang rawan bencana, rasanya riset yang dilakukan oleh Dian ini tak hanya berharga buat dunia akademik tapi menjadi masukan penting buat dunia ilmu komunikasi, khususnya perkembangan humas ke depan,” kata Boy.

Dian saat ini aktif sebagai ketua bidang pelatihan Kehumasan Perhumas. Dengan keterlibatan aktif di Perhumas, Boy mengatakan, Dian tentunya akan mampu mengimplementasikannya menjadi sesuatu yang lebih aplikatif.

“Kami dari Perhumas tentunya sangat bangga. Semoga riset Dian Agustine ini akan lebih teraplikasi dalam menjawab permasalahan yang masih mengadang di depan,” ujar Boy.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI