Hasil Debat Cawapres

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Rabu, 20 Maret 2019 | 17:00 WIB

Penampilan KH Ma’ruf Amin pada debat cawapres membalikkan prediksi publik. Ma’ruf Amin berhasil menguraikan visi misi dan strategi pembangunan dengan runut, sistematis, dan sangat jelas. Pengetahuannya terhadap kebijakan benar-benar luar biasa. Dalam beberapa hal Ma’ruf Amin bahkan membuat Sandiaga Uno seperti out of date alias kelihatan lebih ketinggalan zaman dari Ma’ruf Amin sendiri.

Publik umumnya mempunyai rekaman tentang debat pertama pilpres. Pada debat itu, kubu 02 menganggap Ma’ruf Amin tidak begitu berperan. Memang pada debat pertama itu, Pak Kiai tidak banyak berbicara. Tercatat hanya pada satu sesi ia benar-benar mengutarakan pandangannya, yaitu pada saat mengomentari soal pemberantasan terorisme. Pada waktu itu, Pak Kiai kurang lebih mengatakan, “Terorisme ada dua, ada yang karena pemahaman agamanya salah dan ada yang karena faktor kesejahteraan. Untuk yang kedua tentu solusinya dengan peningkatan kesejahteraan. Tapi untuk yang pertama tentu harus dilakukan deradikalisasi dan pemberian pemahaman agama yang benar.” Meskipun hanya pada satu sesi itu Ma’ruf Amin benar-benar tampil, tapi itu sebenarnya cukup menunjukkan kualitasnya mengingat solusi yang ditawarkan Prabowo-Sandi cenderung tidak berdasarkan pengetahuan yang cukup tentang terorisme.

Meski demikian, tetap saja kubu 02 menyudutkan Ma’ruf Amin. Berbagai meme dan postingan di media sosial menempatkan Ma’ruf Amin seolah-olah hanya sebagai pelengkap dalam pilpres kali ini. Lupa mereka dengan perjalanan pendidikan dan karier Ma’ruf Amin yang cemerlang. Lupa juga mereka dulu sering merujuk pendapat Ma’ruf Amin dalam beberapa kasus.

Karena itu, seharusnya tidak ada yang terkejut dengan penampilan Pak Kiai pada debat cawapres, Minggu (17/3) lalu. Namun, pandangan yang sudah telanjur negatif dan menganggap enteng kepada Ma’ruf, membuat mereka kaget dengan penampilan minggu malam itu. Pak Kiai terlihat memahami benar masalah-masalah kesehatan dan sosial budaya, baik dalam konteks visi, strategi bahkan hingga teknis. Beberapa data teknis yang dirujuknya juga terbukti akurat. Ia, misalnya, bisa menunjukkan data stunting, data peserta BPJS dan data tenaga kerja asing.

Penampilan itu mengingatkan pada penampilan Jokowi dalam versi lain. Ma'ruf adalah Jokowi tapi bukan Jokowi. Artinya, cara berargumen pak Ma'ruf mirip dengan Jokowi, yaitu punya visi dan arah kebijakan yang jelas, disertai data dan atau informasi akurat serta selalu memaparkan solusi dengan berbasis pada data yang benar itu. Yang luar biasa adalah keselarasan pandangan Ma’ruf Amin dengan Jokowi. Artinya, Ma’ruf Amin tidak berjalan sendiri tanpa berpegangan pada visi misi yang telah mereka susun bersama. Ma’ruf benar-benar menerjemahkan visi misi itu dengan keselarasan yang sangat baik dengan apa yang diuraikan oleh Jokowi. Keduanya adalah dwitunggal yang sehati dan sepemikiran.

Meskipun selaras dan sepemikiran, Ma’ruf tetap mempunyai ciri khas seperti kefasihannya mengutip ayat-ayat Alquran dan hadits Nabi untuk memperkuat argumentasinya. Ini adalah nilai tambah dan sekaligus menunjukkan kapasitas beliau yang mampu memadukan nilai-nilai keagamaan dengan gagasan pemerintahan dan pembangunan yang baik.

Keselarasan ini sangat berbeda dengan pasangan Prabowo-Sandi yang terlihat terus berusaha mencari format keselarasan mereka. Prabowo sering punya pemikiran sendiri, demikian halnya dengan Sandi. Selain itu, pemikiran keduanya sering merupakan pemikiran dadakan daripada pemikiran yang sudah punya kerangka sebelumnya.

