Pasukan TNI-Polri Terus Buru Kelompok Santoso di Hutan Pegunungan Poso

Pasukan TNI-Polri Terus Buru Kelompok Santoso di Hutan Pegunungan Poso
Sejumlah aparat gabungan TNI-Polri memeriksa kendaraan warga yang keluar Desa Sedoa, Lore Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 5 April 2016. Penjagaan dan pemeriksaan setiap kendaraan yang keluar dan masuk itu adalah rangkaian dari taktik mempersempit ruang gerak kelompok teroris Santoso yang kini kian terdesak di hutan Poso. Antara/Basri Marzuki
John Lory / CAH Selasa, 10 Mei 2016 | 09:53 WIB

Palu - Perburuan terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah di hutan pegunungan Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) sampai hari ini, Selasa (10/5) masih terus dilakukan pasukan gabungan TNI-Polri yang berkekuatan sekitar 2.000 personel, dengan sandi operasi Tinombala 2016.

Konsentrasi pasukan masih pada wilayah yang diyakini dimana Santoso dan anak buahnya terkepung, yakni mulai dari Desa Patiwunga Kecamatan Poso Pesisir Selatan, sampai ke dataran Napu yang meliputi kecamatan Lore Utara, Lore Timur, Lore Piore, dan Lore Tengah.

“Kontak senjata terakhir terjadi di Desa Patiwunga pada 24 April lalu, dan menewaskan seorang anggota kelompok Santoso,” kata Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto.

Operasi Tinombala adalah operasi di bawah komando Polda Sulawesi Tengah, dimulai sejak 10 Januari 2016 dan melibatkan sekitar 2.000 personel gabungan TNI-Polri, antara lain dari satuan Brimob, Kostrad, Marinir, Raider dan Kopasus.

Awalnya, Kepala Operasi Daerah (Kaopsda) Tinombala 2016, Kombes Pol. Leo Bona Lubis optimis segera menangkap gembong teroris Santoso dan pengikutnya sesuai target waktu 60 hari yakni sejak operasi itu digelar.

Leo yang juga Wakapolda Sulteng itu optimistis karena dalam operasi perburuan kelompok itu, Polri mendapat
dukungan penuh dari TNI.

Namun, hingga operasi yang ditargetkan berakhir 10 Maret 2016, upaya untuk lumpuhkan kelompok itu belum juga membuahkan hasil. Santoso, pimpinan kelompok itu masih bergerilya di hutan pegunungan Poso.

Bahkan, operasi yang diperpanjang Kapolri sejak 10 Maret dan berakhir 8 Mei 2016 kemarin, berlum juga berhasil melumpuhkan Santoso, meski diklaim bahwa kelompok itu sudah terkepung dan ketiadaan pasokan logistik.

Leo mengungkapkan, sulitnya medan pegunungan Poso menjadi kendala bagi pasukan untuk segera menangkap Santoso dan anak buahnya.

“Pegunungan Poso luasnya 700 kilometer persegi. Selain luas, medannya terjal, berbukit-bukit dan vegetasinya sangat padat,” paparnya.

Hingga kini, pasukan TNI-Polri terus melakukan perburuan untuk menangkap Santoso dan pengijutnya yang diperkirakan masih sekitar 25 orang.

Diketahui, sejak operasi Tinombala digelar, dua anggota Polri tewas, masing-masing Brigadir Wahyudi Syahputra dan AKP Fredy Manuhutu.

Brigadir Sayahputra tewas tertembak saat melakukan penggeledahan terhadap dua anggota Santoso ketika mobil yang ditumpangi kelompok itu membawa logistik dan melintas di Desa Sangginora, Kecamatan Poso Pesisir Selatan.

Sementara AKP Fredy Manuhutu yang merupakan Kasubden III Detasemen E Satuan Gegana Brimob Kelapa Dua Mabes Polri meninggal di hutan pegunungan Poso, karena menderita sakit.

Selain itu, kecelakaan Heli juga telah menewaskan 13 anggota TNI di Dusun Patiro Bajo, Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir Kabupaten Poso, pada pertengahan Maret 2016. Saat itu, Danrem dan sejumlah perwira dalam penerbangan kembali ke Poso usai memantau pasukan di dataran Napu.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE