Dualisme Kepengurusan PGI Akhirnya Terjadi Juga

Dualisme Kepengurusan PGI Akhirnya Terjadi Juga
Pendukung Muhdi PR, Max Sopacoa, berbicara kepada media setelah meninggalkan ruang munas PP PGI di Grand City Convention and Exhibition Surabaya, Kamis (29/11) ( Foto: Suara Pembaruan / Alexander Madji )
Hendro D Situmorang / AMA Kamis, 6 Desember 2018 | 12:04 WIB

Depok – Dualisme kepengurusan Persatuan Golf Indonesia (PGI) akhirnya terjadi juga, setelah kubu Muchdi Purwoprandjono mengklaim diri sebagai Ketua Umum PGI yang sah. Padahal, Muchdi Pr dan para pendukungnya keluar dari ruang sidang atau walk out saat musyawarah nasional (munas) di Surabaya 29 November 2018.

"Kepengurusan Murdaya Po hasil Munas 2014 lalu sebenarnya habis pada 23 Mei 2018 lalu. Namun karena ada acara multi-event Asian Games 2018, KONI Pusat pun mengeluarkan imbauan kepada PB cabor-cabor yang dipertandingkan agar menunda kegiatan munas hingga tiga bulan setelah event berakhir pada 2 September," kata Muchdi Pr di Emeralda Golf Club,Cimanggis Depok, Rabu (5/12).

Imbauan ini dijalankan PGI kepengurusan Murdaya Po. Namun, ini tidak dilakukan dalam mekanisme organisasi dengan mengadakan Munaslub yang beragendakan perpanjangan masa berlaku kepengurusan PB kepada seluruh anggotanya. PGI Murdaya Po tetap memperpanjang masa kepengurusan selama tiga bulan hingga digelarnya Munas pada 29 November.

“Padahal, menurut AD/ART PGI, kepengurusan itu tidak ada perpanjangan waktu. Kalaupun mau ada perpanjangan, adakan rapat pleno yang mengundang anggota-anggota PGI. Tapi ini tidak terjadi. Kalau ini tidak dilakukan, kepengurusan mereka masih sah tidak? Menurut kami, mereka sudah kadaluarsa. Dengan demikian, mereka tidak boleh melakukan apa pun, termasuk membentuk panitia (untuk Munas) pun sudah tidak boleh, apalagi sampai melaksanakan Munas,” jelas Rahim Hasibuan, Ketua tim hukum PGI Muchdi Pr.

Masalah legal formal inilah yang mereka dipersoalkan pada munas pekan lalu sebelum akhirnya melakukan aksi walk out dan menganggap munas yang tetap berlangsung dan kembali memilih Murdaya Po sebagai Ketu Umum PGI dinyatakan tidak sah.

“Di dalam AD/ART tidak ada kewenangan KONI yang berkaitan dengan kepengurusan PB. Saya bolak-balik bacanya, tidak ada itu,” tambah Rahim.

Karena itu, para peserta yang walk out membuat Munas sendiri yang memberikan kewenangan penuh kepada anggota-anggota munas untuk memilih ketua PGI. “Kami mengembalikan fungsi munas yang sesungguhnya. Munas itu adalah lembaga tertinggi untuk pengambilan keputusan, bukan ketua Munas,” kata Rahim.

Muchdi Pr pun terpilih secara aklamasi oleh peserta munas yang walk out dan menyatakan diri sebagai Ketua Umum PGI yang sah karena terpilih dalam munas yang sesuai dengan legal formalnya. Meskipun, munas yang mereka maksudkan itu hanya berlangsung di sebuah rumah makan di Grand City Convention and Exibition Surabaya.

“Saya siap mengemban amanah ini. Saya akan berusaha dengan menyiapkan fungsi pembinaan agar bisa berprestasi. Termasuk, yang terdekat pada SEA Games 2019 di Filipina, untuk selanjutnya ke tingkat Asia dan dunia,” jelas Muchdi.

Muchdi juga mengaku prihatin dengan hasil Asian Games 2018 yang gagal meraih satu medali pun dari 12 yang tersedia (4 emas, 4 perak dan 4 perunggu). Ini ironis mengingat Indonesia sebagai tuan rumah tapi di golf hanya mampu jadi penyelenggara yang baik. Apalagi, setelah tahu Filipina keluar sebagai juara umum dengan merebut dua emas dan satu perak.

"Saya prihatin dengan golf selama ini. Terutama pada Asian Games 2018. Bayangkan, dari 12 medali yang tersedia, Indonesia tidak kebagian apa-apa, bahkan, perunggu pun tidak padahal kita main di rumah sendiri. Namun, Indonesia tertinggal jauh dari Filipina. Okelah, jika pesaingnya Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang sudah level Asia. Nah, ini Filipina sesama Asia Tenggara yang lapangan golfnya hanya sedikit disana, dibandingkan di Indonesia yang jumlahnya hingga ratusan. Jadi memang tak ada aprestasi. Prestasi itu diukur dari medali yang diraih bukan peringkat yang bisa berubah-ubah setiap harinya," tutup dia.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE