Konvensi Rakyat Jokowi

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Rabu, 27 Februari 2019 | 17:00 WIB

Konvensi rakyat Jokowi - Ma'ruf Amin yang diadakan pada hari Minggu (24/2) yang lalu sukses besar. Ada dua indikator untuk mengukur kesuksesan tersebut. Yakni pesan yang disampaikan dan amplifikasi dari pesan tersebut kepada publik.

Jokowi berhasil menyampaikan bukan saja visi misi yang akan ia lakukan pada periode kedua pemerintahannya, tetapi juga memberikan sentuhan-sentuhan khas yang membuat pidatonya menjadi sangat berisi. Dampaknya, pesan yang disampaikan membekas dalam benak para hadirin maupun seluruh rakyat Indonesia. Dalam konvensi tersebut terlihat pula bahwa Jokowi makin matang sebagai seorang negarawan sekaligus pemimpin pemerintahan yang sedang menghadapi banyak sekali tantangan baik secara personal maupun profesional.

Sentuhan Personal
Pertama-tama kita akan melihat pidato Jokowi dalam konvensi rakyat tersebut dalam perspektif komunikasi publik. Jokowi tampil sebagai seorang orator dengan intonasi yang cukup jelas dan mengalir dengan baik. Pidato yang mengalir itu dipengaruhi oleh alur cerita yang menyangkut kehidupan Jokowi sendiri. Jadi ia bukan menyampaikan sesuatu yang artifisial seperti halnya politisi pada umumnya. Karena alur yang berdasarkan pengalaman pribadi itulah ia mendalami topik-topik dalam pidatonya tersebut.

Sentuhan personal itu bahkan bukan hanya menyentuh audiens, tetapi juga dirinya sendiri. Beberapa kali kita menyaksikan Jokowi mengusap air mata karena terharu. Pendalaman terhadap alur cerita dan pesan-pesan yang ingin ia sampaikan inilah yang membuat konvensi rakyat ini sangat berbeda dengan konvensi rakyat yang diadakan Prabowo Subianto.

Karena berangkat dari pengalaman pribadi, maka kita bisa menyaksikan Jokowi dalam bentuk yang paling otentik. Ia berhasil menyampaikan tema-tema yang memang dialami oleh rakyat. Ia menyampaikan pandangan sebagai seorang marjinal, seorang miskin yang harus menyambung hidup dengan berbagai cara untuk keluar dari keterbatasannya, keluarga menengah ke bawah yang tergusur, seorang yang dari keluarga kurang mampu yang berusaha menguatkan kehidupan mereka dan dengan motivasi dan optimisme. Karena benar-benar berasal dari titik nadir itulah, maka wajar jika kita selalu mendengar Jokowi menyebarkan optimisme kepada rakyat Indonesia.

Selanjutnya Jokowi juga menyampaikan dari sudut pandang seorang pekerja yang harus membanting tulang di tengah hutan. Seorang yang harus menghidupi keluarganya dengan segala macam upaya termasuk kondisi kerja yang tidak ideal. Topik ini sangat akrab bagi semua pekerja formal maupun informal di Indonesia bahkan hingga saat ini.

Selain itu ia juga menyampaikan pendapat dalam sudut pandang seorang warga negara yang menyaksikan keberagaman sebagai modal kekuatan bangsa. Ia mengalami sendiri bagaimana ia harus merantau ke daerah lain di tengah kondisi sosial politik yang tidak menentu. Tanpa adanya pengakuan terhadap keberagaman, mustahil bagi para perantau dan penduduk lokal untuk dapat berdampingan menikmati kedamaian sebagai modal untuk berkarya.

Kemudian ia juga menyampaikan dalam sudut pandang sebagai seorang pengusaha baru yang merintis usaha dengan berbagai kesulitan akibat regulasi, faktor birokrasi yang menyusahkan, dan berbagai perizinan yang bukan mempermudah tapi justru mempersulit. Pengalaman ini memberi pelajaran tak terhingga mengenai perlunya memberikan fasilitas yang baik bagi para pengusaha. Para pengusaha sebenarnya adalah pejuang ekonomi. Namun, peran mereka tidak akan maksimal tanpa ditunjang iklim usaha dan kemudahan dari negara.

