KSM Anggrek Binaan Kaltim Nitrate Indonesia Hasilkan Sarjana Kebidanan

KSM Anggrek Binaan Kaltim Nitrate Indonesia Hasilkan Sarjana Kebidanan
Salah satu perajin tas binaan PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) Hartono saat menghadiri wisuda sang anak di Poltekkes Kementerian Kesehatan yang berada di kota Samarinda, Kalimantan Timur. ( Foto: dok )
/ YUD Jumat, 12 Juli 2019 | 21:09 WIB

Bontang, Beritasatu.com - Rasa peduli dari PT Kaltim Nitrate Indonesia (PT KNI) sebuah perusahaan yang memproduksi amonium nitrat bagi keperluan pembuatan pupuk maupun bahan peledak dalam memberdayakan masyarakat yang tinggal disekitar lokasi perusahaan dengan mendirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Anggrek semenjak tahun 2012 silam akhirnya berbuah manis dalam bidang pendidikan.

Bermodalkan tekad yang kuat, Hartono, salah satu pengrajin tas yang juga sekaligus sebagai Ketua KSM Anggrek terpanggil untuk memanfaatkan limbah karung pembungkus amonium nitrat yang sudah tidak terpakai sebagai bahan baku utama pembuat tas, akhirnya berhasil menguliahkan anaknya Neni Wahyuni sehingga berhasil meraih gelar sarjana kebidanan di Poltekkes Kementerian Kesehatan yang berada di kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Kesabaran dan keuletan Hartono dalam mengolah limbah plastik dan mendesainnya menjadi tas jinjing serta memasarkan sendiri hasil produksinya ke berbagai perusahaan dan instansi pemerintah menurut Goverment, Community Relation & GA Dept. Head. PT. Kaltim Nitrate Indonesia Rheza Zacharias K tidak sia-sia dan kini membuahkan hasil yang membanggakan di mana Neni Wahyuni kini berhak menyandang gelar S1.

Kedepannya PT KNI yang beroperasional di Guntung, Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur lanjut Rheza tetap concern memberdayakan masyarakat sekitar salah satunya adalah dengan memberdayakan KSM Anggrek melalui pendampingan yang selama ini dijalankan secara berkesinambungan.

Seperti diketahui sebelumnya bekas kemasan atau karung pembungkus dari amonium nitrat yang dihasilkan oleh PT KNI sebelumnya memang menjadi limbah plastik yang tidak bernilai ekonomis dan dapat merusak unsur hara dalam kandungan tanah.

Berawal dari program PNPM Mandiri pada tahun 2012 lalu yang dibiayai oleh PT KNI dari alokasi dana CSR-nya, perusahaan terus fokus bagaimana mengelola limbah plastik menjadi berbagai aneka produk yang bernilai ekonomis.

Dengan digelontorkannya sejumlah dana CSR, pengadaan sarana dan prasarana, pembentukan Kelompok Swadaya Mandiri (KSN) serta berbagai pelatihan lanjut Rahmat terus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan agar dapat mendaur ulang barang yang dirasa tidak bermanfaat menjadi souvenir dan tas kantong yang memiliki nilai jual.

Setelah melalui serangkaian proses yang panjang, pada tahun 2018 lalu, KSM Anggrek telah berhasil mengolah limbah plastik sebanyak 16 ton menjadi tas daur ulang dengan harga jual tas yang berkisar Rp 15.000 hingga Rp 20.000.

Dengan semakin banyaknya masyarakat yang turut berpartisipasi aktif dalam mengembangkan KSM Anggrek sekaligus menyelamatkan lingkungan sekitar dari sampah plastik, Rahmat berharap kedepannya akan lahir sarjana-sarjana baru seperti Neni Wahyuni. 



Sumber: BeritaSatu.com