Hashim Djojohadikusumo Resmikan Pusat Suaka Orangutan

Hashim Djojohadikusumo Resmikan Pusat Suaka Orangutan
Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) Hashim Djojohadikusumo (kanan) meninjau Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari saat peresmian di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Senin (2/12/2019). PSO Arsari adalah tempat suaka bagi Orangutan yang sudah tua atau bertahun-tahun berada di dalam kandang karena dipelihara manusia secara tidak legal, disita dari perdagangan satwa ilegal sejak bayi, alasan kesehatan, dan kondisi lain yang tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan ke alam. ( Foto: ANTARA FOTO / Yulius Satria Wijaya )
Yeremia Sukoyo / JAS Selasa, 3 Desember 2019 | 17:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Hashim S Djojohadikusumo meresmikan Pusat Suaka Orangutan (PSO) Arsari di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Peresmian PSO sekaligus untuk memastikan upaya perlindungan dan kelestarian orangutan di Indonesia.

"Didirikannya PSO Arsari ini adalah untuk menjawab kebutuhan suaka bagi orangutan yang sudah tua dan bertahun-tahun berada dalam kandang karena dipelihara manusia secara tidak legal, disita dari perdagangan satwa ilegal sejak bayi, alasan kesehatan, dan kondisi lain yang tidak memungkinkan dilepasliarkan ke alam," kata Hashim, dalam keterangannya, Selasa (3/12/2019) di Jakarta.

PSO Arsari sendiri dirintis sejak tahun 2016 dan dikukuhkan dalam perjanjian kerja sama antara Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Timur pada 15 Maret 2019.

Tidak hanya menyelamatkan populasi orangutan dari kepunahan, Hashim juga berharap dengan adanya PSO Arsari, orangutan yang berhasil diselamatkan hidup bebas tanpa harus dirantai dan disiksa oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dijelaskan, salah satu di antara orangutan yang berhasil diselamatkan dan menghuni PSO Arsari bernama Bento. Bento yang berjenis kelamin jantan berhasil diselamatkan dari peliharaan ilegal di sebuah rumah di Manado pada tanggal 8 September 2005.

Selain Bento, ada orangutan lainnya yang diberi nama Iskandar. Iskandar diselamatkan ketika masih bayi dari perdagangan ilegal untuk diselundupkan ke Filipina pada 30 Oktober 2004. Keduanya saat ini menghuni kandang karantina di PSO Arsari yang berada di area HGB PT ITCI di Kelurahan Maridan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Bento dan Iskandar ditranslokasi oleh Balai (KSDA) Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur bersama YAD dengan dukungan Yayasan Masarang melalui Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki yang akhirnya bisa memulangkan mereka kembali ke Kalimantan pada 3 Oktober 2019.

Selanjutnya orangutan itu akan dipersiapkan untuk dipindahkan ke pulau yang akan dimanfaatkan sebagai suaka (sanctuary) khusus bagi orangutan.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan penghargaan kepada Hashim Djojohadikusumo sebagai Pejuang Pelestari Satwa Liar atas dorongannya membangun pusat penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar kebanggaan Indonesia. Penghargaan dianugerahkan di Jakarta pada 22 Oktober 2019 lalu.



Sumber: Suara Pembaruan