Menjadi Ayah yang Lebih Baik

Opini: Himawan Hadirahardja

direktur

Sabtu, 17 November 2018 | 08:25 WIB

Hampir semua orang tahu kalau Hari Ibu diperingati setiap 22 Desember. Saat Hari Ibu, berjuta pesan positif untuk sang ibu mengalir dari segala sudut, lewat radio, televisi, dan tentu saja mewarnai lini masa media sosial kita. Namun, bagaimana dengan sang ayah, yang notabene adalah tulang punggung, sandaran, dan pelindung dalam sebuah rumah tangga?

Hari Senin 12 November lalu adalah Hari Ayah Nasional. Hari Ayah di Indonesia pertama kali dideklarasikan di Solo pada 2006, pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, Hari Ayah Nasional seolah berlalu begitu saja tanpa ada perayaan atau kegiatan yang berarti. Bergema di lini masa media sosial pun tidak.

Salah satu hasil Survei Indeks Nasional Pengasuhan Anak di Indonesia tahun 2015 oleh KPAI menyatakan bahwa peran ayah dibandingkan ibu, hanya sedikit lebih baik dalam hal mengetahui dampak teknologi informasi, pemenuhan nafkah, dan menguruskan akta kelahiran. Saat ini peringatan Hari Ayah sering hanya menempatkan ayah sebagai pahlawan ekonomi keluarga, tetapi dalam banyak hal peran ayah untuk tumbuh kembang anak justru kurang.

Mantan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Indonesia adalah negara peringkat ketiga di dunia yang anak-anaknya tidak merasakan kehadiran ayah atau bapak. Fenomena fatherless home (keluarga tanpa ayah) bukan hanya soal tidak adanya seorang ayah dalam sebuah keluarga, tetapi juga termasuk keluarga di mana ayahnya tidak berfungsi dengan optimal.

Di Amerika Serikat, Departemen Kehakiman telah mencatat dampak dari tidak berfungsinya ayah dalam sebuah keluarga, dan hasilnya cukup memprihatinkan. Sekita 63% dari kasus bunuh diri di kalangan pelajar, dilakukan oleh anak yang mengalami fatherless home. Lalu, 70% dari remaja yang dihukum penjara, ternyata berasal dari keluarga yang mengalami fatherless home. Sebanyak 85% pelaku kenakalan remaja, ternyata berasal dari keluarga yang mengalami fatherless home. Sekitar 90% anak jalanan ternyata berasal dari keluarga yang fatherless.

Data lembaga tersebut juga menyebutkan bahwa 80% pelaku pemerkosa ternyata berasal dari keluarga yang fatherless. Dan, 75% pengguna aktif narkoba, berasal dari keluarga yang fatherless.

Vital
Jadi, begitu vitalnya peran seorang ayah dalam keluarga, sehingga dapat kita bayangkan apa jadinya bangsa dan negara kita apabila calon pemimpin masa depannya dibesarkan dalam keluarga yang fatherless. Memang tidak mudah mendidik anak-anak di #zamanNOW, karena kita sebagai ayah tidak dapat terus-menerus bersama dengan mereka. Banyak hal yang dapat memengaruhi mereka, baik teman-teman, lingkungan, televisi, ataupun internet, yang belum tentu berdampak baik bagi pertumbuhan mereka. Anak-anak tidak memerlukan kita sebagai ayah yang sempurna, tetapi kita bisa menjadi ayah yang lebih baik.

Berikut ini beberapa saran agar anak-anak lebih memercayai kita sebagai ayah, sehingga mereka lebih mau mendengarkan nasihat dan arahan kita.

Pertama, jujur. Seorang ayah harus jujur mengakui kesalahannya kepada anak dan istrinya, demikian pula kepada orang lain. Buatlah suasana akrab di dalam keluarga, agar masing-masing mau mengakui perbuatannya yang salah dan meminta maaf, sehingga dapat dicarikan jalan keluarnya. Orangtua yang tidak rendah hati mengakui kesalahannya, memberikan teladan buruk kepada anak-anaknya, dan kelak juga akan menanggung akibatnya.

Sebaliknya, ayah yang memberi keteladanan dalam hal kejujuran, menanamkan bekal nilai yang sangat baik bagi anak-anaknya, sehingga kelak anak pun menjadi pribadi yang berintegritas dan dapat dipercaya di dunia kerja mereka.

Kedua, konsisten. Orangtua bersikap konsisten dalam memperlakukan anak. Hindari tindakan menganakemaskan anak yang satu, dan memojokkan anak yang lain, sehingga timbul persaingan tidak sehat di antara anak-anak itu. Anak yang dikalahkan akan merasa iri, dendam atau rendah diri, sedangkan anak yang dimenangkan akan bersikap sombong dan tidak mau mengalah.

Konsistensi juga berarti ayah sebagai pemimpin bersikap konsisten dalam menerapkan dan melakukan nilai dan aturan yang disepakati dalam keluarga. Apabila ayah tidak melakukannya dengan konsisten, maka sulit bagi anak untuk mengadopsi nilai dan aturan-aturan yang ada menjadi nilai dan gaya hidup bagai mereka.

Ketiga, keluarga sebagai prioritas. Kepentingan keluarga dan kepentingan bersama harus didahulukan, daripada kepentingan diri sendiri. Ketika Anda sebagai ayah lebih mengutamakan kepentingan keluarga daripada keinginan/kesukaan ego diri sendiri, maka Anda sedang menyatakan bahwa Anda mencintai keluarga Anda. Ingat: setiap waktu yang Anda berikan bagi keluarga adalah sebuah investasi yang sangat berharga. Perlakukan waktu bersama keluarga Anda sama pentingnya dengan pertemuan-pertemuan bisnis Anda.

Keempat, komunikasi. Komunikasi sangat penting di dalam sebuah keluarga dan harus dimulai sejak awal pernikahan. Anak-anak yang sejak kecil dididik untuk membina komunikasi yang baik dengan orangtua mereka, akan selalu merasa nyaman untuk mencurahkan isi hati kepada orangtua mereka, meskipun mereka sudah beranjak dewasa.

Untuk bisa berkomunikasi dengan baik, ayah yang bijaksana harus lebih banyak mendengarkan anak dan tidak cepat membuat kesimpulan sendiri yang akhirnya membuat anak menutup diri. Buatlah suasana yang terbuka dan bersahabat, dan hindarilah penggunaan kata-kata yang otoriter dan merasa benar sendiri. Sedapat mungkin, berbicaralah kepada anak dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti.

Ada pepatah yang mengatakan,“Masuklah kandang ayam dengan berkotek-kotek, dan masuklah kandang kambing dengan mengembik.” Kenali dunia anak-anak kita, bangunlah hubungan yang erat dengan anak-anak kita, maka mereka akan lebih mendengar suara dan nasihat kita ketimbang apa yang mereka pelajari dari internet dan sosial media.

Keempat pokok di atas saya percaya sangat membantu seorang ayah di dalam mendidik anak-anaknya, karena mereka memercayainya dengan sepenuh hati. Kita juga harus selalu melibatkan Tuhan Sang Pencipta di dalam mendidik anak-anak kita, karena anak-anak merupakan anugerah indah yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dipelihara dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang.

Memang menjadi ayah yang lebih baik tidaklah mudah. Namun, kita harus selalu berpikir positif dan optimistis dalam pengharapan kita kepada Tuhan, berada dan bertumbuh di komunitas ayah-ayah yang baik lainnya, melakukan tugas yang menjadi bagian kita dengan penuh tanggung jawab, dan percaya Tuhan pasti akan menolong kita melakukannya.

CLOSE