Komunikasi Sosial di Era Industri 4.0

Opini: Ignasius Yoseph Silubun

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Abepura, Jayapura, Papua.

Sabtu, 9 Maret 2019 | 13:33 WIB

Saat ini kita telah memasuki revolusi industri generasi keempat atau era industri 4.0. Era revolusi industri ini ditandai dengan kemajuan yang sangat pesat. Komputer pun semakin canggih atau disebut juga superkomputer. Telepon genggam atau handphone berkembang menjadi smartphone.

Smartphone merupakan telepon genggam yang memiliki fitur canggih dan kemampuannya menyerupai komputer. Tak heran apabila banyak orang mengartikan smarphone sebagai komputer genggam yang memiliki fasilitas telepon. Fitur-fitur ada pada smartphone, antara lain telepon, SMS, internet, e-book viewer, aplikasi pengedit dokumen, serta game-game online dan offline.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang mengagumkan telah mengubah kehidupan manusia modern. Tak hanya mempermudah komunikasi antarmanusia di berbagai belahan Bumi, teknologi komunikasi dan informasi sangat menunjang berbagai pekerjaan kita. Meski demikian, ada persoalan lain yang muncul dalam kehidupan saat ini, yakni terciptanya pribadi-pribadi yang semakin individualis.

Pribadi yang individualis membawa dampak buruk dalam kehidupan bersama atau bermasyarakat. Efeknya sangat kompleks. Perkembangan teknologi smartphone yang menciptakan pribadi individualis berdampak pada komunikasi antarpersona atau kelompok. Kehadiran smartphone telah menimbulkan krisis komunikasi sosial, terutama pada generasi muda.

Pengertian Komunikasi
Komunikasi dalam bahasa Inggris disebut communication yang bersumber dari bahasa Latin communicatio. Akar kata tersebut adalah communis yang berarti “membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih”.

Menurut Carl Iver Hovland, komunikasi adalah “proses mengubah perilaku orang lain”. Everett M Rogers menyatakan komunikasi adalah penyaluran ide atau maksud dari sumber satu ke sumber yang lain dengan tujuan mengubah tingkah laku penerima ide. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan komunikasi sebagai "pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami".

Prinsip dasar komunikasi adalah mengarahkan seseorang atau kelompok demi memperoleh pemahaman yang sama dan mengembangkan kebersamaan. Komunikasi menjadi sangat penting dalam kehidupan bersama. Segala sesuatu perlu untuk dikomunikasikan agar maksud atau ide, gagasan dan informasi dari seseorang dapat dimengerti oleh orang lain.

Komunikasi tidak terbatas pada penyampaian secara verbal, tetapi bisa juga melalui karya seni, simbol-simbol, emosi yang terpancar dari seseorang. Hal penting dalam komunikasi adalah terciptanya perjumpaan atau pertemuan yang intens, baik antarpersona maupun kelompok atau pribadi dan kelompok. Suatu perjumpaan atau pertemuan yang intens dalam komunikasi sangat diperlukan agar seorang dapat sungguh-sungguh mengekspresikan diri dan emosinya. Hal ini menjadi penting agar pribadi dan kelompok akan semakin mengerti, mengenal, dan memahami maksud, serta menemukan tujuan dari komunikasi yang dilakukan.

Dampak Smartphone 
Kehidupan sehari-hari kita saat ini memperlihatkan adanya krisis komunikasi sosial. Mengapa penulis berani mengatakan hal ini? Pernyataan tersebut didasari sejumlah pengamatan dan pengalaman pribadi penulis, serta sharing dengan kaum muda dan juga orang tua yang prihatin terhadap perkembangan media sosial yang memanfaatkan smartphone.

Pada era industri 4.0 ini segala kemudahan diberikan. Kita dapat mengakses apa saja melalui smartphone. Salah satu penggunaan smartphone yang berdampak pada komunikasi sosial adalah segala jenis media sosial atau akun di dunia maya dan segala aplikasi (perangkat lunak yang didesain untuk mengerjakan tugas tertentu) yang memanjakan kita. Aplikasi yang sangat memanjakan kaum muda saat ini adalah aplikasi media sosial dan game.

Media sosial sendiri pada prinsipnya baik. Media sosial diciptakan agar komunikasi menjadi lebih mudah. Semua orang dapat terhubung di belahan dunia mana pun. Namun, pada kenyataannya, ide atau gagasan utama dalam menghadirkan media sosial malah berbalik.

Fenomena saat ini memperlihatkan banyak manusia yang lebih asyik dengan smartphone-nya atau akun di dunia maya daripada berinteraksi sosial di dunia nyata. Kaum muda nyaman dengan dunianya sendiri. Jari-jari menjadi dunia mereka. Artinya, banyak orang hanya terfokus pada smartphone. Mereka sibuk dengan segala sesuatu yang ada pada smartphone. Dengan jari-jari, setiap orang dapat mengakses apa saja dan menghibur dirinya dengan game-game terbaru.

Kita dapat menyaksikan ketika orang-orang mengadakan makan bersama, sekadar kumpul-kumpul, arisan keluarga, atau rekreasi bersama, sebagian besar dari mereka justru lebih sibuk dengan smartphone. Mereka berkumpul untuk makan bersama misalnya, tetapi asyik sendiri-sendiri, sehingga kebersamaan yang dimaksud tidak tercipta. Orang-orang yang berkumpul tidak menciptkan komunikasi yang intens atau setidak-tidaknya ada interaksi di antara mereka. Kebanyakan orang yang berkumpul malah lebih asyik berinteraksi dengan dunia maya daripada dunia nyata. Mereka lebih senang bermain game daripada berinteraksi dengan orang di sekitarnya.

Bisa terjadi ketika orang lain tertawa atau bersedih, individu yang asyik dengan smartphone akan bereaksi yang sama, yakni tertawa atau bersedih. Sayangnya, akan kelihatan dari ekspresi bahwa tertawa atau kesedihannya tidak tulus. Ia hanya ikut-ikutan tertawa atau bersedih, tetapi tidak tahu dalam konteks apa orang-orang di sekitarnya tertawa atau bersedih. Bahkan, bisa juga terjadi orang-orang di sekitarnya tertawa terbahak-bahak atau bersedih, ia sama sekali tak peduli.

Fenomena semacam itulah yang mengakibatkan terjadinya krisis komunikasi sosial, bahkan bisa menjadi antisosial. Antisosial berarti smartphone dan media sosial mengakibatkan pribadi-pribadi akan lebih aktif di dunia maya dibandingkan berinteraksi di dunia nyata. Ekstremnya, orang akan menganggap bahwa dunia maya adalah dunia nyatanya.

Kita dapat mengatasi krisis komunikasi sosial ini dengan cara berkomitmen menyediakan waktu lebih banyak untuk berinteraksi dengan dunia nyata. Kita dapat memulai dengan hal-hal sederhana, misalnya menyapa teman dengan senyuman yang tulus setiap pagi. Kita juga bisa sejenak tidak mengacuhkan smartphone ketika berkumpul dengan keluarga, sahabat, dan kenalan.

Kalaupun ingin tetap memanfaatkan smartphone, fasilitas video call (VC) bisa dipakai untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman yang tidak berada di lokasi yang sama. Penting bagi kita dalam kehidupan bersama untuk saling memberikan diri dalam bentuk komunikasi yang intens dengan orang-orang yang ada diri sekitar kita. Semoga kita dapat memanfaatkan smartphone demi kebaikan bersama.