Kampanye Terakhir

Opini: Jerry Sambuaga

Penulis adalah doktor ilmu politik, dosen Universitas Pelita Harapan, dan kolumnis Suara Pembaruan.

Rabu, 10 April 2019 | 19:00 WIB

Minggu ini adalah kampanye terakhir Pemilu 2019. Sebagian energi, baik dari kandidat presiden maupun kandidat anggota legislatif telah dikeluarkan untuk menarik simpati publik. Menjelang minggu atau hari-hari tenang, tampaknya para kandidat justru akan lebih banyak bertarung secara diam-diam agar di saat-saat terakhir bisa mengambil kesempatan.

Untuk pilpres, sampai awal April ini pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin masih jauh memimpin atas pasangan nomor urut 02 Prabowo Soebianto-Sandiaga Uni. Hasil ini dirilis oleh lembaga-lembaga survei yang sudah diketahui luas kredibilitasnya. Beberapa lembaga survei yang tidak mempunyai rekam jejak yang jelas memberikan hasil yang berbeda. Namun survei sahih jelas akan merujuk pada yang dilakukan oleh lembaga survei yang sudah dipercaya.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf terus bertahan di angka 54-57%. Sementara Prabowo-Sandi masih berkutat di angka 30-an persen. Jika tidak ada sesuatu yang sangat di luar dugaan, mestinya Jokowi akan meneruskan pemerintahannya di periode kedua. Begitu perhitungan dan prediksi statistiknya.

Sampai minggu terakhir ini Prabowo-Sandi tetap menjual aura negatif dalam setiap kampanyenya. Dalam kampanye terbaru , Prabowo berpidato sambil menggebrak-gebrak meja. Emosinya terlihat hampir tidak terkendali. Isi pidatonya tidak lebih dari kalimat-kalimat bernada negatif tentang berbagai aspek kondisi Indonesia. Sekali lagi, data-data yang dipaparkannya juga banyak yang harus dikritisi. Selain itu, banyak hal-hal yang tidak jelas dan kontradiktif yang terus direproduksi oleh Prabowo. Contohnya adalah sikap antiasing. Dalam satu kesempatan, Prabowo sering bicara bahwa ia tidak antiasing. Namun di kesempatan lain ia terus pula mereproduksi ancaman asing. Tidak jelas apa yang akan dilakukannya dengan sikap antiasing atau tidak antiasing itu.

Begitu juga dengan wacana inklusivitas dan keragaman serta toleransi. Tak lebih hanyalah wacana di atas kertas. Tidak heran jika Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bamban Yudhoyono (SBY) akhirnya bersuara lantang soal kerisauannya melihat cara-cara Prabowo yang selalu mengeksploitasi isu-isu identitas. SBY jengah karena ini bukan seperti Indonesia yang ia bayangkan. SBY khawatir bahwa perpecahan Indonesia benar-benar akan terjadi jika cara-cara ekploitasi politik identitas itu tidak segera diubah.

Apa yang dikemukakan oleh Prabowo itu jelas menegaskan pemikirannya selama ini. Ia hanya ingin menarik simpati publik dengan retorika. Tidak lebih. Apa yang dilakukan untuk mewujudkan retorika itu tidak pernah disampaikannya.

Sebaliknya Jokowi mempunyai aura yang berseberangan. Ada beberapa benang merah dari substansi Jokowi, yaitu optimisme, kolaborasi, kreativitas, daya saing, dan kebhinekaan. Panggung kampanye Jokowi bukanlah kampanye ketakutan, kekhawatiran dan kemarahan. Kampanye Jokowi adalah kampanye yang penuh kegembiraan.

Jokowi juga punya kerangka jelas dalam mewujudkan mimpinya tentang Indonesia. Memang masih banyak agenda yang harus dilaksanakan. Tetapi ia selalu mengajak kita terus berusaha dengan keras; membenahi aspek fisik dan aspek semangat dan jiwa kita. Ia menolak untuk terus menyalahkan pihak lain atas semua kondisi Indonesia. Sebaliknya, ia terus mengajak kita untuk meningkatkan kemampuan agar makin efektif dalam menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Yang khas pula dari kampanye Jokowi adalah keakraban dan keinginan untuk merangkul dan saling mendukung. Semua kampanye Jokowi adalah pertunjukan kolaborasi seperti yang selalu ia serukan. Jarak antara elit dan rakyat hampir tidak ada. Kita semua larut dalam semangat bersama, bukan semangat pemisahan elit dan rakyat.