Sebenarnya Sandiaga sudah berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan debatnya. Pada debat pertama terlihat sekali kurangnya kapasitas Sandi yang sering tidak fokus dan sering tidak nyambung dengan pertanyaan. Istilah dalam meme yang ada di media sosial adalah: “ditanyanya apa jawabannya apa.”

Kekhasan Sandi pada debat pertama yang lain adalah kegemarannya mengulang-ulang kata-kata atau frasa-frasa yang sama. Apapun pertanyaannya, Sandi waktu itu selalu menjawab “peningkatan kesejahteraan.” Dari kedua kekhasan itu, publik menilai kekurangmampuan Sandi untuk menjadi pemimpin. Memang mungkin ia seorang pebisnis yang sukses, tapi untuk menjadi seorang pemimpin, tampaknya bukan itu tipe yang diinginkan masyarakat Indonesia.

Pada debat kali ini, Sandi sudah ada sedikit progress. Ia beberapa kali mencoba mengajukan data-data kuantitatif untuk memperkuat jawabannya. Untuk kali ini dia juga tidak mengutarakan jawaban yang sama untuk semua pertanyaan. Sudah ada variasi dan agak berkaitan dengan maksud pertanyaan.

Data
Meskipun demikian, tetap saja belum mencapai taraf yang diharapkan. Soal data, misalnya, Pak Kiai sedikit menyerang Sandi yang mengatakan bahwa terjadi arus tenaga kerja asing sehingga menyingkirkan tenaga kerja lokal. Pak Kiai pada saat itu bahkan sempat mengatakan, “kalau mengkritik itu pakai data.” Pak Kiai menjelaskan bahwa jumlah tenaga kerja asing di Indonesia hanya 0,01% dari seluruh tenaga kerja, atau paling rendah di dunia.

Sebenarnya sanggahan Ma’ruf Amin itu dalam perspektif relasi dengan seorang kiai adalah pernyataan yang keras. Mengingat beliau adalah seorang kiai yang punya kode etik kesopanan tertentu, maka sanggahan itu terdengar sangat halus. Namun, sebenarnya itu adalah bentuk kritik yang harusnya dimaknai sebagai teguran keras pada Sandi yang tidak berbicara berdasarkan informasi yang benar atau bisa dibilang ngawur.

Kritik sangat halus Pak Kiai lainnya kepada Sandi adalah ketika ia memaparkan gagasan-gagasan yang terlihat segar dan sangat muda. Pak Kiai sudah berpikir tentang cyber university sementara Sandi masih berbicara soal link and match. Pak Kiai sudah berbicara tentang penyederhanaan birokrasi, sementara Sandi tetap ingin struktur yang rumit. Pak Kiai sudah berbicara tentang kerangka-kerangka besar, tapi Sandi masih sibuk soal hal-hal teknis tanpa framework yang jelas.

Dalam hal OK OCE, misalnya, program ini lebih sering dibahas pada sisi teknis dan bukan pada kerangka besarnya. Tidak heran jika akhirnya program ini gagal di Jakarta. Ironisnya, OK OCE ini justru malah ingin dibawa ke tingkat nasional oleh Sandi.

Ketika kita menyimak pernyataan-pernyataan Sandi seolah-olah kita masih hidup di era 1990-an. Sandi tampak sangat tua, jauh lebih tua dari umurnya saat ini. Sebaliknya ketika kita menyimak apa yang dikatakan Ma’ruf Amin, kita benar-benar hidup di zaman ini. Pernyataannya tidak melambangkan usia beliau yang sudah senior. Dalam banyak hal kita menemukan kemilenialan pada Ma’ruf Amin daripada pada diri Sandi.

Dari debat kedua tersebut, tentu saja ditambah dengan debat-debat sebelumnya, sebenarnya terlihat jelas pasangan mana yang punya kapasitas yang lebih baik. Debat-debat tersebut sudah seharusnya menjadi referensi untuk menentukan pilihan pada tanggal 17 April mendatang. Jangan sampai memilih calon presiden dan wakil presiden yang out of date dan tidak bisa meng-upgrade dirinya sesuai dengan zaman.