Sektor Pariwisata Bisa Angkat Masyarakat NTT dari Kubangan Kemiskinan

Sektor Pariwisata Bisa Angkat Masyarakat NTT dari Kubangan Kemiskinan
Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat ketika memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa di Kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Santo Paulus Ruteng di Ruteng, Kamis (10/1), ( Foto: beritasatu.com / Willy Grasias )
Willy Grasias / EHD Jumat, 11 Januari 2019 | 21:26 WIB

Ruteng - Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan satu dari 10 provinsi termiskin secara ekonomi di Indonesia. Tingkat kemiskinan NTT 23,03%, berada di urutan kelima.

Urutan pertama Papua Barat dengan tingkat kemiskinan 36,80%. Peringkat kedua Papua dengan tingkat kemiskinan 43,88%. Peringkat ketiga Sulawesi Barat dengan tingkat kemiskinan 23,19%. Selanjutnya setelah NTT adalah NTB, Aceh, Bang Belitung, Gorontalo dan Sumatera Selatan.

Sebenarnya provinsi-provinsi itu tidak ada alasan tetap daerah miskin. Sebab, secara sumber daya alam melimpah. NTT misalnya mempunyai potensi yang luar biasa untuk menjadi provinsi yang sejahtera secara ekonomi.

Salah satu potensi NTT adalah sektor pariwisata. Itulah alasan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menjadikan sektor pariwisata menjadi prioritas program kerja yang dilaksanakannya.

Viktor ketika memberikan kuliah umum kepada ratusan mahasiswa di Kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Santo Paulus Ruteng di Ruteng, Kamis (10/1), mengatakan, sektor pariwisata menjadi prioritas utama yang dijalankannya karena banyak objek wisata di NTT yang bisa mendatangkan banyak pelancong mancanegara.

Pariwisata maju, kata dia, maka pasti menggerakkan sektor lain seperti sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sektor kerajinan (handycraf), tenunan masyarakat serta hasil-hasil pertanian seperti kopi, panili, dan sebagainya. “Dengan demikian sektor pariwisata bisa mengangkat masyarakat NTT dari Kubangan kemiskinan,” kata alumnus Pasca Sarjana Ilmu Ekonomi Iniversitas Satya Wacana Salatiga itu.

Viktor paham betul bahwa alam NTT sungguh Surga bagi para wisatawan sebab kekayaan alam, budaya yang unik dan menarik. “Propinsi ini merupakan anugerah yang tak tehingga dari Yang Kuasa. Anugerah ini, haruslah disyukuri dengan melakukan terobosan terobosan baru, menata dan menarasikan tempat wisata itu dengan baik dan benar, sesuai dengan karasteristik jaman,” kata dia.

Ia mengatakan, pariwisata yang maju bukan hanya soal keunikan atau sarana dan prasarana dalam sebuah tempat wisata, tetapi semua unsur yang ada di dalamnya, termasuk kebersihan. Kebersihan menjadi garansi utama bagi wisatawan untuk merasakan kenyamanan. “Kebersihan juga akan memberi manfaat, baik dari sisi estetika maupun kesehatan,” kata dia.

Menurut Viktor, kalau wisatawan merasa tertarik, nyaman dan aman, maka mereka akan mengenang dan terus mengunjungi kota atau tempat wisata di NTT.

“Ibarat kata pepatah: cinta itu dari mata, turun ke hati. Maka, para pelancong terlebih dahulu akan melihat pemandangan bersih yang disajikan, pelayanan yang ramah dan cerdas, kemudian akan tumbuh rasa cinta terhadap kota atau tempat wisata kita,” kata dia.

Terkait dengan rencana menaikan tarif masuk Taman Nasional Komodo yang direncanakan US$ 500 untuk wisatawan asing dan US$ 100 untuk wisatawan domestik (Indonesia), Viktor menjelaskan, Taman Nasional itu sebagai sebuah taman yang harus indah dan menarik.

Taman Nasional Komodo (TNK) yang berada di Kabupaten Manggarai Barat itu, kata dia, sedang dieskploitasi tanpa berpihak pada nilai ekologi. Binatang Komodo yang satu-satunya di dunia dan hanya dimiliki propinsi ini, satu saat akan punah karena habitat yang liar itu tidak dijaga.

Oleh karena itu, kata dia, ke depan orang yang ingin melihat Komodo adalah mereka yang sungguh penasaran untuk melihat ganas dan liarnya binatang purba itu dan itu yang mempunyai nilai jual yang tinggi.

Angka kunjungan wisatawan ke NTT setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Dalam rentang waktu satu tahun, mulai dari Januari hingga Desember 2016, jumlah wisatawan ke provinsi kepulauan itu mencapai angka satu juta orang.

Objek pariwisata yang sangat terkenal sejak dulu di NTT adalah Binatang Komodo di Pulau Komodo, Danau Tiga Warna (Kelimutu) di Ende, Pantai Lasiana di Kupang, Pulau Semau, dan sebagainya.



CLOSE