Visi Misi yang Berubah

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Rabu, 16 Januari 2019 | 17:00 WIB

Ada apa dengan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno? Mengapa mereka mengubah visi misi di saat yang terlambat? Beberapa hari yang lalu Tim Prabowo-Sandi mengubah visi misi mereka sendiri. Menurut beberapa juru bicara dari BPN Prabowo-Sandi, perubahan itu demi kesempurnaan.

Dahnil Anzar menyatakan hanya masalah teknis dan estetika. Alasannya biar mudah dibaca. Tapi perubahan itu ternyata menyebabkan penambahan halaman dari sebelumnya hanya 14 halaman menjadi 45 halaman.

Secara administratif, perubahan ini tidak bisa diterima oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Sebab, menurut Peraturan KPU, semua dokumen hanya bisa diserahkan pada masa pendaftaran. Jadi, secara de jure, perubahan itu tidak sah dan tidak bisa dijadikan rujukan oleh KPU untuk proses selanjutnya, semisal untuk bahan debat. Memang perubahan itu masih bisa disebar kepada publik, namun tetap saja ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima secara adminisitratif.

Tak Serius?
Perubahan visi misi dengan beberapa alasan yang dikemukakan oleh BPN Prabowo-Sandi menandakan beberapa hal. Pertama, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi tidak serius melakukan persiapan untuk menghadapi pemilu. Ketidaksempurnaan yang mereka kemukakan adalah bukti bahwa mereka sepertinya menyiapkan visi misi hanya sambil lalu. Padahal pilpres adalah hajatan yang menyangkut kepentingan seluruh masyarakat Indonesia. Nasib bangsa lima tahun ke depan ditentukan salah satunya oleh visi misi capres. Visi misi itu adalah gambaran rencana kerja pemimpin nasional. Jika tidak dipersiapkan dengan baik tentu akan berakibat sangat fatal nantinya.

Kedua, perubahan ini menggambarkan tingkat keseriusan pasangan calon dalam memikirkan kepentingan rakyat. Pemilu dan pilpres, sebagaimana yang disebutkan sendiri oleh Prabowo, adalah untuk memenangkan Indonesia, bukan hanya memenangkan pasangan calon. Terlewatnya kesempurnaan visi misi dapat diduga sebagai imbas dari terlalu fokusnya pasangan Prabowo-Sandi untuk memenangkan Pemilu, bukan memenangkan Indonesia.

Ketiga, jikapun mereka merasa telah serius dan mempersiapkan diri dengan baik, maka kemungkinan tim perumus visi misi dalam BPN Prabowo-Sandi tidak mempunyai cukup kemampuan untuk merumuskan visi misi yang baik. Visi misi bukanlah deretan retorika semata, tetapi harus dijabarkan dalam strategi-strategi yang mungkin dilaksanakan dan bisa diukur.

Deretan retorika hanyalah akan menjadi angan-angan. Sebab, pada kenyataannya, setiap kebijakan direncanakan dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan variabel-variabel riil yang ada di lapangan. Visi misi yang hanya sebatas pada pameran retorika tidak lebih dari janji-janji atau obrolan bebas di warung kopi. Semua orang punya kemampuan untuk membicarakan hal-hal yang ideal, tetapi hanya sedikit orang yang punya kemampuan untuk melaksanakan keinginan yang ideal itu.

Seorang calon presiden tentu harus punya kualifikasi dan kapasitas untuk menjabarkan strategi kebijakan dalam mencapai tujuan nasional. Terserah oleh siapa strategi itu dirumuskan atau dituliskan, tetapi ia harus menggambarkan gagasan kompleks dari pasangan presiden-wakil presiden. Tanpa kemampuan itu, dapat dipastikan bahwa nasib sebuah bangsa hanya akan menjadi pembicaraan sambil lalu oleh para elit.

