Menpar Canangkan Program “Selat Sunda Aman”

Menpar Canangkan Program “Selat Sunda Aman”
Menteri Pariwisata Arief Yahya (dua dari kiri) didampingi Bupati Pandeglang Irna Narulita saat memberikan hadiah kepada pemenang lomba mancing tradisional di Mutiara Carita Cottages, Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Selasa (12/2/2019). ( Foto: suarapembaruan / Yuliantino Situmorang )
Yuliantino Situmorang / YS Selasa, 12 Februari 2019 | 15:54 WIB

Carita, Beritasatu.com - Menteri Pariwisata Arief Yahya mencanangkan “Selat Sunda Aman” untuk membangkitkan pariwisata di kawasan Pandeglang dan sekitarnya yang dihantam tsunami pada 22 Desember 2018.

Pencanangan itu dilakukan di Mutiara Carita Cottages, Pantai Carita, Pandeglang, Banten, Selasa (12/2/2019) siang.

“Saya akan sekali sebulan datang ke sini, melihat perkembangan pariwisata di sini pascatsunami. Kami sudah siapkan 50 event, termasuk local event untuk mengangkat kembali pariwisata di Pandeglang,” ujar Arief saat berdialog dengan masyarakat dan pelaku industri pariwisata di Pandeglang.

Hadir pada kesempatan itu Bupati Pandeglang Irna Narulita, pemilik Mutiara Carita Cottages yang juga salah satu penggagas "Selat Sunda Aman" Boedi Mranata, tokoh masyarakat setempat, serta ribuan warga Pandeglang.

Sejumlah kegiatan digelar seperti lomba mancing tradisional yang diikuti 200 warga setempat, lomba perahu hias nelayan, atraksi seni jaipong dan pencak silat, marching band, dan sejumlah kegiatan lainnya. Acara itu juga diramaikan ratusan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi Banten yang sehari sebelumnya menggelar jambore di lokasi yang sama.

Arief menjelaskan, kegiatan massif yang dilakukan akan berdampak sangat besar. Ia juga akan berupaya berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menurunkan status darurat Gunung Anak Krakatau ke status normal agar bisa menumbuhkan kembali minat wisatawan datang ke Pandeglang.

“Status darurat untuk daerah yang menjadi destinasi wisata, sangat tidak baik, seperti Bali, Lombok, dan ketiga Selat Sunda ini. Padahal, di sini tsunami sudah selesai,” kata Menpar.

Ia mengatakan, sebelum tsunami, rata-rata okupansi hotel di Pandeglang sekitar 50-60 persen. Kini, hampir dua bulan setelah tsunami, okupansinya tidak sampai 10 persen. Sedihnya, kata dia, seperti di kawasan Anyer yang tidak terkena tsunami, tetapi ternyata mendapat dampak besar. Banyak pembatalan pesanan kamar. Banyak karyawan hotel dan restoran dirumahkan. Ada banyak yang harus mengurangi jam kerja karyawan hingga 50 persen.

Bupati Pandeglang Irna Narulita menyambut baik semangat optimisme yang disampaikan Menteri Pariwisata. “Saya mengajak semua pihak, PHRI, Pokdarwis, HPI, harus bangkit, Banten sudah aman,” kata dia.

Ia merasa terbantu sekali dengan dukungan status aman yang sudah dicanangkan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Tetapi memang, meskipun sudah mendapat status aman, namun tidak bisa pulih 100 persen. Industri pariwisata masih kesulitan dalam membangun, bahkan membayar tagihan dan sebagainya. “Kami berharap ada bantuan untuk para pelaku usaha yang sekarang masih lesu, setidaknya bisa melobi Telkom, PLN, agar para pelaku usaha diberi insentif dalam enam bulan ke depan,” tutur Irna.

Boedi Mranata menjelaskan, kegiatan itu merupakan inisiatif bersama para industri pariwisata di Pandeglang.

“Selama ini industri perhotelan dan restoran saling tunggu. Begitu ada sinyal, pasti yang lain juga ikut bangkit. Kami tidak ingin berdiam diri, tetapi menunjukkan bahwa kami mulai bangkit. Selat Sunda sudah aman untuk dikunjungi,” ujar Boedi kepada Beritasatu di sela-sela acara.

Ia menjelaskan, dampak tsunami pada 22 Desember 2018 itu sangat besar bagi industri pariwisata dan perekonomian masyarakat Pandeglang dan sekitarnya.

“Dampaknya cukup negatif. Daerah-daerah di sini menjadi sepi, dalam satu hari belum tentu ada satu atau dua tamu hotel. Ini terjadi mulai dari Tanjung Lesung sampai Anyer. Kawasan Anyer yang tidak kena tsunami juga terkena dampaknya, hotel-hotel di sana juga ikut sepi,” tutur Boedi.

Ia menambahkan, banyak hotel tutup dan pegawainya diliburkan. Belum lagi usaha-usaha pendukung lainnya, mereka juga banyak yang tutup. Banyak warga yang mengadu dan menangis, mereka tidak lagi memiliki penghasilan, tidak ada uang untuk menyekolahkan anak.

Jika kondisi ini berlarut-larut, perekonomian masyarakat setempat akan semakin parah.

“Ada dua jalan yang diambil, kita bisa memberhentikan operasional beberapa bulan sehingga pulih kembali, walaupun tidak tahu sampai kapan, atau kita nyatakan, kami mulai bangkit,” tutur Boedi.