Sawit dan Kemandirian Energi

Opini: Anang Noegroho

Direktur Pangan dan Pertanian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Rabu, 9 Januari 2019 | 11:48 WIB

Indonesia berjaya di perkebunan kelapa sawit dan industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Ekspor CPO Indonesia terbesar di dunia, hasil devisanya pun tertinggi mengalahkan migas dan berbagai komoditas ekspor lainnya.

Di dalam negeri, kebutuhan minyak nabati terpenuhi, tak perlu impor. Bahkan CPO bisa dijadikan bahan bakar minyak (BBM) nabati menggantikan BBM fosil yang kandungannya di perut bumi semakin menipis dan diperkirakan akan habis dalam 2-3 dekade mendatang.

BBM dari fosil juga mencemari lingkungan dan berbahaya untuk kesehatan, berbeda dengan minyak sawit yang sangat ramah lingkungan dan bisa terus diproduksi karena pohon kelapa sawit bisa terus ditanam (terbarukan/diperbarui). Dibandingkan dengan fosil, minyak sawit jelas lebih murah dan lebih mudah diproduksi alias lebih hemat dan efisien, terutama jika teknologinya terus dikembangkan.

Indonesia bahkan berpotensi menjadi produsen energi terbarukan berbahan baku sawit terbesar di dunia, sekaligus bisa mandiri dan mampu menjaga ketahanan energi di dalam negeri karena tidak lagi bergantung pada impor BBM. Kebutuhan energi listrik (PLN), transportasi, dan industri bisa dipenuhi dari minyak sawit. Selain itu, puluhan juta rakyat juga bisa ikut terlibat dalam perkebunan dan industri kelapa sawit yang berkelanjutan.

Upaya penting dan mendesak yang harus dilakukan antara lain menerapkan regulasi pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan atau Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai Permentan No 11/2015, dan ditindaklanjuti dengan penguatan kelembagaan hingga tingkat kabupaten basis produksi sawit utama. Didukung pula konsolidasi intensif kemitraan antara pekebun dan perusahaan dalam rangka transformasi mewujudkan Sertifikat ISPO. Penting pula mendorong akselerasi Sertifikat ISPO untuk pekebun dan perusahaan dengan target dan timeline yang terukur (ISPO baru mencapai 19,5% dari luasan tertanam).

Saat ini, luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 14,309 juta ha dengan produksi minyak sawit 41,667 juta ton. Perkebunan sawit milik negara luasnya hanya 713.121 ha (5%) dengan produksi 2,507 juta ton (6%), sedangkan perkebunan rakyat mencapai 5,807 juta ha (41%) dengan produksi 14,010 juta ton (34%), dan perkebunan swasta seluas 7,788 juta ha (54%) dengan produksi 25,148 juta ton (60%). Sementara nilai ekspor CPO mencapai Rp 240 triliun (tahun 2018).

Mengutip Palm Oil Analytics, pada 2016, Indonesia sudah di urutan pertama dunia dengan produksi CPO 34,520 juta ton. Urutan berikutnya adalah Malaysia dengan produksi 17,320 juta ton, jauh di bawahnya adalah Thailand (2,3 juta ton), kemudian Kolombia (1,28 juta ton), Nigeria (970.000 ton), Ekuador (560.000 ton), Honduras (545.000 ton), Papua Nugini (522.000 ton), Ghana (520.000 ton), dan Guatemala (515.000 ton).
Walaupun produksi dan ekspor meningkat, masih terdapat sejumlah masalah, antara lain konflik lahan dan lingkungan, kualitas tanaman dan buah sawit, kualitas produksi dan harga sawit, ekspor dan kampanye negatif sawit.

Dampak Mandatori
Pada pembukaan 14th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) di Bali, 29 Oktober 2018, Presiden Jokowi telah memberi arahan, yakni tata kelola perkebunan kelapa sawit harus semakin ramah lingkungan, percepatan peremajaan perkebunan sawit rakyat, pasar ekspor harus dikembangkan, melaksanakan hilirisasi industri sawit, dan implementasi program mandatori biodiesel B20 (bahan bakar hasil pencampuran 80% solar dengan 20% biodiesel berbahan dasar nabati/sawit).

Dampak kebijakan mandatori biodiesel (sejak Agustus 2015 sampai Oktober 2018), antara lain sebanyak 9,88 juta CO2 mengurangi greenhouse gas emissions (GHG), sebanyak 6,61 juta kiloliter penggunaan biodiesel dari sawit. Selain itu, Rp 2,43 triliun pajak dibayarkan kepada negara, dan US$ 2,77 miliar penghematan devisa negara.

Program mandatori biodiesel bertujuan meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan. Pelaksanaan mandatori biodiesel juga membantu menciptakan lapangan kerja di sektor industri dan perkebunan kelapa sawit. Kebijakan tersebut meningkatkan demand terhadap CPO, stabilitas harga CPO, dan meningkatkan kesejahteraan petani sawit.

