Mimpi Indah Sang Korban Inses

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Senin, 4 Maret 2019 | 15:00 WIB

Hingga saat ini sikap masyarakat terhadap perilaku incest (inses) sudah cukup tegas, yakni tidak ada pembenaran sedikit pun bagi para pelaku perbuatan biadab tersebut. Apalagi saat korban inses masih berusia kanak-kanak, membayangkan betapa beratnya kehidupan yang akan dijalani oleh korban nantinya. Dibutuhkan perhatian penuh dan berkesinambungan yang patut dikerahkan kepada sang korban. Itu inti harapan saya saat bertemu dengan jajaran Muspida Kabupaten Pringsewu, Lampung, tempat gadis malang yang juga penyandang disabilitas ganda itu dievakuasi dari situasi inses yang telah membelitnya sejak sekian lama.

Inses merupakan malapetaka multidimensional. Inses menyakiti anak lahir dan batin. Inses juga memorak-porandakan nilai-nilai luhur keluarga. Dan akhirnya inses juga menghancurkan norma acuan moralitas yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Karena itulah, inses harus ditolak dengan tegas dan dilawan hingga ke akar-akarnya.

Selama ini Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) selalu mengampanyekan perlunya dibentuk semacam Satgas Perlindungan Anak hingga ke tingkat paling bawah, yaitu rukun tetangga atau desa. Unit semacam inilah yang kemudian ternyata cukup ampuh dalam menyelamatkan anak perempuan korban inses di Pringsewu tersebut belum lama ini. Satgas Perlindungan Anak semacam demikian di lembaga-lembaga RT/RW sudah sangat mendesak untuk dibentuk pula di berbagai kabupaten/kota guna mencegah semakin menjamurmya kejadian inses di berbagai tempat.

Kebiri Kimiawi
Mimpi buruk pasca terbongkarnya kasus inses kiranya belum berakhir seiring dengan diamankannya para pelaku oleh otoritas penegakan hukum. Studi menunjukkan, tidak sedikit pelaku inses diketahui sebelumnya juga memiliki riwayat melakukan kontak seksual terlarang, baik yang berupa inses maupun non-inses. Ini berarti sangat penting untuk ditelusuri kemungkinan adanya korban-korban lain.

Risiko pelaku inses untuk mengulangi kembali perbuatan inses-nya juga diketahui lebih tinggi dibandingkan dengan pelaku tanpa riwayat inses. Implikasinya, perlu pemantauan lebih ketat guna menekan risiko pelaku mengulangi perbuatannya, baik perbuatan non-inses maupun--apalagi--perbuatan inses.

Atas dasar itulah, rehabilitasi kebiri kimiawi bagi pelaku menjadi sesuatu yang sesungguhnya sangat beralasan. Semakin penting karena pelaku nantinya boleh jadi akan berumah tangga atau pun berkumpul kembali dengan keluarganya. Di kedua lingkungan itulah pengulangan inses menjadi semakin nyata kemungkinannya.

Pada titik kritis ini solusi terampuh adalah justru memisahkan pelaku inses dari keluarganya, terutama anggota keluarga yang sebelumnya pernah menjadi korban kejahatan insesnya. Dalam konteks inses orangtua (bisa ayah maupun ibu) dan anak, langkah keperdataan untuk memisahkan pelaku dan korban patut dilakukan secara lebih tegas dengan mencabut kuasa asuh orangtua atas anaknya tersebut. Langkah semacam itu dipastikan merupakan opsi terakhir yang dapat dibenarkan oleh hukum dan sepenuhnya dilakukan demi kepentingan terbaik bagi anak.

Hal lain yang juga penting mendapat perhatian ekstra, sebagaimana juga telah diwartakan oleh media, adalah korban yang diketahui menderita trauma hebat dan memiliki retardasi mental. Sekian banyak riset menyimpulkan bahwa kecerdasan memengaruhi daya tahan dan daya pulih orang-orang yang mengalami trauma hebat. Semakin baik kecerdasan individu yang bersangkutan, semakin baik pula kesiapannya dalam menghadapi dan mengatasi trauma.

Simpulan tersebut sebenarnya memberikan dasar bagi kekhawatiran bahwa gadis korban inses di Pringsewu itu akan sangat sulit pulih dari traumanya. Namun, patut dilacak, apakah kecerdasannya yang rendah itu disebabkan oleh faktor-faktor bawaan dan keturunan ataukah lebih disebabkan oleh terlalu minimnya stimulasi edukatif yang diterima sang gadis sejak dini.

Apabila kondisi retardasi mentalnya lebih disebabkan oleh faktor kedua, yakni faktor buruknya stimulasi lingkungan sosial, maka patut dilakukan perombakan besar-besaran terhadap lingkungan sang gadis pasca dievakuasi, sehingga menjadi lebih merangsang perkembangan kognitifnya, yang pada gilirannya justru akan semakin memperkokoh resiliensinya dalam menjalani masa kehidupan yang baru. Inilah sebetulnya mimpi-mimpi indah sang gadis korban inses di Pringsewu guna dapat meraih kehidupan yang lebih sehat dan benderang lagi di masa depan.

Dan tentu patut menjadi perhatian serius pemerintah, maupun kita semua para pemangku kepentingan perlindungan anak di seluruh Tanah Air.

Semoga.