Dinamika Pilpres

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Rabu, 6 Februari 2019 | 17:00 WIB

Beberapa hari ini Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf) sebagai calon presiden dan wakil presiden pada pilpres mendatang mengeluarkan beberapa pernyataan yang dianggap sebagai serangan terhadap kubu penantang, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Yang sangat menjadi perhatian adalah perkataan Jokowi yang dianggap menuding kubu Prabowo menyewa konsultan asing. Beberapa pihak bahkan menyitir pernyataan Jokowi tentang adanya propaganda asing.

Pernyataan Jokowi tersebut memang bukan seperti kebiasaannya yang selalu menerima apapun tudingan dari lawan, meskipun tudingan itu bersifat fitnah ujaran kebencian dan hoax. Kali ini Jokowi sedikit melakukan lontaran pernyataan yang mungkin bagi sebagian orang menggelitik dan memberikan stimulasi.

Sebenarnya pernyataan Jokowi tersebut harus dimaknai dengan perspektif yang lebih dalam dan komprehensif. Pertama, Jokowi sama sekali bukan orang yang anti asing, bahkan dia selalu mengajak semua pihak untuk menjalin kolaborasi dengan mitra manapun untuk mencapai kemajuan bersama. Pernyataan ini bukan sekali dua kali di lontarkannya, tetapi sudah berkali-kali dalam forum internasional baik multilateral maupun bilateral.

Bukan hanya itu, sebagai presiden, Jokowi juga melakukan upaya nyata dalam menjalin kolaborasi baik dengan apa yang disebut sebagai Blok Barat, yaitu Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya, maupun dengan apa yang sering disebut sebagai Blok Timur, yaitu Tiongkok dan Rusia. Volume kerja sama ekonomi Indonesia dengan Tiongkok maupun Indonesia dengan Rusia tetap tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Begitu pula dengan nilai perdagangan Indonesia-Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, meskipun dalam berbagai isu dan gejolak ekonomi politik dunia tetap terjaga. Amerika Serikat tetap menjadi tujuan ekspor utama Indonesia di samping Tiongkok yang terus meningkat.

Indonesia juga memainkan peran politik penting untuk menjaga keseimbangan dua kekuatan itu. Indonesia terus melakukan upaya-upaya agar ketegangan Blok Barat dan Blok Timur tersebut mereda. Ini misalnya dibuktikan dengan kesediaan Indonesia untuk menjembatani pembicaraan antara Donald Trump dengan Kim Jong-un, meskipun akhirnya pembicaraan dilakukan di Singapura.

Indonesia juga terus menjembatani kekuatan Barat dan Timur di berbagai belahan dunia termasuk di kawasan Asia Pasifik terutama di Asia Tenggara sendiri. Jadi, pernyataan Jokowi yang beberapa hari lalu diungkapkan sama sekali bukan merupakan pertanda bahwa dia merupakan sosok yang anti asing.

Kedua, Jokowi juga sedang tidak mewakili kepentingan blok manapun untuk mengecam blok satunya lagi. Bagaimanapun prinsip yang dipegangnya adalah menjunjung tinggi semangat kolaborasi, maka tidak mungkin untuk berpihak kepada satu kekuatan ekonomi politik dunia tertentu, seraya menyerang kekuatan ekonomi politik dunia yang lain. Bagi Indonesia, terutama bagi Jokowi, dunia lebih membutuhkan kerja sama daripada persaingan yang didominasi oleh kemarahan dan prinsip zero sum conflict. Jadi pernyataan Jokowi yang dianggap menyinggung negara tertentu tidak lebih adalah peringatan ke dalam, bukan dimaksudkan menjadi peringatan keluar seperti yang dimaknai oleh banyak pihak selama ini.

Kompetisi Pilpres
Jokowi mengeluarkan pernyataan seperti itu tentu ada alasannya. Pertama, pernyataan seperti itu sebenarnya wajar jika dilihat dari posisinya sebagai capres untuk menghadapi pilpres mendatang. Selama ini capres nomor urut 01 itu terbilang sangat adem dalam menanggapi tudingan-tudingan lawan. Padahal berbagai tudingan pedas dialamatkan kepadanya.

Pernyataan yang agak kritis terhadap lawan yang dilontarkan beberapa hari lalu barangkali memang cukup mengejutkan bagi sebagian pihak. Padahal dengan pandangan yang lebih utuh itu, harus dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan biasa dalam iklim politik yang memang sedang kompetitif.

Kedua, isu tentang antek asing sebenarnya isu yang selama ini lebih sering ditujukan kepada Jokowi dalam kapasitasnya sebagai presiden. Bahkan Jokowi sering dituding antek Amerika Serikat, antek Tiongkok, dan sebagainya. Padahal kebijakan-kebijakan dan politik Jokowi selama empat tahun menjadi presiden sangat nasionalis. Ini bisa dibuktikan dari berbagai langkah ekonomi politiknya yang sangat strategis, seperti pengambilalihan Blok Rokan, Blok Mahakam, dan yang terbesar adalah pengambilalihan kepemilikan Freeport. Semua kebijakan itu selama ini tidak bisa dilakukan oleh presiden pendahulunya.

Selama ini isu nasionalisme hanya diungkapkan lewat jargon-jargon besar tapi tidak pernah ada yang berani melaksanakan secara penuh. Hanya Presiden Jokowi yang punya keberanian untuk mewujudkan jargon-jargon yang klasik di Indonesia tersebut. Jadi, tuduhan bahwa Jokowi merupakan antek asing sebenarnya adalah tuduhan yang membabi buta, tidak tepat, dan cenderung hanya ingin menyesatkan publik.

Setelah sekian lama bersabar tentu wajar jika Jokowi sedikit memberikan klarifikasi sekaligus memberikan peringatan agar seluruh pihak menjaga semangat kemandirian dan independensi Indonesia dari kekuatan asing manapun. Dalam perspektif kompetisi pilpres, ini wajar karena seolah diarahkan hanya Prabowo-Sandi sendiri yang mengusung ide-ide nasionalisme, baik dalam bidang politik, ekonomi, maupun budaya. Padahal, semangat itu juga menjadi landasan dasar dari visi misi Jokowi-Ma’ruf.

Dalam hal ini strategi turunannya yang berbeda. Prabowo-Sandi lebih menekankan isu nasionalisme yang protektif, sementara Jokowi-Ma’ruf mendorong ekonomi yang terbuka dan kolaboratif. Perbedaan ini memang cukup mendasar karena visi misi Prabowo-Sandi lebih berdasarkan retorika, sedangkan visi misi Jokowi-Ma'ruf berdasarkan perhitungan matang dari berbagai aspek.

Kembali kepada anggapan sebagian orang bahwa Jokowi sedang menyerang, sekali lagi itu adalah hal yang wajar dalam kontestasi pilpres. Tidak ada pertanda apapun dari hal tersebut kecuali memang sebuah kontrawacana biasa. Jika akhirnya kubu Prabowo-Sandi juga membalas kontrawacana itu dengan tudingan baru, asal ada argumen yang kuat, maka hal itu bisa diterima. Saling balas wacana adalah mekanisme yang harus dinikmati dalam momen elektoral seperti ini.

Kampanye Dinamis
Kita semua tentu berharap kontrawacana yang diusung oleh Jokowi bisa menghangatkan suasana kampanye pilpres sehingga menjadi lebih dinamis tanpa kehilangan kerangka etikanya. Beberapa hari yang lalu kita dengar bahwa banyak pihak mengeluhkan kalau pilpres kali ini terlalu adem sehingga wacana yang mencerdaskan rakyat tidak mengemuka. Apa yang dikemukakan oleh Jokowi dan Ma’ruf adalah upaya untuk memantik diskusi yang mengarah pada pendidikan politik rakyat tersebut.

Selama ini kita hanya berkutat pada tudingan tak berdasar, ujaran kebencian fitnah dan berita yang dipelintir sedemikian rupa sehingga substansi dari mekanisme demokrasi tidak muncul. Oleh karena itu pancingan untuk menuju hal-hal yang substantif perlu dilakukan.

Ke depan isu-isu seperti isu ekonomi, sosial, hubungan luar negeri, hukum, pertahanan dan keamanan akan makin banyak dimunculkan agar muatan-muatan yang kurang substantif bisa tergeser. Sekali lagi kita perlu memberikan apresiasi dan memberikan pemaknaan yang komprehensif dari apa yang dilontarkan oleh Jokowi dan Ma’ruf Amin selama ini. Saling balas argumen dan informasi yang akurat harus menjadi kebiasaan yang dimunculkan dalam momen demokrasi terutama pilpres.

CLOSE