Copyright © 2023 BeritaSatu
Allright Reserved

Indonesia Jangan Terlalu Netral terhadap Ancaman Pertahanan Global

Selasa, 8 November 2022 | 19:23 WIB
Oleh : Asni Ovier / AO
Hasto Kristiyanto.

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam konteks geopolitik, terutama terkait dengan ancaman pertahanan global, Indonesia tidak boleh bersikap terlalu netral. Indonesia justru harus membangun kerja sama strategis agar mampu secara lincah melibatkan diri dalam berbagai persoalan keamanan dunia melalui diplomasi luar negeri dan pertahanan secara terpadu.

Seluruh tumpah darah Indonesia wajib untuk membela keselamatan bangsa dan membela keutuhan wilayah kedaulatan negara. Namun, di sisi lain, Indonesia juga memiliki tanggung jawab bagi ketertiban dunia.

Hal itu dikatakan doktor ilmu pertahanan Hasto Kristiyanto dalam acara Seminar Nasional Tantangan TNI AU dalam Perkembangan Teknologi Elektronika Penerbangan yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa (8/11/2022). Sekjen DPP PDIP itu menjadi salah satu pembicara bersama Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

"Kita tidak boleh terlalu halus atau terlalu penurut di dalam konteks politik pertahanan. Kita harus berbicara apa adanya, termasuk dalam kemampuan merespons secara strategis ketika negara tetangga kita menjadikan Indonesia sebagai ancaman. Memang kita dorong hidup berdampingan secara damai, dan saling menghormati, namun bukan berarti negara tetangga bisa melanggar kedaulatan wilayah ribuan kali dan hal tersebut kita biarkan dengan penuh kesopanan," kata Hasto.

Dia memuji doktrin di interal TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang menggemakan “Swa Bhuwana Paksa”. Hasto menilai, doktrin “Swa Bhuwana Paksa” memiliki arti yang mendalam, yakni TNI AU memiliki tugas khusus dalam menjaga dirgantara dan menjadi sayap Tanah Air.

Politisi asal Yogyakarta itu juga mengulas soal pemikiran geopolitik Presiden pertama Ir Soekarno, yang juga disampaikan oleh Menhan Prabowo Subianto. Hal itu terkait dengan pentingnya memperkuat angkatan perang dalam negeri.

Dikatakan, politik pertahanan memiliki dua tujuan yang mulia bagi peradaban bangsa-bangsa. Pertama, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Kedua, memastikan kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

"Jadi, tugas kita menghapuskan berbagai bentuk penindasan. Bagaimana kita mau menghapuskan penindasan kalau angkatan perang kita tidak kuat," ujar Hasto.

Dia pun menilai penting untuk merancang kekuatan pertahanan atas cara pandang geopolitik dan bukan sekadar mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Kalau kita hanya mengandalkan APBN tanpa berpikir out of the box, kita selamanya akan ketinggalan dengan kekuatan pertahanan negara lain,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Hasto juga menyampaikan teori geopolitiknya yang disebut progressive geopolitical coexsistance.

“Kekuatan TNI kita harus menjadi benteng terkuat di Samudera Hindia agar bisa me-leverage kepemimpinan masa depan dunia di Pasifik. Itulah imajinasi yang disampaikan Bung Karno, yang harus dijalankan dengan menjadikan instrument of national power, seperti demografi, teritorial, sumber daya alam, politik, militer, koeksistensi damai, sains dan teknologi, untuk disimulasikan menjadi kekuatan," ujar Hasto.



Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA TERKAIT



BERITA LAINNYA












BERITA TERPOPULER


#1

#2

#3

#4

#5

#6

#7

#8

#9

#10

TERKINI