Virtual Run Jadi Tren Baru Dunia Olahraga

Virtual Run Jadi Tren Baru Dunia Olahraga
Co-founder sekaligus CEO Cause, Enrico Hugo menjelaskan mengenai Run to Empower 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Hendro Situmorang )
Hendro D Situmorang / CAH Selasa, 12 Februari 2019 | 10:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dunia olahraga khususnya lari kini mengalami perkembangan baru. Ajang lari sebelumnya harus dilakukan bersama-sama di satu lokasi yang sama, maka sekarang ada yang namanya virtual run yakni peserta di seluruh Indonesia dapat turut berpartisipasi tanpa adanya batasan tempat maupun waktu karena lari tersebut dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun selama periode kegiatan itu berlangsung.

Lari virtual (virtual run) memang masih terdengar asing di telinga masyarakat. Namun awal 2019 kejuaraan lari yang bisa dilakukan dimana saja ini mulai digaungkan oleh Cause Virtual Run (CVR), sebuah organisasi penyelenggara olahraga yang ingin mempopulerkan lari virtual di Indonesia. Ini merupakan lomba lari yang mengandalkan pelacakan posisi GPS.

Co-founder sekaligus CEO Cause, Enrico Hugo mengatakan tren olahraga virtual run sudah dimulai selama sekitar 4 terakhir di beberapa negara di wilayah Asia Tenggara, terutama di Singapura. Pada 21 Januari hingga 3 Februari lalu, CVR bersama Yayasan Difabel Mandiri Indonesia menggelar kejuaraan lari virtual bertajuk Run to Empower 2019. Ada 450 peserta dari Sumatera hingga Papua yang mengikuti lari virtual ini.

“Kami berharap kegiatan tersebut dapat membawa dampak positif, sekaligus menjadikan virtual run sebagai salah satu tren gaya hidup sehat yang baru bagi masyarakat di Indonesia. Jadi, kita bisa sama-sama berlari walaupun tidak di waktu dan tempat yang sama,” ujar Enrico di Jakarta, Senin (11/2).

Uniknya peserta lari sendiri, di tempat tinggal masing-masing dan tak perlu datang ke lokasi tertentu. Bisa lari di mana saja, yang mereka suka namun harus mengaktifkan GPS. Usai lari, peserta lampirkan data jarak tempuh dan catatan waktu melalui aplikasi terkait dan terhubung dengan situs Cause.

Seperti tajuk kejuaraan, kegiatan ini juga bertujuan untuk menggalang donasi bagi penyandang disabilitas. Dana yang terkumpul digunakan untuk menghelat tiga workshop yang diselenggarakan pada 11, 13 dan 15 Februari dengan tema berdaya melalui kerja, bukan sekedar bisnis dan menjadi perusahaan inklusif.

Workshop ini ditujukan untuk pemberdayaan penyandang disabilitas agar mendapatkan pengetahuan kerja dan pembekalan keterampilan.Ada sekitar 25 perusahaan yang juga akan mengikuti workshop.

"Kami sudah mengumpulkan dana Rp 75 juta dari kegiatan Run to Empower 2019 ini. Donasi ini berasal dari uang pendaftaran dan ada pula bantuan dari sponsor untuk tiga workshop nanti. Pendaftaran 150 ribu, tapi ada juga yang memberi lebih. Peserta nantinya memakai aplikasi seperti Endomondo yang hasil larinya harus dikirim ke situs kami untuk diverifikasi," ujar Enrico.

Dia mengatakan pemenang pertama berasal dari Manado. Pemenang berhasil menempuh jarak terjauh 30,3 km.

"Lima besar mendapatkan hadiah earphone JBL, sedangkan semua peserta yang ikut dan mengirimkan hasil lari mereka mendapatkan medali sebagai tanda pernah mengikuti kejuaraan ini," dia menambahkan.

Enrico mengatakan pihaknya sejauh ini membuat kejuaraan lari virtual untuk charity atau amal. Namun ke depannya, dia tak menampik kemungkinan untuk kegiatan profit.

Run to Empower 2019 bertujuan pula untuk menggalang dana demi membantu para penyandang disabilitas. Hasil dari uang pendaftaran, digunakan untuk donasi demi menggelar seminar yang diperuntukkan kepada disabilitas terkait dunia kerja.

"Kami mendukung ajang ini karena visinya memberdayakan disabilitas. Selama ini, kami memang mendorong agar kaum disabilitas menjadi inspirator seperti atlet Indonesia di Asian Para Games 2018," jelas Arga Simanjuntak, Head of Communications Equity Life.



Sumber: Suara Pembaruan