Skandal Cambridge Analytica dan Fenomena "Hyperbolitica"

Opini: Eko Sulistyo

Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden

Selasa, 27 November 2018 | 15:00 WIB

Jurgen Habermas pernah mengatakan konektivitas media sosial (medsos) akan mengganggu stabilitas penguasa otoriter, tapi juga akan mengikis kepercayaan publik pada demokrasi (The Economist, 4 November 2017). Ungkapan filsuf Jerman ini terbukti dengan terbongkarnya skandal Cambridge Analytica (CA), yang secara ilegal menggunakan data Facebook untuk mengarahkan dan memenangkan Pilpres Amerika Serikat (AS) pada 2016.

Facebook menjadi medsos yang strategis karena data penggunanya di dunia sampai Januari 2018 sekitar 2,17 miliar. Begitu akrabnya publik dunia dengan Facebook sehingga berbagai surat kabar membuat kesan agak bombastis. Koran Telegraph di Inggris menyatakan bahwa, “Facebook mengenal Anda lebih dari anggota keluarga sendiri.” New York Times menulis bahwa, “Facebook mengenal Anda lebih baik dari orang lain.”

Facebook mengumpulkan dan menganalisis riwayat penjelajahan medsos setiap pemegang akun. Semua informasi yang terkumpul seperti riwayat, status, grup, pertemanan, klik, suka, komentar, pencarian, lokasi, hingga pandangan politik, akan dicatat dan diketahui minat serta kecenderungannya. Melalui algoritma, informasi berharga ini bisa digunakan untuk memutuskan informasi yang muncul dan tidak muncul di beranda pemilik akun.

Skandal Cambridge Analytica
Apa yang dilakukan Facebook juga dilakukan layanan internet lainya; Google, Yahoo, Microsoft, dan Apple. Mulanya penggunaan data informasi yang diolah algoritma digunakan untuk mengenal kecenderungan dan minat penggunanya untuk keperluan iklan. Dengan cara itu perusahaan besar bisa mengetahui selera konsumen dan menampilkan iklan tiap produk di setiap akun sesuai dengan minatnya.

Sukses memahami minat konsumen, medsos juga digunakan untuk kompetisi politik. Melalui algoritma, informasi di medsos dan kecenderungan politik penggunanya dapat diarahkan dan diprediksi. Pascakemenangan Donald Trump 2016, halaman depan situs CA menampilkan kisah bagaimana mereka menggunakan pemasaran online untuk mempengaruhi pemilih. CA mengklaim, “tidak ada lagi ahli kecuali CA. Mereka adalah Tim Trump yang menemukan cara untuk menang.”

Namun, apa yang dilakukan CA ternyata berbuntut panjang. Pada Mei 2018, lembaga konsultan ini ditutup setelah New York Times dan The Guardian membongkar skandal mereka. New York Times memandang skandal CA sebagai salah satu kebocoran data terbesar dalam sejarah jaringan sosial. The Guardian menganggap skandal CA sebagai pelanggaran terbesar yang pernah terjadi pada raksasa teknologi dalam penggunaan program perangkat lunak, untuk memprediksi dan mempengaruhi pilihan di kotak suara.

CA adalah sebuah perusahaan konsultan politik yang sebagian sahamnya dimiliki miliuner Robert Mercer, yang dikenal berhaluan konservatif. Salah satu direksinya adalah Steve Bannon, Tim Pemenangan Trump, dan kemudian diangkat menjadi penasihat Presiden Trump (Joshua Green, 2017). CA menjadi populer sebagai konsultan karena menjadi Tim Sukses Trump dan konsultan pendukung referendum Inggris keluar dari Uni Eropa—Brexit.

Untuk mendapatkan data dari pengguna akun Facebook, sejak 2014 CA menggunakan aplikasi This Is Your Digital Life, sebuah rangkaian kuis atau tes kepribadian. Aplikasi ini awalnya dikembangkan Aleksandr Kogan, psikolog dan peneliti di Universitas Cambridge. Kogan adalah pendiri Global Science Research (GSR) untuk bekerja sama dengan Strategic Communication Laboratories (SCL). GSR juga menggunakan situs Crowdsourching online Mechanical Turk milik Amazon untuk mendapatkan pengguna berbayar yang dihubungkan ke akun Facebook mereka.

