Mencari Pemimpin Sejati

Opini: Joni Welman Simatupang

Penulis adalah staf pengajar di Fakultas Teknik Universitas Presiden, Cikarang, Jawa Barat, Indonesia

Jumat, 29 Maret 2019 | 17:00 WIB

Tidak lama lagi bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-111. Bukan kebetulan juga bahwa saat ini kita bangsa kita sedang menunggu dan mempersiapkan diri melaksanakan pesta demokrasi terbesar secara nasional: Pilpres dan Pileg 2019.

Sanggupkah bangsa Indonesia bangkit untuk mencari dan bahkan menciptakan figur-figur pemimpin yang sungguh-sungguh mampu memahami kebutuhan, memberikan solusi bagi, serta meningkatkan kesejahteraan rakyatnya? Karakter seperti apa yang harus dimiliki oleh mereka yang pantas disebut sebagai pemimpin sejati?

Mengamati dinamika kehidupan bermasyarakat dan berbangsa saat ini, saya menilai bahwa kepercayaan rakyat terhadap pemerintah menjadi unsur yang sangat penting untuk membawa kemajuan pembangunan di segala bidang. Di satu sisi, harus ada trust and obey yang tumbuh dalam diri masyarakat (orang-orang yang dipimpin) terhadap pemerintah yang berkuasa (pemimpin). Di sisi lain, pemerintah juga harus tanggap dengan situasi atau fenomena yang berkembang di masyarakat supaya mampu memberikan solusi yang tepat bagi kebutuhan rakyat. Pemerintah membuat kebijakan dan bersama rakyat menjalankannya. Kerja sama yang erat antara pembuat dan pelaku kebijakan akan membawa kebaikan, kebenaran, dan damai sejahtera.

Jangan Melupakan Sejarah
Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.” Belakangan populer dengan istilah “Jasmerah” (jangan sekali-kali melupakan sejarah).

Jika belajar dari sejarah, sesungguhnya revolusi mental (berupa disiplin, kejujuran, dan kerja keras) yang mengarah kepada nation and character building yang digaungkan sejak 2014 oleh pemerintahan Jokowi-JK adalah gaya hidup yang telah melekat dalam diri para pejuang dan pemimpin bangsa Indonesia, seperti Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo, Kyai Haji Agus Salim, Ki Hajar Dewantara, TB Simatupang, dan masih banyak nama lagi. Mari sejenak kita menilik ke belakang tentang peran dan kontribusi positif mereka dalam masa-masa pra atau pasca kemerdekaan Indonesia.

Mereka adalah figur pemimpin ideal, meski bukan tanpa cacat cela. Namun, tingkat keberanian dan semangat pengabdian mereka dalam melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia sangat patut dihargai dan diteladani. Kehidupan mereka telah difokuskan kepada tujuan untuk menjadi solusi bagi kemajuan bangsa Indonesia.

Banyak negara mencapai kesuksesan karena teladan baik pemimpinnya, terlepas dari kelemahan atau kekurangan dalam hal personalitas. Misalnya, Korea Selatan, yang di dalam biografi Jenderal Douglas MacArthur disebutkan bahwa sekitar tahun 1950-1953 negara ini masih sangat bersifat feodal, korup, dan bukan bangsa pekerja sehingga akan sulit untuk berkembang menjadi sebuah negara maju. Namun, kini kita telah bersama-sama menyaksikan bahwa dalam kurun waktu tiga dekade saja, Korea Selatan telah mampu mengubah dirinya menjadi negara yang sejahtera dengan kehidupan masyarakatnya yang menghargai persamaan hak-hak asasi manusia di depan hukum (egaliter), pekerja keras yang berdisiplin tinggi (urutan ketiga dari sepuluh negara yang penduduknya gila kerja), produktif dan efisien, bersih dalam pemerintahan, serta berprestasi dalam banyak bidang termasuk olahraga. Pencapaian itu dirintis sejak kepemimpinan Jenderal Park Chung Hee (1961-1979).

