Perayaan Imlek, Matakin Kenang Jasa Gus Dur

Perayaan Imlek, Matakin Kenang Jasa Gus Dur
Perayaan tahun baru Imlek Tingkat Nasional di TMII, Minggu, 10 Februari 2019. ( Foto: istimewa )
Chairul Fikri / CAH Selasa, 12 Februari 2019 | 11:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) menggelar Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional di TMII Jakarta, Minggu (10/2) lalu. Ini merupakan perayaan ke-20 sejak perayaan pertama 17 Februari 2000 lalu. 

Perayaan ini tidak lepas dari jasa mantan presiden ke - 4, KH. Abdurrachman Wahid atau Gus Dur. Ketua Umum Dewan Rohaniwan/Pimpinan Pusat Matakin yang juga merupakan Ketua Panitia, Budi Santoso Tanuwibowo menyatakan, pihaknya berterima kasih kepada Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah mendukung Imlek dirayakan untuk kali pertama. 

"Saya masih sangat terharu mengenang momen itu. Gus Dur tidak saja begitu baik buat umat Khonghucu, tetapi sekaligus membuat sebuah sejarah baru dengan mendukung penyelenggaraan Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional yang pertama. Kita tetap mengingat jasa beliau dan mengenangnya, meski sekarang sudah banyak orang yang lupa atau malah mengaburkan. Tanpa Gus Dur tidak ada cerita soal Imlek seperti hari-hari ini," ungkap  Budi melalui rilis yang diterima Beritasatu.com, Selasa (12/2).

Namun begitu ditambahkan Budi, apresiasi juga diberikan kepada Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo yang juga menghormati apa yang di cetuskan Gusdur 20 tahun lalu.

Dilanjutkan Budi, untuk tema Perayaan Imlek Tingkat Nasional ke 20 tahun 2019 ini adalah, Penimbunan kekayaan akan menimbulkan perpecahan diantara rakyat, tersebamya kekayaan akan menyatukan rakyat.

Mereka oleh masih melihat tingginya jumlah penduduk yang masih di bawah garis kemiskinan. Secara persentasi, menurut data BPS September 2018 masih 9,66 persen dari populasi. Ini artinya ada 25 jutaan yang hjdup dengan penghasilan Rp 470.000 per bulan/per kapita. Ini jelas persoalan serius dan bukan persoalan yang ringan dan mudah diatasi. Oleh sebab itu mereka mengimbau kepada umat Khonghucu di Indonesia untuk saling berbagi dan membantu umat lainnya di Indonesia.

"Dengan tema ini, kami berharap semua umat khonghucu atau umat agama lainnya untuk lebih peduli dan saling bantu-membantu. Budaya gotong-royong harus digalakkan kembali, tentu dengan variasi disana-sini. Para tokoh agama sebagai pimpinan informal, wajib membantu penyelesaian masalah ini dalam ani tidak jemu-jemunya untuk selalu mengingatkan masyarakat," tambah Budi.



CLOSE