The Guardian mengonfirmasi kontrak pada 2014 antara SCL, afiliasi CA, untuk memanen dan pemrosesan data Facebook. CA menghabiskan hampir $ 1 juta untuk pengumpulan data, yang menghasilkan lebih dari 50 juta profil individu yang dapat dicocokkan dengan daftar pemilih. Hasil tes dan data Facebook ini digunakan untuk membangun algoritma yang dapat menganalisis profil Facebook dan menentukan ciri-ciri kepribadian terkait dengan perilaku memilih.

CA lalu membuat pendekatan psikologis untuk menyampaikan informasi tertentu, memengaruhi emosi dan minat. Jutaan data yang telah diolah algoritma dikonstruksi menjadi profil psikologis dari para pemilih. Berdasar profil ini, tim kreatif, desainer, videografer, dan fotografer, membuat konten yang akan dikirim ke calon pemilih lewat internet. CA juga membuat pemetaan dan model partisipasi pemilih, mencari dana, dan menentukan di mana kandidat akan memperoleh banyak dukungan.

Fenomena “Hyperbolytica”
Menurut investigasi The Guardian, CA menggunakan informasi pribadi yang diambil tanpa izin pada awal 2014 untuk membangun sistem yang dapat membantu pemilih AS, lantas menargetkan mereka dengan iklan politik yang dipersonalisasi. Menurut mantan konsultan CA, Christopher Wylie, CA telah mengeksploitasi Facebook untuk memanen jutaan profil orang.

Wylie juga menunjukkan bukti-bukti tentang penyalahgunaan data kepada unit kejahatan cyber, National Crime Agency. Data tersebut meliputi email, faktur, kontrak dan transfer bank yang mengungkapkan lebih dari 50 juta profil—sebagian besar pemilih AS yang terdaftar, termasuk surat dari pengacara Facebook pada Agustus 2016 yang memintanya untuk menghancurkan semua data yang telah dikumpulkan oleh GSR.

Pada April 2018, Facebook merilis ada sekitar 87 juta orang, kebanyakan dari AS dengan kebocoran data 70,6 juta penggunanya. Menurut Facebook, data milik lebih dari 1 juta pengguna medsos di Indonesia juga telah bocor ke CA. Kebocoran data pengguna Facebook termasuk Filipina, Inggris, Meksiko, Kanada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia.

Dalam kasus ini, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah meminta penjelasan kepada Facebook soal pengguna di Indonesia yang ditengarai telah disalahgunakan CA. Berdasarkan investigasi Facebook yang dilaporkan pada Kominfo, tidak ada akun dari Indonesia yang bocor terkait kasus CA. Kominfo juga telah berkoordinasi dengan perusahaan layanan medsos di Indonesia agar data akun tidak disalahgunakan untuk kepentingan pemilu.

Sejak 2018, Kominfo, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga telah membuat kerja sama dan Deklarasi Internet Indonesia Bebas Hoaks pada saat Pilkada 2018. Selain itu Kominfo telah memberikan kewenangan kepada Bawaslu untuk melaporkan akun-akun yang diduga penyebar hoaks dan konten negatif kepada platform terkait. Tujuannya agar medsos berperan menciptakan lingkungan kondusif bagi pemilih cerdas dan berkualitas.

Fenomena dan skandal CA, menurut David Sumpter (2018), penulis buku Outnumbered: From Facebook and Google to fake news and filter-bubbles-the algorithms that control our lives, menjadi kisah yang menakutkan. Namun profesor ahli matematika terapan dari University of Uppsala Swedia ini memandang, CA sebagai fenomena hiperbola—hyperbolytica. CA adalah kisah tentang perusahaan yang melebih-lebihkan apa yang dapat mereka lakukan dengan data.

CLOSE