Berat, Wacana Laga IBL Tanpa Penonton

Berat, Wacana Laga IBL Tanpa Penonton
Tim basket Stapac Jakarta merayakan kemenangan seusai pertandingan kedua Final IBL Pertamax 2018-2019 di GOR Ctra, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/3/2019). Stapac Jakarta berhasil menjuarai IBL Pertamax 2018-2019 setelah mengalahkan Satria Muda Pertamina Jakarta pada final kedua dengan skor 74-56. ( Foto: ANTARA FOTO / M Agung Rajasa )
Hendro D Situmorang / CAH Minggu, 17 Mei 2020 | 15:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kompetisi Liga Bola Basket Indonesia (IBL) yang sempat tertunda sejak 13 Maret lalu, kini mulai diwacanakan akan kembali bergulir pada September mendatang. Namun hal itu sambil menunggu kondisi terkini dari pemerintah terkait masa tanggap darurat Covid-19 di Indonesia yang baru akan berakhir pada 29 Mei.

Direktur Utama Liga Bola Basket Indonesia (IBL) Junas Miradiarsyah mengatakan akan banyak konsekuensi yang dialami pihaknya jika kompetisi berlanjut tanpa penonton. Dirinya keberatan apabila harus melanjutkan pertandingan dengan opsi tidak adanya penonton.

"Opsi ini terlalu sulit untuk dilakukan di Indonesia karena akan berdampak besar pada sponsor, penyelenggara, dan klub. Kami sih mengerti, arahnya untuk menjaga keselamatan manusia. Hanya saja substansinya harus dibicarakan ke klub, sebab klub kan bermain untuk fans mereka," ujar Junas ketika dihubungi media akhir pekan lalu.

Baca JugaMenpora: Kompetisi Olahraga Belum Bisa Ditentukan

Diakui hal ini cukup berbeda denan kompetisi lainnya di luar negeri yang bisa dilanjutkan tanpa penonton karena manajemennya yang kuat dan stabil. Kalau di Indonesia, pihak sponsor juga harus tahu apakah berpengaruh signifikan untuk mereka hanya dengan siaran langsung saja.

Untuk kembali menggelar kompetisi juga, menurutnya diperlukan persiapan yang cukup, salah satunya soal mendatangkan pemain asing yang hampir 90 persen berasal dari Amerika Serikat. Pihaknya harus menyusun prosedur yang akan diterapkan nantinya.

Menpora Zainudin Amali sebelumnya menyampaikan bahwa Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memberikan saran apabila kompetisi ingin dilanjutkan maka harus ada protokol kesehatan ketat yang diterapkan, seperti menjalani rapid test dan swab bagi seluruh peserta.

"Kalau dengan skema tanpa penonton, kami harus diskusi dengan klub dan sponsor lagi karena banyak konsekuensinya bagi sponsor, penyelenggaraan, dan klub juga. Walaupun lanjutan kompetisi tanpa penonton ini sudah dijalani liga sepakbola di luar negeri dan Taiwan," ungkapnya.

Taiwan memang sudah kembali melanjutkan liga bisbol dan sepakbola mereka pada April lalu tanpa kehadiran penonton. Sebagai antisipasi, panitia membatasi jumlah peserta hingga 200 terdiri dari pemain, pelatih, wasit, pemandu sorak, dan jurnalis media lokal.

Selain IBL, sejumlah kompetisi profesional Indonesia lainnya seperti Liga 1, Liga 2, dan Proliga 2020 telah dihentikan sejak Maret lalu. Bahkan Persatuan Bola Boli Seluruh Indonesia (PBVSI) sudah memutuskan untuk menghentikan sisa pertandingan mereka.

Sementara itu, PSSI dan IBL masih belum bisa memutuskan nasib kelanjutan kompetisi. Bagi PSSI, Liga 1 dan 2 musim 2020 hanya akan dihentikan jika pemerintah Indonesia memperpanjang masa tanggap darurat virus corona yang saat ini ditetapkan sampai 29 Mei 2020. 



Sumber: BeritaSatu.com