Saat ini, kapasitas terpasang industri biodiesel di Indonesia mencapai 12.059.369 kiloliter (KL), sedangkan total investasi mencapai US$ 1.200.336.369. Di Kalimantan, kapasitas 1.262.356 KL, investasi US$ 91.987.951; Sulawesi, kapasitas 475.862 KL, investasi US$ 32.620.407; Sumatera, kapasitas 7.337.299 KL, investasi US$ 721.909.824; dan di Jawa, kapasitas 2.983.852 KL, investasi US$ 353.818.187.

Setelah menerapkan B20, pemerintah berencana mengembangkan bahan bakar biofuel 100% (B100) atau biasa disebut Green Diesel dan Ethanol 100% (E100). Produsen biodiesel dipastikan mampu memenuhi kebutuhan itu karena kapasitas terpasang saat ini belum seluruhnya terpakai.

Banyak negara sudah mengarah dan menerapkan minyak nabati (termasuk biodiesel) sebagai substitusi atau pengganti BBM dari fosil. Bagaimana dengan Indonesia? Presiden sangat mencermati masalah ini dan meminta semua pihak mengembangkan sawit ke arah substitusi BBM fosil. Sejumlah peraturan sudah dikeluarkan, anggaran disediakan, dan instansi terkait diperintahkan untuk mengimplementasikan.

BBM Hijau
Awal Desember 2018, Pertamina mulai mengolah CPO menjadi BBM hijau atau green fuel dan gas elpiji dengan model co-processing di Kilang Plaju, Sumatera Selatan. Pengolahan CPO dengan metode tersebut juga akan dilakukan di beberapa kilang Pertamina, yakni di Dumai, Cilacap, dan Balongan. Produksi bahan bakar ramah lingkungan ini diperkirakan lebih efisien sekitar US$ 160 juta atau Rp 2,3 triliun per tahun. Ini dapat mendukung pemerintah mengurangi penggunaan devisa karena impor minyak berkurang 7,36 ribu barel per hari (bph).

Pengolahan minyak sawit di Kilang Plaju berkapasitas 20 million barel steam per day (MBSD). Minyak sawit yang diolah di kilang tersebut telah dibersihkan lebih dulu getah dan baunya atau disebut refined bleached deodorized palm oil (RBDPO). RBDPO ini kemudian dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang sehingga menghasilkan bahan bakar mesin dengan kualitas lebih tinggi karena nilai oktan mengalami peningkatan.

Kilang Plaju mampu menghasilkan BBM nabati beroktan 90 yang lebih ramah lingkungan sebanyak 405.000 barel per bulan setara 64.500 kiloliter per bulan. Selain itu, kilang ini menghasilkan produksi elpiji ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan. Pengolahan minyak sawit tersebut juga membuat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) naik signifikan karena CPO-nya dari dalam negeri.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, tiga kilang Pertamina siap mengolah energi hijau dari CPO. Kilang Dumai akan memproduksi green diesel, Kilang Plaju akan menghasilkan green fuel, Kilang Balongan akan memproduksi green avtur. Saat ini, kilang-kilang Pertamina memang belum dapat mengolah CPO 100%, tapi pengolahan itu tetap menggunakan minyak mentah sehingga disebut co-processing. Idealnya memang membangun kilang baru, tapi terbentur dengan mahalnya investasi. Pada saatnya nanti pengolahan minyak sawit akan diterapkan 100%, artinya tak lagi dicampur bahan fosil.

Data tahun 2017 menunjukkan, Amerika Serikat memproduksi biodiesel terbesar, mencapai 6 miliar liter, disusul Brasil (4,3 miliar liter), kemudian Jeman (3,5 miliar liter), Argentina (3,3 miliar liter), Indonesia (2,5 miliar liter), Prancis (2,3 miliar liter), Thailand (1,4 miliar liter), Spanyol (1,3 miliar liter), China (1 miliar liter), Polandia (1 miliar liter), Kolombia (600 juta liter), Kanada (500 juta liter), Belanda (400 juta liter), dan India (200 juta liter).

Di Indonesia memang masih terdapat tantangan penerapan B20, antara lain masalah rantai distribusi, terutama keterbatasan armada kapal pengangkut biodiesel. Selain itu, peningkatan teknologi dan kualitas dari biodiesel, peningkatan kualitas SDM dan mutu produk, inovasi iptek serta pemanfaatan hasil inovasi tersebut, juga pengaruh perdagangan global.

Target 100% biofuel atau B100 berbahan baku sawit di Indonesia memang harus direalisasikan agar Indonesia bisa mandiri dan kuat ketahanan energinya. Target tersebut optimistis bisa tercapai dalam waktu tidak terlalu lama, karena kita memiliki lahan yang sangat luas, iklim yang mendukung, pusat pembibitan sawit terbaik, tenaga kerja yang cukup banyak, mempunyai pengalaman panjang, serta memiliki tenaga ahli dan teknologi yang mumpuni.

CLOSE