Panglima TNI: Terorisme Merupakan Bentuk Proxy War

Panglima TNI: Terorisme Merupakan Bentuk Proxy War
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. ( Foto: Istimewa )
Robertus Wardi / FER Kamis, 1 September 2016 | 18:02 WIB

Jakarta - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengemukakan jaringan terorisme adalah sebagai satu bentuk proxy war yang hadir di Indonesia saat ini. Masyarakat diminta agar waspada dan hati-hati dengan aksi para kelompok tarorisme.

"Bangsa Indonesia harus waspada terhadap paham terorisme karena teroris adalah sebagian dari proxy war yang ada di Indonesia," kata Gatot di Jakarta, Kamis (1/9).

Sebagaimana diketahui, proxy war adalah war adalah sebuah konfrontasi antar kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung. Tujuannya untuk mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.

"Di Indonesia, proxy war bisa terjadi dengan berbagai cara seperti peredaran narkoba dan terorisme," kata Gatot.

Gatot menjelaskan, kelompok ISIS bukan lagi ISIS semata tetapi sebagai Islamic State karena para teroris ingin membuat satu negara menjadi negara Islam, namun perekrutanya dari seluruh negara. Sistem perekrutanya mencari hal-hal yang sensitif, dimana kesenjangan sosial dan tingkat ketidakadilan sangat tinggi.

"Banyak anak-anak Indonesia yang masih kecil, saat ini berada di Suriah, dimana mereka diberikan latihan menembak dan latihan militer lainnya untuk dididik menjadi pasukan ISIS. Anak-anak itu dicuci otak untuk menjadi teroris. Bahkan mereka membakar raport sekolahnya. Apabila nantinya mereka terdesak di Suriah, maka sesuai doktrin para teroris tersebut akan kembali ke negara asalnya dan mengadakan perjuangan di wilayahnya masing-masing,” ungkapnya.

"Dapat dibayangkan betapa perekrutan teroris sangat mudah dengan menggunakan media sosial dan teroris Indonesia memiliki dana yang cukup besar. Dana teroris yang masuk ke Indonesia paling besar dari Australia bukan negara Australia ya tetapi dari wilayah Australia, Malaysia, Brunei dan Philipina," tutupnya.





Sumber: Suara Pembaruan