Jadi Warisan UNESCO, Pencak Silat Perlu Dilestarikan

Jadi Warisan UNESCO, Pencak Silat Perlu Dilestarikan
Perkumpulan Betawi Kita menggelar diskusi publik yang bertajuk “Pencak Silat Betawi pasca penetapan Pencak Silat Indonesia sebagai WBTb Dunia oleh UNESCO” di Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / CAH Selasa, 28 Januari 2020 | 13:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) telahmenetapkan Pencak Silat sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Dunia dari Indonesia. Hal inilah yang membuat Perkumpulan Betawi semakin termotovasi untuk membuat seni bela diri pencak silat betawi kembali digemari oleh generasi muda Indonesia.

Ketua Perkumpulan Betawi Kita, Roni Adi berharap diskusi tentang pencak silat ini akan membuat seni bela diri pencak silat betawi kembali digemari oleh generasi muda Indonesia.

"Supaya main pukulan Betawi ini diminati oleh generasi selanjutnya, kemudian terpenting sebenarnya dalam WBtb itu kan bicara nilai-nilai dari silat Betawi yang perlu kita angkat filosofinya. Jadi bukan sekadar silat sebagai olahraga,” ujar Ketua Perkumpulan Betawi Kita, Roni Adi menggelar diskusi publik yang bertajuk “Pencak Silat Betawi pasca penetapan Pencak Silat Indonesia sebagai WBTb Dunia oleh UNESCO” di Jakarta, Senin (27/1/2020).

Roni Adi juga berharap dengan diskusi ini juga akan banyak lagi literatur tentang seni bela diri yang ditulis para pesilat Betawi sehingga memudahkan dalam mempelajari seni pencak silat Betawi.

“Tadi juga dipaparkan dari temen-temen narasumber tentang minimnya literatur silat betawi ini, nah mudah-mudahan dengan diskusi ini temen temen silat terdorong untuk membuat tulisan dia sendiri. Karena kalau peneliti yang nulis sendiri kan takutnya bias gitu kan. Tapi kalau pegiatnya sendiri yang nulis, dia akan bicara sejarahnya, nilainya dan Folklore (Cerita rakyat) itu bisa diangkat sama si pegiat silat itu sendiri,” tambah Roni.

“Kita dorong agar Pemprov DKI Jakarta membuat Focus group discussion (FGD) yang melibatkan para pesilat, pemerhati dan para akademisi,” tandasnya. 



Sumber: Suara Pembaruan