Pileg dan Milenial
Hal yang tidak kalah penting sebenarnya adalah pemilihan umum legislatif (pileg). Kita harus selalu ingat bahwa Indonesia menganut trias politika. Legislatif sama pentingnya dengan eksekutif. Karena itu kita juga harus memberikan perhatian yang memadai untuk pileg. Selama ini seluruh perhatian dan energi ditumpahkan seolah-olah hanya untuk eksekutif (pilpres). Di minggu terakhir ini ada baiknya seluruh rakyat meluangkan perhatian kepada caleg.

Ada beberapa sentuhan yang menarik yang diberikan oleh partai-partai dalam Pemilu 2019. Ini berkaitan dengan tema-tema anak muda alias milenial yang sedang menjadi tren. Pola-pola kampanye makin kreatif dan variatif. Partai Golkar, misalnya, mempunyai pendekatan yang menarik dengan mengoptimalkan partisipasi anak muda. Tema-tema kreativitas, kemajuan teknologi, kesetaraan dan kegembiraan tidak pernah lepas dari kampanye-kampanye partai Golkar. Tema-tema itu seolah ingin mendobrak tradisi dan stigma tentang partai yang sebelumnya dianggap tidak asyik. Berpolitik bagi Partai Golkar makin asyik dan memang harus asyik.

Bukan hanya soal tema, Partai Golkar juga mengusung banyak sekali anak muda untuk ikut bertarung dalam pemilu kali ini. Selama ini hanya Partai Solidaritas Indonesia(PSI) yang diasosiasikan atau mencitrakan diri sebagai partai anak muda. Padahal di Partai Golkar nuansanya juga sangat muda. Partai Golkar menyadari kebutuhan transisi dan regenerasi. Kesinambungan ini sangat diperhatikan agar selalu ada penyegaran dan apa yang diperjuangkan partai nyambung dengan kepentingan dan aspirasi rakyat. Kita berharap partai-partai lain juga memperhatikan transisi dan regenerasi ini sehingga Indonesia setelah 2019 ini adalah Indonesia yang baru, Indonesia yang lebih segar dan berkembang sesuai dengan zaman.

Terakhir, yang menarik dari hajatan pemilu kali ini adalah partisipasi pemilih yang diprediksi akan makin meningkat. Ini terlihat dari antrean pemilih pemula yang mengurus kartu A5 di banyak kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di daerah-daerah. Ini menandakan bahwa semangat mereka untuk memilih sebenarnya besar. Padahal selama ini selalu dicitrakan bahwa anak muda Indonesia abai politik. Fenomena antrean kepengurusan dokumen A5 ini membantah anggapan tersebut.

Sebenarnya generasi milenial memang punya pendekatan sendiri dalam politik yang tentu saja berbeda dengan generasi yang lebih tua. Para milenial ini sebenarnya juga cepat tanggap dengan apa yang terjadi di Indonesia. Namun, mereka cenderung lebih suka yang privat, mereka punya kemandirian dalam menentukan pilihan dan mereka tidak suka ditekan. Keterhubungan mereka terhadap gadget adalah sesuatu yang mutlak, termasuk dalam hal menyalurkan partisipasi politik. Mungkin saja sebagian dari mereka selama ini tidak terlihat terlalu aktif dalam diskusi politik. Tetapi itu bukan berarti mereka abai politik. Mereka hanya tidak suka dengan perilaku debat politik yang umum terjadi di Indonesia. Menurut mereka debat macam itu tidak produktif dan jelas menghabiskan waktu. Mereka ingin sesuatu yang jelas, sesuatu yang terukur dan sesuatu yang sesuai dengan karakter mereka.

Minggu depan kita akan memilih. Kita tentu berharap bahwa antusiasme anak muda itu tidak hanya berkaitan dengan pilpres tetapi juga berkaitan dengan pileg. Ini masanya anak muda, baik sebagai pemilih maupun yang dipilih. Kita yakin anak muda Indonesia peduli politik dan mampu berpolitik dengan baik.