Atlet Senam Terkendala Tempat Pelatnas dan Peralatan

Atlet Senam Terkendala Tempat Pelatnas dan Peralatan
Peralatan senam ritmik berupa bola, gada, dan pita yang digunakan pesenam saat berlatih untuk babak Final Individual semua alat (All Around) Senam ritmik Asian Games 2018 di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Jakarta, 28 Agustus 2018. ( Foto: INASGOC / Rakhmawaty La'lang )
Hendro D Situmorang / YUD Senin, 1 April 2019 | 08:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com Pengurus Besar Persatuan Senam Indonesia (PB Persani) menilai para atletnya masih terkendala tempat lokasi dan peralatan untuk mengelar pusat pelatihan nasional (pelatnas) untuk SEA Games 2019. Hal ini dikarenakan cabang olahraga senam (gymnastic) belum memiliki hall sendiri, setelah gedung senam yang sebelumnya ada di Gelora Bung Karno (GBK) tersebut dibongkar untuk kepentingan Asian Games 2018 lalu dan belum diberikan penggantinya.

Ketua Umum PB Persani terpilih periode 2019-2023, Ita Yuliati Irawan mengatakan pihaknya membidik 1 medali emas. Tapi seperti biasa, cabornya memiliki kendala tidak adanya wadah terpusat sendiri, sehingga saat ini masih desentralisasi di Riau, Jawa Timur, DKI dan Lampung.

"Kemungkinan menjelang SEA Games 2019 nanti kami akan menggunakan hall di Jakabaring, Palembang. Kami akan tinjau dulu ke Palembang, Sumsek dan melihat kemungkinannya apakah bisa atau tidak. Sementara untuk pendanaan sampai saat ini kami belum tandatangan MoU dengan Kempora, karena masalah angka yang belum sepakat," katanya ketika dihubungi SP, Senin (1/4/2019).

PB Persani mengajukan nilai Rp23 milyar dengan memasukkan program try out dan training camp SEA Games untuk 4 disiplin,
Woman Artistic Gymnastic (WAG), Man Artistic Gymnastic (MAG) ritmik dan aerobik. Selain itu juga memasukkan program pelatihan di Amerika Serikat untuk atlet andalan senam yakni Rifda dan Agus guna menuju Olimpiade 2020.

Untuk itu dukungan semua pemerhati gymnastic sangat dibutuhkan karena cabor olimpiade ini ada 14 jumlah pertandingannya. Bila diikuti tim putra dan putri sudah bisa berkontribusi 28 medali untuk ajang event nasional maupun internasional.

"Bila dukungan pemerintah besar untuk membenahi cabor ini, Indonesia bisa menjadi negara yang selalu berada di daftar papan atas perolehan medali di multieven internasional seperti Asian Games, SEA Games dan juga Olimpiade. Jadi, gymnastic itu induk olahraga. Sangat disayangkan kalau tidak diperhatikan. Saya juga mengingatkan perlunya sertifikasi dan pendanan bagi klub senam di Tanah Air agar Indobesia memiliki atlet, pelatih dan wasit yang memiliki kompetensi tinggi,” tegasnya.

Ketua Umum PB Persani demisioner, Ilya Avianti menilai dalam dua tahun kepengurusannya periode 2016-2018, kasih sayang pemerintah pada cabor senam masih minim. Peralatan senam yang mahal, tidak adanya gedung latihan dan minimnya dana pemerintah membuat rencana kerja baik di pusat maupun daerah pelaksanaannya tersendat.

“Peralatan senam sebanyak 4 set yang diperoleh pada hajatan Asian Games Agustus 2018 lalu sampai saat ini masih tertahan dan belum diperoleh karena vendor belum membayar pajak masuknya sekitar Rp 4 miliar,” ungkap dia akhir pekan lalu saat Rapat Anggota Nasional (RAN) dan Kongres Persani di Jakarta.

Ia pun berpesan pada pengurus dan ketua umum terpilih, Ita Yuliati Irawan agar segera membuat rencana kerja yang bisa jadi road map dan dilaksanakan di pemprov. Ilya juga mengharapkan pengurus baru memperbanyak kejuaraan berbayar karena dana pemerintah sangat minim untuk pengembangan olahraga di Tanah Air. 



Sumber: Suara Pembaruan