Lifter Muda Indonesia Pecahkan Rekor Dunia dan Asia di Pyongyang

Lifter Muda Indonesia Pecahkan Rekor Dunia dan Asia di Pyongyang
Ilustrasi angkat besi putri. ( Foto: ANTARA FOTO/INASGOC / Fanny Octavianus )
Hendro D Situmorang / AMA Rabu, 23 Oktober 2019 | 11:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lifter Muhammad Faathir yang masih berusia 16 tahun sukses menyabet tiga medali emas di kelas 61 kg pada Kejuraan Asian Youth & Junior 2019 di Pyongyang, Korea Utara, Selasa (22/10/2019).

Selain meraih medali emas, Faathir juga berhasil memecahkan dua rekor dunia dan tiga rekor Asia. Dua rekor dunia yang berhasil dipecahkannya di angkatan Clean& Jerk dari 149 kg menjadi 153 kg dan total angkatan dari 269 kg menjadi 272 kg (Donen Dogan). Tiga rekor Asia yang berhasil dipecahkannya yakni, total angkatan Snatch dari 118 kg menjadi 119 kg, Clean & Jerk dari 149 kg menjadi 153 kg, serta Total Angkatan dari 261 kg menjadi 272 kg.

Di kelas ini, Faathir berhasil mempersembahkan tiga medali emas untuk total angkatan yakni, emas untuk total angkatan Snatch (119 kg), angkatan Clean & Jerk (153 kg), dan total angkatan 272 kg.

Sementara lifter Putri, Windy Chantika Aisyah yang berusia 17 tahun, berhasil meraih satu medali emas dan dua perak di kelas 49 kg. Medali emas dipersembahkannya di total angkatan Snatch seberat 84 kg, sedangkan di angkatan Clean& Jerk(102 kg), dan Total Angkatan, ia hanya meraih perak.

Dalam kejuaraan ini, Windy juga berhasil memecahkan tiga rekor dunia dan rekor Asia. Rekor dunia yang berhasil dipecahkannya dari total angkatan Snatch 82 kg menjadi 84 kg, Clean & Jerk dari 100 kg menjadi 102 kg, serta total angkatan dari 182 kg menjadi 186 kg sekaligus juga memecahkan rekor Asia.

Cantik, sapaan akrab Windy Chantika, yang sebenarnya masuk dalam kategori youth sengaja tampil di kategori junior demi mendapatkan tambahan ruby point yang merupakan rumus peringkat dunia untuk mendapatkan kuota Olimpiade Tokyo 2020.

Lifter Indonesia lainnya yang tampil di kejuaraan itu, Rizky Juniansyah di kelas 67 kg meraih tiga medali perak dan Mohammad Yasin (67 kg) meraih satu medali perak dan satu perunggu.

Menurut Manajer Pelatnas, Sonny Kasiran dalam keterangan persnya dari Pyongyang, Korea Utara, keberhasilan para lifter junior ini merupakan modal awal bagi tetap berkesinambungan regenerasi di angkat besi. Selain itu, kejuaraan ini merupakan salah satu poin menuju Olimpiade Tokyo 2020.

"Kita sudah membuktikan bahwa di level usia bisa meraih prestasi tingkat Asia maupun dunia. Saya berharap agar setibanya di Tanah Air mereka tetap digembleng di Pelatnas dan tidak terputus. Jika terputus, dikhawatirkan mereka akan disusul oleh lawan dibawahnya dan untuk mengejarnya butuh waktu yang cukup lama. Biasanya ini yang selalu menjadi masalah di Indonesia," kata Sonny Kasiran Rabu (23/10/2019).

Dikatakan, selain program Pelatnas yang berkesinambungan, juga tentunya pasokan gizi yang cukup amat diperlukan agar prestasi para lifter muda "The Dream Team' Indonesia tetap terjaga.

Dalam kesempatan itu, Sonny Kasiran juga berterima kasih kepada Ketua Umum PB.PABBSI, Rosan Perkasa Roeslani dan Wakil Ketua Umum PB PABSI, Djoko Pramono, serta Duta Besar Indonesia untuk Korea Utara, Berlian Napitupulu atas dukungannya terhadap tim angkat besi Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan