Impian Indah tentang Bus Sekolah

Opini: Reza Indragiri Amriel

Penulis adalah Peserta Community Policing Development Program, Jepang

Selasa, 19 Maret 2019 | 20:00 WIB

Hore! Sebanyak seratus unit bus sekolah akan diberikan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di seluruh wilayah Indonesia. Bus gratis tersebut diharapkan bisa membantu mobilitas serta meningkatkan aspek belajar para siswa. Direncanakan, program pengadaan bus sekolah akan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya.

Sebelumnya Pemerintah Kota Bekasi juga meluncurkan program bus sekolah. Dengan program itu, Bekasi menyusul kota-kota lain, semisal, Kediri, Denpasar, dan Malang, yang juga mempunyai bus-bus khusus bagi para pelajar.

Sebagai warga yang amat bergantung pada keandalan transportasi publik, gembira hati saya bukan alang-kepalang menyimak berita tentang semakin banyaknya daerah yang terpanggil mengadakan sarana transportasi khusus bagi siswa. Siswa sudah pasti anak. Alhasil, pemaknaannya bisa diperluas, daerah yang menyediakan bus sekolah adalah satu pertanda bahwa daerah tersebut peduli, juga ramah, bahkan layak anak.

Terkenang oleh saya perjalanan hikayat tentang bus kota, termasuk bus sekolah, sebagaimana terlukis dalam sekian banyak nyanyian.

Dulu sekali ada Koes Plus. Kuartet itu, lewat lagu berjudul Bis Sekolah, berkisah tentang masih sangat jarangnya bus sekolah. Sampai badan penat, baru bus datang merapat. Terbayang risiko terlambat sampai di sekolah dan kena damprat oleh guru. Mungkin karena saking jarangnya, di klip videonya tidak sekali pun Koes Plus tampak naik bus sekolah. Yang ada justru Koes Plus naik mobil bak terbuka dan truk pemadam kebakaran. Biar begitu, kata Koes Plus, setelah bersua kekasih di dalam bus, hati pun seketika riang selalu.

Lagu yang sama diwariskan ke Chicha Koeswoyo. Klip videonya juga masih bisa ditonton di Youtube. Unik, di video itu Chicha berani-beraninya berangkat ke sekolah tanpa seragam. Padahal, di masa itu, seragam adalah harga mati bagi setiap anak sekolahan. Bagaimana pun, kesan sukacita terus mengemuka di video itu.

Masa berganti. Gambaran menyenangkan bus kota--tak terkecuali bus sekolah--yang didendangkan Koes Plus tahun 1964 berubah drastis, malah sempat identik dengan teror. Tawuran antarsiswa bisa memaksa seluruh penumpang berlompatan keluar demi menyelamatkan diri. Ada juga aksi siswa menyiram air keras ke tengah-tengah penumpang. Seorang kawan juga pernah dipalak pakai arit oleh anak-anak berseragam putih abu-abu. Lainnya, pelecehan seksual. Yang lumayan indah, siswa-siswi mencuri-curi waktu untuk bertukar cinta monyet sepulang sekolah.

Dua puluhan tahun silam, bus kota diasosiasikan dengan moda angkutannya kaum papa. Begitu kata Ahmad Albar. Situasi di dalam bus kota sangat kumuh, jauh dari nyaman, sehingga cuma orang yang tak punya yang memilih naik bus kota.

Gambaran sedemikian rupa jelas salah kaprah, karena berangkat dari asumsi bahwa kaum berkelas memakai kendaraan pribadi, sedangkan wong alit naik transportasi publik. Padahal, kendaraan umum justru diadakan untuk menarik pengguna kendaraan pribadi ke moda transportasi publik, termasuk bus kota. Begitu pula bus sekolah. Tujuannya adalah mengatasi kemacetan jalan raya.

Sejak Usia Belia
Negara semisal Korea Selatan, tahu persis pentingnya mengalihkan animo masyarakat ke kendaraan umum. Itu sebabnya, menyasar pemirsa sejak usia kanak-kanak, kampanye menggunakan bus kota atau bus sekolah dilakukan gencar lewat film Tayo. Mirip dengan anak-anak India yang, antara lain akibat kesemerawutan lalu lintas dan polusi parah di negeri Taj Mahal, disemangati untuk bersepeda oleh tokoh kartun bernama Shiva.

Di sini juga ada lho. Kak Seto, pegiat anak legendaris itu, pernah mencoba memikat hati anak-anak untuk berjalan kaki. Si Komo adalah sosok pemikat yang Kak Seto bidani kelahirannya. Tapi getir, alih-alih bikin lancar, si Komo malah bikin gara-gara sebagai biang macet saban kali ia lewat. Jelas, terkait tindak-tanduk si Komo itu, ada kekeliruan sejarah yang perlu dikoreksi besar-besaran oleh seluruh pemangku kepentingan pertransportasian. Ini senda gurau, tentunya.

Kembali ke urusan bus sekolah, saya belum melihat ada perhatian khusus terhadap ketersediaan bus sekolah sebagai indikator kota layak anak. Tentu, tidak setiap wilayah serta-merta membutuhkan bus sekolah. Bisa saja di suatu tempat yang lebih dibutuhkan adalah rakit, sehingga perlu disediakan rakit sekolah.

Semasa menjabat gubernur, Basuki Tjahaja Purnama meniadakan bus sekolah di wilayah DKI Jakarta. Alasannya, media mewartakan, bus sekolah tidak menguntungkan dari sisi bisnis. Persoalannya, berbeda dengan pengadaan bus kota untuk penumpang umum, bus sekolah mempunyai banyak nilai tambah yang lebih dari sekadar masalah untung rugi. Hasil bacaan saya dari sejumlah literatur memperlihatkan betapa keberadaan fasilitas bus sekolah bisa berkontribusi positif bagi pembangunan karakter siswa (anak). Misalnya, membiasakan siswa memiliki kebiasaan disiplin dan tepat waktu.

Faedah secara akademik juga ada. Demikian simpulan penelitian di Zagreb yang menemukan bahwa waktu perjalanan berkorelasi dengan prestasi belajar serta tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah. Menjadi penumpang rutin bus sekolah juga mendorong siswa bersosialisasi secara lebih luas dari hari ke hari, dan melatih siswa untuk bertanggung jawab atas barang pribadi dan properti publik.

Studi di Amerika Serikat menunjukkan, angka kecelakaan bus sekolah lebih rendah daripada kendaraan pribadi. Juga bisa dinalar, ketika bus sekolah berhasil menjadi moda transportasi andalan para pelajar (dan orangtua mereka), ini akan mengurangi sumber kemacetan dan polusi.

Sekian banyak manfaat bus sekolah itulah yang patut dipertimbangkan (kembali) oleh setiap pemerintah daerah sehubungan dengan penyediaan layanan bus khusus bagi para pelajar. Di dalam bus semacam itu, kepada para pelajar diperdengarkan musik-musik nasional dan atau pun dipertontonkan tayangan-tayangan singkat untuk menggugah hati mereka selaku insan harapan masa depan.

Allahu a’lam