BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang

BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang
Ilustrasi Hujan ( Foto: Istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / CAH Jumat, 7 Desember 2018 | 08:42 WIB

Jakarta - Meski belum memasuki puncak musim hujan, curah hujan di beberapa daerah mulai tinggi. Waspada terhadap potensi bencana banjir, longsor dan puting beliung perlu ditingkatkan.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, saat ini hujan mulai bergerak ke arah timur yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali dan sebagian Nusa Tenggara.

"Dari kondisi itu, biasanya saat hujan lebat diiringi angin kuat. Namun tidak semua angin kencang menjadi puting beliung," katanya ketika dihubungi SP, di Jakarta, Jumat (7/12).

Sebelumnya terjadi puting beliung di wilayah Kelurahan Cipaku, Kelurahan Batutulis, Kelurahan Pamoyanan dan Kelurahan Lawanggintung Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor terjadi, Kamis (6/12). Dari kejadian itu, sejumlah atap rumah terhempas, pohon tumbang, kendaraan ringsek tertimpa pohon dan satu orang meninggal dunia.

Prabowo menjelaskan, puting beliung bisa terjadi, ketika pertumbuhan awan cumulonimbus, diikuti angin kencang dan hujan lebat. Perbedaan suhu yang meningkat hingga empat derajat pada pagi dan siang hari (terik) selama dua sampai tiga hari saat musim hujan, bisa meningkatkan pertumbuhan awan pada siang hingga sore hari dan memicu hujan lebat.

"Jika musim hujan, lalu kemudian ada jeda tanpa hujan dan terik selama beberapa hari, patut diwaspadai akan terjadi hujan lebat, karena pertumbuhan awan mengumpul selama beberapa hari itu," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Meterologi Publik BMKG Fachri Radjab dalam penjelasan tertulisnya mengungkapkan, perlu kewaspadaan terhadap peningkatan curah hujan beberapa hari ke depan.

Hasil pantauan terkini kondisi atmosfer menunjukkan adanya peningkatan aktivitas gelombang atmosfer. Beberapa sirkulasi atau pusaran aliran udara terbentuk di sekitar wilayah Indonesia, di antaranya terdapat di perairan Barat Aceh, Laut Natuna dan Selat Karimata.

Sirkulasi ini akan memberikan dampak berupa meningkatnya konsentrasi kelembapan udara untuk mendukung pertumbuhan awan. Sirkulasi ini kemudian juga memicu terbentuknya wilayah konvergensi atau pertemuan massa udara di sepanjang pesisir Barat Sumatera, Kalimantan bagian Barat hingga Selat Karimata dan pulau Jawa.

"Wilayah konvergensi tentunya akan meningkatkan potensi pertumbuhan awan di wilayah yang dilaluinya," ucapnya.

Pola kondisi atmosfer seperti ini akan bertahan dalam periode seminggu ke depan, sehingga kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang di sekitar wilayah Indonesia dalam periode beberapa hari ke depan.

Potensi gelombang tinggi 2.5 hingga 4.0 meter diperkirakan terjadi di Perairan Selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Samudera Hindia Selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Samudera Pasifik Utara Kepulauan Halmahera.

"Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin," paparnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE