Asian Games 2018 Harus Bebas Doping

Asian Games 2018 Harus Bebas Doping
Ilustrasi doping. ( Foto: Istimewa )
Hendro D Situmorang / JAS Minggu, 22 Oktober 2017 | 18:25 WIB

Jakarta - Bertindak sebagai tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia harus memerangi dan bebas dari penggunaan obat doping di kalangan atlet. Meski belum sedahsyat di luar negeri, indikasi olahraga Indonesia mulai dihantui penyalahgunaan obat perangsang itu semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Ketua Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI), Zaini Kadhafi Saragih mengatakan masalah doping menjadi momok utama bagi setiap atlet yang terlibat dalam berbagai perhelatan baik di tingkat nasional maupun internasional, pasalnya dampak yang dirasakan mampu menghancurkan perjalanan karier atlet itu sendiri ke depan.

"Kami mendapat pelimpahan tugas dari Panpel Asian Games (Inasgoc) untuk menciptakan kondisi bebas doping. Tentu saja kami membutuhkan dukungan berbagai pihak termasuk pers untuk menyosialisasikan program kami," ujar Zaini di Jakarta, Minggu (22/10).

Penasihat LADI, James Tangkudung menegaskan dengan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, mendorong LADI untuk bersama Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) menyamakan tekad memerangi doping khususnya bagi para atlet Indonesia.

”Memang tugas LADI dalam jangka pendek ini bagaimana memperisiapkan atlet kita agar bebas dari doping di Asian Games 2018 nanti. Selain itu LADI punya tangung jawab besar agar Asian Games 2018 ini bebas dari doping. Memang tak mudah namun LADI harus punya keinginan kuat untuk itu,” tandas mantan Deputi Bidang Pembinaan Prestasi Kempora ini.

Sementara untuk program jangka panjang, LADI harus bercermin dari event Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat, di mana sekitar 22 atlet yang terlibat dan terbukti menggunakan doping, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

“Atlet memiliki tujuan untuk mengejar prestasi, dalam posisi itulah seorang atlet terjebak baik secara sadar maupun tidak sadar, sehingga menggunakan doping. LADI tentunya sangat menyayangi kondisi itu, dan itu perlu menjadi perhatian secara luas dan pengetahuan dari atlet sendiri,” tutur James.

Ia berharap kondisi ini perlu perhatian dari induk cabor di Indonesia untuk bisa memberikan perhatian lebih kepada atlet yang dipersiapkan menghadapi perhelatan kejuaraan di tingkat nasional maupun internasional, mulai dari pola konsumsi nutrisi sehari-hari, penganganan dokter terapi hingga pengetahuan secara medalam mengenai dampak doping.

“LADI sangat fokus dalam memberikan sosialisasi atlet terkait dampak doping, sehingga atlet bisa mengetahui secara jelas, khususnya unsur-unsur yang dilarang untuk dikonsumsi. Karena banyak atlet tidak menyadari bahwa mengonsumsi pengobatan tradisional terdapat unsur doping yang tidak disadari, dan di sisi lain peran dokter atlet juga menjadi faktor utama dalam memberikan informasi secara jelas tentang penggunaan atlet, sehingga atlet tidak menjadi korban,” tambah James.

Sementara itu KONI Pusat sangat mendukung LADI dan siap membantu dalam mensosialisasikan doping kepada atlet di Indonesia sehingga bisa mendapatkan pengetahuan secara luas, baik dalam bebrbagai seminar KONI Pusat maupun kegiatan lainnya.

“KONI Pusat dan LADI sangat perhatian terhadap doping di Indonesia, kita bersama-sama bekerja sama, bahkan dalam Rapat Kerja Konsultasi dan Koordinasi Nasional KONI yang akan diselenggarakan pada 30 Oktober nanti akan kita sampaikan dampak doping, KONI pun akan melakukan pelatihan diseluruh provinsi, melakukan peninjauan langsung dalam setiap event,” tutur Ketua Sport Science KONI Pusat, Lilik Sudarwati.

Rencananya untuk bisa memudahkan kerja LADI secara efektif, KONI Pusat akan mengajukan penetapan agar dalam setiap kejuaraan nasional yang melibatkan atlet terus melibatkan LADI, sehingga torehan prestasi atlet-atlet tersebut bisa menuai keabsahan secara tegas.

“KONI Pusat akan membahas penetapan peran LADI secara nyata dalam kejuaraan nasional, sehingga bisa membantu pencegahan doping sejak dini, dan atlet pun mendapatkan pengetahuan secara luas,” kata Lilik, mantan pebulutangkis nasional seangkatan denagn Susi Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani itu.



Sumber: Suara Pembaruan