Demikian juga negara sahabat kita, Singapura, telah menjadi negara yang sejahtera, modern, efisien, bersih dan bebas korupsi, serta berdisiplin, karena keteladanan Lee Kuan Yew yang selalu tampil sederhana, pekerja keras, bertanggung jawab, dan hemat di hadapan rakyatnya.

Pemimpin sejati seharusnya bukanlah seorang (orang-orang) yang menjadi hamba uang (materialis), hamba diri (egois), dan hamba dari hawa nafsu (hedonis). Sebaliknya, pemimpin sejati adalah orang-orang yang memiliki karakter rendah hati, memiliki visi ke depan, dan yang berani berjuang mewujudkan visi tersebut, apapun harga yang harus dibayar. Sebutlah beberapa contoh pemimpin pergerakan dunia Martin Luther King Jr yang gigih menentang rasisme dan perbudakan di Amerika Serikat, di mana kegigihannya itu terpancar dalam pidatonya yang terkenal: “I Have A Dream” pada 28 Agustus 1963; William Wilberforce, seorang politikus sekaligus anggota parlemen Inggris sekaligus pejuang perbudakan yang hasil perjuangannya baru berbuah setelah dua minggu kematiannya.

Sejak era reformasi Mei 1998 hingga kini, negara kita masih membutuhkan reformasi dan transformasi dalam segala aspek kehidupan. Kita masih mengharapkan munculnya pemimpin-pemimpin yang berani membuat kebijakan yang berani menentang arus meskipun tidak populis.

Kita masih terus merindukan dan mendambakan figur para pemimpin yang berani hidup lurus dan benar menentang korupsi dan dengan setia mengerjakan panggilannya sebagai pelayan publik. Hoegeng Imam Santoso (mantan Kapolri), Baharuddin Lopa (mantan Jaksa Agung), Munir Said Thalib (mantan pejuang HAM, adalah beberapa di antara sedikit nama yang patut kita berikan apresiasi tertinggi atas karya dan sumbangsih mereka bagi Indonesia baik di masa kini maupun lampau.

Saya teringat dengan scene film India di mana sang jagoan kalah duluan, barulah menang belakangan. Ketika ditonton terasa lucu, karena seperti sebuah rekayasa. Namun, saya berpikir mungkin begitu juga yang sedang dan akan dialami oleh bangsa ini. Perang melawan korupsi dan ketamakan seperti perang Bharatayudha: antara Pandawa dan Kurawa di padang Kurusetra. Antara kebenaran dan kefasikan di tengah dunia yang berdosa.

Saya mengimani bahwa pada akhirnya, kebenaran akan muncul sebagai pemenang. Sebab kebenaran meninggikan derajat bangsa, sedangkan dosa adalah noda bangsa. Di mana ada kebenaran, di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenteraman.

Oleh karena itulah, dicari pemimpin sejati yang berjiwa rendah hati seperti pelayan! Motto pelayanan: sukarela, pantang mundur, dan tanpa penyesalan. Kriteria pemimpin: bukan sekadar menabur janji, tetapi mampu merealisasikan mimpi; berani menentang arus, dan memiliki moral yang benar untuk meluruskan demokrasi yang cenderung diwarnai oleh kekerasan politik; memiliki visi pembangunan yang berkelanjutan melalui pendekatan holistik yang melibatkan berbagai aspek termasuk sosial budaya, ekonomi, teknologi, dan lingkungan.

Penghargaan yang akan diperoleh: tidak bergelar, tidak populer, dan bahkan mungkin dibenci dan dimusuhi, bahkan tidak dikenal atau terkenal. Tetapi, Tuhanlah yang akan memberikan anugerah dan balas jasa pada waktunya.

Mungkinkah kriteria yang demikian dapat ditemukan di tengah-tengah para elit pemimpin bangsa ini? Jawabnya: sangat mungkin, dan itu doa saya.