Konten
Agak mengejutkan juga ketika kita membaca isi dari visi misi yang baru. Terus terang isinya makin mirip dengan visi misi pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin. Tidak heran jika kemudian beberapa pihak menduga bahwa ada sebagian dari visi misi Prabowo-Sandi yang diubah itu menjiplak visi misi Jokowi-Ma’ruf. Ini di satu sisi patut disyukuri karena menandakan bahwa visi misi Jokowi-Ma'ruf ternyata diapresiasi oleh Prabowo-Sandi. Namun di sisi lain, ini juga patut disesalkan karena kita kehilangan orisinalitas dan diferensiasi dari gagasan Prabowo-Sandi sendiri. Oleh karena itu, terkesan Prabowo-Sandi tidak siap dengan gagasannya sendiri.

Selain itu, gagasan dalam visi misi Prabowo-Sandi terlihat kacau dari segi paradigma dan sering tidak realistis. Dalam hal keuangan negara, misalnya, mereka tidak ingin menambah utang baru, tetapi juga tidak mau membebani rakyat dengan pajak. Dari mana uang pembangunan akan berasal? Mencetak uang baru? Jelas bukan jawaban realistis karena akan menurunkan nilai uang dengan drastis. Akibatnya akan seperti Venezuela dan Zimbabwe, uangnya menjadi tidak berharga. Mengeksploitasi sumberdaya alam? Tindakan ini tidak semudah yang dikatakan dan punya konsekuensi serius di bidang lain.

Kontradiksi lain dari visi misi baru Prabowo-Sandi juga bisa ditemui dari strategi penyelamatan lingkungan hidup. Di satu sisi, mereka ingin memperbaiki lingkungan hidup, tetapi di sisi lain mereka juga ingin membuat hutan menjadi hutan produksi yang artinya mengancam keanekaragaman hayati. Masih banyak lagi kontradiksi lain seperti sistem perpajakan dan kebijakan-kebijakan populis dan retorika semu lainnya.

Tidak realistisnya visi misi Prabowo-Sandi dapat dilihat hanya dari kontradiksi-kontradiksi itu. Lalu, hal itu ditambah dengan tidak adanya perhitungan matang terhadap konsekuensi-konsekuensi kebijakan dan tolak ukur kemungkinan penerapannya. Prabowo-Sandi hanya ingin nampak menyenangkan semua pihak, sesuatu yang sangat tidak mungkin dalam politik dan kebijakan publik.

Sesungguhnya semua kebijakan publik punya dampak negatif dan tidak mungkin memuaskan semua pihak. Dengan kata lain, janji yang menyatakan ingin menempuh kebijakan publik yang memuaskan dan baik buat semua, adalah janji yang tidak bisa dilaksanakan, bisa juga dikatakan sebagai sesuatu yang menyesatkan.

Kualitas pemimpin ditentukan oleh seberapa jauh ia memilih sebuah strategi dan program kebijakan dari pilihan-pilihan yang ada. Kadang kala pilihan-pilihan yang ada adalah pilihan yang sulit. Pemimpin sejati tidak takut menjadi tidak populer selama ia mengambil kebijakan yang memang diperlukan untuk dilaksanakan. Seorang yang ingin memuaskan dan menyenangkan semua orang seharusnya tidak menjadi pemimpin, karena pada akhirnya akan merugikan semua pihak.

Jadi, ternyata dalam visi misi yang katanya sudah disempurnakan itupun masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kita memang butuh pemimpin yang berani. Pemimpin yang mampu memilih dari ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan kebijakan. Pemimpin yang selalu ragu-ragu dan tidak percaya diri dengan gagasan-gagasannya bukanlah gambaran dari seorang pemimpin yang baik.

Idealnya, apa yang terjadi beberapa hari ini harus menjadi referensi bagi rakyat untuk memilih siapa pemimpin yang paling baik di tanggal 17 April nanti. Sayangnya Prabowo-Sandi untuk pemilu kali ini tidak menunjukkan bahwa mereka memang punya kapasitas yang dibutuhkan oleh rakyat. Positifnya, dari kejadian ini makin jelas bagi kita siapa pasangan yang memang layak untuk dipilih sebagai presiden-wakil presiden 2019-2024.