Bupati Nagekeo Ajak Aparat Desa Perangi Perjudian

Bupati Nagekeo Ajak Aparat Desa Perangi Perjudian
Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do. ( Foto: Suara Pembaruan / Yoseph Kelen )
Yoseph A Kelen / HA Selasa, 12 Februari 2019 | 13:05 WIB

Nagekeo, Beritasatu.com - Banyak permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), salah satunya adalah perjudian, yang bahkan melibatkan aparatur pemerintahan di tingkat desa.

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do mengungkapkan dari 19 kepala desa yang dia lantik, 15 di antaranya hobi berjudi.

"Saya ingatkan bahwa judi membuat orang lupa waktu, setiap orang harus menyadari bahwa waktu itu sangat berharga, menjadi sumber daya yang tidak terulang lagi," kata Don Boosco dalam acara pelantikan Kepala Desa Labolewa Marselinus Ladho dan Kepala Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa Dominggus Biu, Senin (11/2).

"Hal ini merupakan penyakit sosial dan saya mengajak orang muda dan seluruh masyarakat, untuk secara bersama-sama kita lawan perjudian, kepada kepala desa untuk berhenti dan membebaskan diri dari hal yang tidak terpuji itu."

Secara khusus bupati juga memuji para mantan kepala desa yang bekerja dengan segala keterbatasan namun dengan dedikasi yang tinggi untuk membangun Desa Labolewa dan Desa Aeramo.

Don Bosco mengingatkan bahwa meskipun para aparat itu bekerja di wilayah pedesaan, tetapi banyak kegiatan dan juga proyek yang berskala nasional seperti pemilu legislatif, pemilihan presiden, dan proyek nasional strategis yaitu pembangunan waduk di desa Labolewa.

"Daerah ini menjadi incaran banyak orang, sehingga harus kerja ekstra keras, kerja sungguh-sungguh. Kepada kedua Kades diharapkan terus menghitung hari demi hari dalam masa jabatan ini, harus bertanya pada diri sendiri, apa yang harus saya kerjakan untuk kesejahteraan masyarakat," kata Don Bosco.

Kerja keras diperlukan karena di Labolewa tercatat masih ada 170 keluarga miskin, 124 rumah tidak layak huni, dan 60 rumah yang belum memiliki jamban. Selain itu ada 69 keluarga yang terkena dampak relokasi pembangunan waduk.

Dana pembangunan untuk Desa Labolewa tercatat Rp 1,9 miliar.

Smentara itu untuk Desa Aeramo masih ada 211 keluarga miskin, 146 rumah tidak layak huni, 55 rumah tanpa jamban, dengan alokasi dana tahun 2019 sebesar Rp 1,6 miliar.