Jojo Ungkap Awal Terjun ke Bulutangkis

Jojo Ungkap Awal Terjun ke Bulutangkis
Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie. (Foto: Badminton Indonesia)
Hendro D Situmorang / JAS Minggu, 14 Juni 2020 | 19:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pebulutangkis tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie mengaku awal mulanya terjun ke dunia olahraga tepok bulu yang membesarkan namanya dikenalkan oleh sang ayah sejak usia dini.

Pria yang akrab disapa Jojo itu menuturkan mulai bermain bulutangkis ketika menginjak enam tahun. Sejak itu pula, ia mulai serius menekuni olahraga tersebut, baik di dalam dan di luar sekolah.

Jonatan kecil makin serius bermain bulutangkis dengan berlatih di klub Taurus di Jakarta Timur. Latihan keras pun membuahkan hasil manis saat ia memenangi sejumlah turnamen yang diikuti.

"Kali pertama bermain bulu tangkis saat kelas 1 SD. Pada saat itu, setiap anak diwajibkan untuk memilih satu ekstrakurikuler. Ada bulutangkis, basket, dan sepakbola. Karena ayah saya tidak ingin kulit saya menjadi hitam, ia menyuruh saya untuk mengikuti ekstrakurikuler bulutangkis," ujarnya saat berbincang secara virtual bersama Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Zainudin Amali via Instagram akhir pekan lalu.

"Sejak saat itu, saya aktif ikut kejuaraan bulutangkis antar-sekolah dan selalu unggul. Akhirnya, orangtua saya mendaftarkan ke sebuah klub bulutangkis yaitu PB Tangkas,” jelas dia.

Di sinilah tugas baru Jonatan sebagai atlet dengan tanggung jawab penuh. Dia latihan pagi sore dan latihan dimulai pukul 04.00 WIB subuh hingga pukul 07.00 WIB. Kemudian latihan kembali pukul 15.00 WIB. Hal itu nyaris ia lakukan setiap hari. Hasilnya, Jonatan bisa menjadi juara setelah satu tahun berlatih di turnamen kecil.

"Jadi tertariknya karena juara itu dan ada hadiah uang juga. Saya berpikirnya enak ya, bisa buat jajan. Bangga karena bisa dapat duit," kata Jonatan.

Lima tahun berjalan, Jonatan pun terpilih mewakili klubnya di kejuaraan antara klub di DKI Jakarta. Dari situ lah, jenjang lain dari kariernya dimulai. Dia bertemu dengan Hendry Saputra, pelatih PB Tangkas yang juga pelatih tunggal putra di Pelatnas, Cipayung.

"Saat itu, Koh Hendry melihat saya, dan bilang lumayan. Saya pun dicoba di klubnya dan akhirnya bicara dengan papah. Akhirnya saya masuk klub tersebut. Itu klub besarnya," ujarnya.

"Setelah itu saya mengikuti banyak turnamen-turnamen nasional dan Sirkuit Nasional. Pada 2013, saya masuk pelatnas Cipayung dengan status pratama pada usia 15 tahun. Saat itu saya seangkatan dengan Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa. Senior-senior juga masih banyak ada mas Sonny Dwi Kuncoro,Simon Santoso, dan mas Tommy Sugiarto, jadi masih banyak," ungkap dia.

“Dari situ, saya mulai banyak memenangi kejuaraan regional dan nasional," ucap tunggal putra ranking 7 dunia itu.

Diakui popularitasnya mulai terangkat saat ikuti multievent di kejuaraan internasional seperti Asian Youth U-15 di Jepang. Lalu meraih gelar-gelar lainnya seperti juara di beregu putra SEA Games 2015, 2017, dan 2019.

Dia juga menjuarai Kejuaraan Asia Team pada 2016, 2018, dan terbaru tahun ini. Di level super series, atlet asal DKI Jakarta ini sukses mengantongi emas di Australia Open 2019 dan New Zealand 2019.

Namun ia pun pernah merasa dalam tekanan karena di-bully dan dikritik karena belum pernah meraih gelar juara di level turnamen super series maupun grand prix. Satu-satunya gelar yang ia peroleh saat SEA Games 2017 di Malaysia.

Jojo pun akhirnya mampu menjawab kritikan tersebut lewat prestasi saat di Asian Games 2018 dengan meraih medali emas tunggal putra untuk Merah Putih.

"Event Asian Games 2018 di Jakarta itu turnamen terberat saya. Pertama main di rumah sendiri dan tekanannya luar biasa beratnya," kata dia.

Alhasil, pebulutangkis 22 tahun itu menjadi salah atlet paling populer di media sosial. Ia memiliki 1,8 juta follower atau pengikut di akun Instagramnya. Jumlah itu mengungguli kepopuleran Kevin Sanjaya yang memiliki pengikut sebanyak 1,4 juta.

Selain dunia bulutangkis, Jojo pada kesempatan itu juga bercerita soal dunia usaha clothing atau pakaian yang sedang ia geluti.

"Jadi saya sempat berpikir bahwa kita tidak selamanya ada pada satu bidang. Contoh, saya tidak mungkin berada selamanya di bulutangkis. Saya harus punya rencana ke depan, mungkin salah satunya dari bisnis. Bisnis clothing itu bisnis yang mengacu pada usaha menciptakan sebuah brand fashion," ucap Jojo.

Diakui nama Satoe-Noesa yang menjadi merek dari bisnis clothing-nya sebagai nama perusahaan. Dengan nama tersebut ia ingin mengangkat tema Indonesia.

"Jadi kita ingin menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia punya suatu hal yang sangat luar biasa melalui kaus," jawab Jojo.

Pada akhir perbincangan, Zainudin Amali, meminta Jojo untuk memberikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

"Tetap ikuti aturan dari pemerintah untuk selalu jaga jarak dan pakai masker saat keluar rumah. Dan pastinya jaga kesehatan, tetap berolahraga dan jaga kebersihan. Untuk para atlet, tetap jaga kondisi. Sebagai seorang atlet, beberapa hari tidak beraktivitas atau latihan pasti langsung drop," jelasnya.

"Untuk itu, kita sebagai atlet harus tetap latihan walaupun tidak terlalu berat agar tetap terjaga staminanya,” tutup Jonatan Christie.



Sumber: BeritaSatu.com