Tahir: Perang Dagang AS-Tiongkok Akan Panjang

Tahir: Perang Dagang AS-Tiongkok Akan Panjang
Dato Sri Tahir saat menyampaikan disertasinya dalam ujian terbuka program doktoral Ilmu Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (30/8/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Primus Dorimulu )
Dwi Argo Santosa / DAS Jumat, 30 Agustus 2019 | 10:50 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Perang dagang yang selama ini mengemuka antara Amerika dan Tiongkok akan berlangsung lama. Tidak selesai hanya dalam 2-3 tahun. Perang ini tidak hanya akan melibatkan bidang perdagangan melainkan juga militer dan teknologi.

Hal itu diungkapkan pengusaha Dato Sri Tahir saat menyampaikan disertasinya dalam ujian terbuka program doktoral Ilmu  Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (30/8/2019). Disertasi Tahir berjudul “Studi Ekonomi Kelembagaan dan kepemimpinan: Studi Kasus Kebijakan Penyelamatan Perbankan pada Saat Krisis moneter 1997/1998.”

Perkembangan terakhir menyangkut perseteruan AS-Tiongkok adalah adanya kemungkinan pertemuan antara presiden AS Donald Trump dengan PM Tiongkok Xi Jinping. Juru Bicara Menteri Perdagangan Tiongkok Gao Feng mengatakan kedua belah pihak tengah berdiskusi terkait kunjungan negosiator Tiongkok ke AS, bulan September. Meski demikian, waktu pasti belum ditentukan dan jadwal belum diagendakan.

Menurut Dato Sri Tahir, perang dagang AS-Tiongkok bukan sekadar krisis antara dua orang yakni Trump dan Xi Jinping melainkan pertarungan dua kebijakan (policy) negara. Partai Demokrat dan Republik sudah sepakat menganggap Tiongkok adalah junta. Amerika akan menghantam Tiongkok dalam perdagangan, militer, dan teknologi.

Dato Sri Tahir menambahkan, kebijakan terkait Tiongkok bukan sekadar untuk kepentingan popularitas atau keterpilihan Trump. “Jika ada yang menganggap ini sebagai untuk kepentingan election Donald Trump, itu salah,” katanya.

Para petani Amerika, kata Tahir, terkena dampak dari kebijakan perang dagang namun mereka sepakat bahwa mereka harus menghantam Tiongkok. “Ini masalahnya. Mereka (petani) menyatakan untuk sementara ini rugi, tetapi untuk melawan Tiongkok adalah itu mereka sama dalam policy,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com