Jokowi juga menyampaikan pengalamannya sebagai pemimpin daerah yang mulai membangun kotanya dari keadaan yang sama sekali tidak ideal. Solo pada saat ia baru mulai memimpin bukankah kota yang seperti kita saksikan saat ini. Pada waktu itu Solo semerawut dengan konflik-konflik perebutan ruang yang sangat intens. Solo waktu itu juga merupakan kota yang punya tingkat kesejahteraan rendah serta tata kota yang kurang baik. Jokowi mengubah keadaan itu dengan pendekatan-pendekatan kemanusiaan dan pendekatan budaya hingga kemudian ia dikenal sebagai pemimpin daerah yang sangat inovatif.

Pengalaman memimpin kedua menjadi gubernur DKI Jakarta. Ini adalah tantangan yang yang sangat sulit baik dari aspek politik maupun dari aspek administrasi. Jakarta punya kedudukan politik yang sangat strategis dalam konteks Indonesia. Naiknya Jokowi sebagai gubernur dari kota yang selama ini dianggap tidak cukup menonjol dalam politik nasional Indonesia mendapat resistensi yang luar biasa. Dari sinilah ia mulai mendapatkan serangan personal yang tajam. Tapi Jokowi seorang yang tangguh. Satu demi satu karyanya membungkam kritik-kritik yang dialamatkan kepadanya.

Ketika tiba kesempatan untuk menjadi seorang calon presiden, resistensi itu makin meningkat. Ia bukan saja mengubah paradigma perekrutan pemimpin nasional yang ada selama itu, tetapi juga menyengat benak publik dengan gagasan-gagasannya yang berbeda. Ia bukan berdarah biru secara politik, pun ia bukan dari militer atau pengusaha papan atas. Maka, wajar jika ia dianggap mengancam rekrutmen kepemimpinan yang berlaku selama ini. Fitnah satu demi satu dialamatkan kepadanya. Namun Jokowi memilih bersabar dan menjawab dengan karya-karya terbaik.

Pesan
Semua latar belakang sekali lagi membuat Jokowi berbeda. Semua latar belakang itu juga membuat pesan visi-misinya menjadi terang. Ia ingin menciptakan kesejahteraan rakyat dengan memberikan kesempatan semua orang untuk bisa berusaha dengan optimal. Untuk itu ia ingin menciptakan pemerintahan dan birokrasi yang mencerminkan semangat good and clean governance. Ia juga ingin meletakkan fondasi fisik dan nilai yang perlu bagi dasar kemajuan Indonesia.

Tentu saja tekadnya itu tidak mudah. Masa kepemimpinan pertamanya belum menghasilkan keadaan yang seindah yang diimpikan orang. Semua perlu proses yang tidak mudah karena permasalahan bangsa memang begitu kompleks. Yang jelas, kita melihat sekali perbedaan hasil yang dicapai empat setengah tahun terakhir dengan periode sebelumnya. Jokowi melakukan tindakan-tindakan yang kadang-kadang tidak semuanya mudah seperti mengurangi subsidi energi, mengalihkan anggaran pada sektor infrastruktur, membersihkan birokrasi, menegakkan hukum di berbagai sektor, melakukan akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan asing dan sebagainya.

Tekanan politik yang dialami sebagai konsekuensi dari tindakan-tindakan itu tidak ringan. Ia bukan saja menghadapi tentangan politik yang sangat keras di dalam negeri, termasuk berbagai stigmatisasi negatif. Diam-diam ia juga harus menghadapi tekanan dari luar negeri. Indonesia adalah negara yang sangat strategis dalam konteks ekonomi politik dunia. Maka pertarungan kepentingan negara-negara berpengaruh jelas sangat besar. Tidak mudah untuk tetap tegak dan bisa mengambil keuntungan di tengah konstelasi politik dunia yang sangat dinamis. Tapi, Jokowi memilih untuk terus maju. Ia terus mengatakan kepada publik bahwa ia tidak takut. Meskipun oposan berulang kali menghadirkan simbol-simbol tekanan baik yang merupakan simbol politik dalam negeri maupun simbol kekuatan internasional.

Kita berharap rakyat Indonesia tidak membiarkan Jokowi berjalan sendiri. Sudah sangat besar kerjanya untuk negeri ini. Satu periode lagi akan memberikan kesempatan baginya untuk membimbing kita makin dekat dengan kemajuan dan kesejahteraan.