ESDM Kaji Penyesuaian Tarif Listrik 2020

ESDM Kaji Penyesuaian Tarif Listrik 2020
Ilustrasi jaringan listrik. ( Foto: Antara )
Rangga Prakoso / JAS Selasa, 19 November 2019 | 20:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah masih melakukan kajian mengenai pemberlakukan penyesuaian tarif (tariff adjusment) bagi pelanggan listrik nonsubsidi. Rencana penyesuaian tarif tersebut mulai diterapkan pada awal 2020 mendatang.

Dengan skema penyesuaian tarif maka terjadi fluktuasi yang mengacu pada komponen nilai tukar rupiah (kurs), harga minyak mentah Indonesia (ICP), inflasi, dan harga batu bara. Namun pemerintah juga memiliki pertimbangan lain dalam menetapkan tarif listrik yakni menjaga daya beli masyarakat serta daya saing industri.

Penyesuaian arif sebenarnya sudah diterapkan sejak 2015 silam. Namun dalam dua tahun terakhir pemerintah tidak memberlakukan hal itu. Dengan begitu tarif listrik tidak mengalami penyesuaian sejak 2017 kemarin. Pemerintah telah menetapkan tarif listrik untuk semua golongan pelanggan subsidi dan nonsubsidi tidak mengalami perubahan hingga akhir 2019.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengatakan kajian yang dilakukan mengenai periode pemberlakuan penyesuaian tarif. Pasalnya penyesuaian tarif pada 2015 silam diberlakukan setiap tiga bulan. Paramater yang menjadi acuan pada pergerakan kurs, ICP, inflasi, dan harga batu bara dalam tiga bulan terakhir. Untuk Januari 2020 misalnya, maka merujuk pada data di Oktober-Desember 2019.

"Namanya dikaji kan. Kalau hitung-hitungannya per bulannya iya, per tiga bulan per enam bulan. Atau berapa persen setiap naiknya, itu yang lagi dikaji. Baru nanti dilaporkan ke pak Menteri (ESDM)," kata Rida di Jakarta, Selasa (19/11).

Rida menuturkan kajian lainnya mengenai pemberlakukan kenaikan tarif. Artiannya apakah dilakukan secara bertahap atau sekaligus. Dia menyebut sejumlah skenario sedang disiapkan dan akan dipresentasikan kepada Menteri ESDM.

Namun dia menegaskan awal 2020 mendatang belum tentu tarif listrik mengalami penyesuian. Meski harga batu bara terus melemah sepanjang 2019 ini.

"Enggak sekadar angkanya, nanti kan ujung-ujungnya enggak sekadar ke masalah periode ini saja. Harus mempertimbangkan juga daya beli masyarakat, daya saing industri. Industri misalkan lagi kaya stagnan terus listriknya malah dinaikin kan mungkin kurang elok. Kan kita harus dilihat," ujarnya.

Penyesuaian tarif yang diberlakukan pada 2020 mendatang berbeda dengan di 2015 silam. Formula tarif di 2015 itu tidak memasukkan komponen harga batu bara. Sedangkan di formula teranyar menempatkan batu bara menjadi acuan perhitungan tarif.

Harga batu bara dimasukkan ke dalam perhitungan penyesuaian tarif lantaran komposisi pembangkit listrik tenaga uap semakin meningkat hingga 50 persen. Sedangkan porsi pembangkit listrik tenaga diesel semakin menurun atau tersisa sekitar 5 persen. Meski pembangkit diesel menurun, ICP tetap masuk dalam formula penyesuaian tarif karena harga gas merujuk ICP tersebut.

Lebih lanjut Rida menegaskan penyesuaian tarif tidak berlaku bagi pelanggan listrik yang mendapat subsidi yakni daya 450 volt ampere (VA) dan 900 VA kurang mampu.

Sementara pelanggan 900 VA rumah tangga mampu (RTM) berdasarkan keputusan dengan Dewan Perwakilan Rakyat tidak mengikuti skema penyesuaian tarif. Meski dalam Peraturan Menteri ESDM No.19 Tahun 2019 tentang Tarif Tenaga Listrik Yang Disediakan Oleh PT PLN (persero), disebutkan pelanggan 900 VA RTM masuk dalam golongan penyesuaian tarif.

"Tapi untuk tahun 2020 kita dengan DPR sepakat itu tidak termasuk golongan yang penyesuaian tarif. Bahwa itu naik apa nggak ya itu yang lagi dikaji," ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com