KONI Akan Tegas Selesaikan Masalah Internal Cabor

KONI Akan Tegas Selesaikan Masalah Internal Cabor
Marciano Norman memberikan pernyataan usai terpilih menjadi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat periode 2019-2023. ( Foto: Suara Pembaruan/Hendro Situmorang )
Hendro D Situmorang / CAH Kamis, 12 Desember 2019 | 08:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat, Marciano Norman menyatakan siap secara tegas menyelesaikan masalah internal cabang olahraga yang berkepengurusan ganda (dualisme).

Hal itu dinilai sangat merugikan Indonesia karena cabor gulat dan tenis meja yang tidak bisa diberangkatkan karena masalah internal. Ditambah dengan timnas hoki lapangan yang dilarang tampil Federasi Hoki Asia (AHF) di SEA Games 2019 Filipina karena adanya dualisme asosiasi.

“Sebagai induk dari seluruh cabang olahraga yakni 64 cabor kami akan selesaikan masalah 3 cabang ini secepatnya dan harus selesai secara tegas. Saya berani bersikap tegas. Kami tak mau masalah ini berlarut-larut lagi karena jelas-jelas merugikan atlet dan bangsa Indonesia sendiri. Ini harus diluruskan dan menjadi prioritas utama saya untuk dituntaskan,” tegas Marciano ketika dihubungi SP, Kamis (12/12) pagi.

Menurutnya, pengurus cabor harusnya paham dan menyadari ketika akan mengikuti multievent, harus bersedia meninggalkan egonya masing-masing. Ini dikarenakan orientasinya sudah ke negara dan Merah Putih yang dibawa. Jangan lagi atlet-atlet terbaik Indonesia yang ingin berprestasi ke ajang internasional jadi terhambat, gara-gara urusan konflik pengurus cabor.

“Kami akan beri pemahaman bahwa dualisme bahkan tigalisme dalam organisasi olahraga itu sangat merugikan atlet dan bangsa Indonesia sendiri di multievent internasional. Kita cari jalan terbaik dan jangan karena satu-dua orang, semua dikorbankan. Jangan korbankan negara kita,” ungkap Marciano.

Diakui, KONI Pusat selama ini mendidik, melatih dan merawat cabang-cabang olahraga. Sementara ketika akan ada kejuaraan multievent pihak Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang memberangkatkan. Jadi KONI Pusat juga berkoordinasi dengan KOI sebagai NOC Indonesia.

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengakui beberapa nomor pertandingan yang tidak bisa diikuti oleh kontingan Indonesia seperti gulat, tenis meja, dan hoki jelas merugikan Indonesia. Menurutnya dari potensi itu, kira-kira ada 40 medali emas yang diperebutkan.

Absennya kontigen Indonesia pada beberapa cabang olahraga tertentu itu disebabkan adanya dualisme kepengurusan federasi, yang menyebabkan para atlet tidak diizinkan untuk bertanding pada SEA Games 2019.

"Seperti tenis meja ada tiga kepengurusannya. Saya sudah meminta kepada KONI dan KOI untuk membenahi. Peluang Indonesia lepas dan itu dimanfaatkan benar oleh Vietnam dan Thailand yang di akhir SEA Games berada di urutan kedua dan ketiga. Di situ mereka mendulang emas dan kita tidak bisa ikut karena masalah internal yang tidak bisa dibereskan sebelum SEA Games 2019. Maka KONI dan KOI harus secepatnya bereskan masalah internal supaya ke depan tidak terjadi lagi," ungkapnya.

Di sisi lain, Zainudin juga mengomentari penampilan para atlet junior yang juga ikut bersaing untuk merebut medali emas di Filipina. Dia mengatakan Indonesia memang ingin mempersiapkan para atlet muda melalui SEA Games tahun ini.

Jika ada yang kalah, ia meminta itu jangan dipikirkan lagi. “Kekalahan jangan dijadikan beban. Harus tetap semangat latihan. Tidak apa-apa kalah. Pengalaman bertanding penting untuk para junior. Atlet bagus tapi tidak ada pengalaman bertanding kan percuma,” tutup Zainudin. 



Sumber: Suara Pembaruan