Bertani, Merawat Ingatan dan Tradisi

Opini: Entin Supriati

Mantan wartawan.

Kamis, 25 April 2019 | 16:09 WIB

Sebelum matahari menjadi tinggi, kami kakak beradik berjalan kaki melompat-lompat di pematang sawah. Ini adalah hari panen ikan. Sawah dikuras, ikan mas, lele, mujair diserok masuk ke ember-ember besar. Kami, si kanak-kanak tentu riang gembira menangkap ikan, meski sebenarnya lebih tepat disebut ‘memblesekkan’ badan ke lumpur.

Sudah menjadi kebiasaan, setelah tuai padi, sawah digenang dan anak-anak ikan dilepaskan. Sebulan berlalu, ikan montok-montok dipanen seperti hari itu, sawah dibajak, dipacul, disiapkan untuk musim tanam padi berikutnya.

Jika ingatan awal manusia yang bisa dikenang seumur hidup adalah apa yang terjadi pada usia 3-4 tahun, maka acara ngabedahkeun itulah kejadian yang saya ingat pertama dengan detail sampai sekarang.

40 tahun kemudian, sawah-sawah itu masih ada, padi ditanam dengan cara yang tidak jauh berbeda. Sungai masih di situ, aliran air makin kecil, dan yang pasti tidak ada lagi tradisi ‘ngabedahkeun’.

Saat ini setelah padi dipanen, dijemur dan disimpan, petani penggarap cepat-cepat membajak sawah dengan mesin yang mereka sebut kalektor, menggantikan kerbau yang sekarang jarang terlihat. Sesegera mungkin menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya. Tidak ada lagi ritual menggenang sawah sebulan lebih, sebab air tidak selalu ada.

Saya tidak ingat, dahulu berapa kali sawah ditanami padi dalam setahun. Ingatan saya hanya sebatas riang menyerok ikan, mandi di sungai dan makan siang.

Sekarang, sawah mulai dikalektor sekitar bulan November saat musim penghujan datang. Ditanami awal bulan Desember dan sekitar akhir Februari hingga awal Maret, adalah saat-saat panen.

Berharap hujan masih turun, awal April sawah ditandur lagi. Jika hujan masih berbaik hati hingga bulan Mei, bersyukur padi muda bisa selamat. Juli hingga akhir Oktober adalah musim kemarau. Sawah-sawah kering, tanah berbelah, menganggur begitu saja. Sesekali mendung dan hujan tipis, tapi tidak cukup untuk bertanam padi.

Tanpa menampik teknologi benih yang membuat padi cepat tumbuh, berbulir lebat dan tahan hama, menanam padi setahun dua kali saat ini adalah kemewahan. Seperti berlomba dengan waktu, sebab air pelan-pelan menjadi langka.

Sawah-sawah itu usianya sudah pasti lebih dari seabad. Bila merujuk ke kepemilikannya. Kakek saya adalah pemilik lahan merangkap juragan kerbau. Tentu, sawah itu sudah ada di jaman sebelum kakek buyut, namun ketika saya lahir, hanya tinggal kakek dari pihak ibu yang masih hidup.

Berselang empat dekade dari tradisi melumpur itu, kami sudah berada pada jalan hidup masing-masing. Sekolah, kuliah, bekerja, berpindah tempat, berkeluarga, dan orangtua kami sudah tiada.

Para penggarap sawah pun sudah berganti generasi, jumlahnya makin menciut. Jika ada pilihan pekerjaan lain, menggarap sawah tentu saja bukan pilihan pertama. Bagi pemilik lahan pun, kalau tidak luas-luas amat, jauh dari menguntungkan. Bila sawah di tepi jalan beralih menjadi bangunan atau bengkel, jauh lebih nyata nominal uangnya.

Begini hitung-hitungan bagi hasil sawah. Pemilik lahan mendapat tiga karung gabah dari setiap petak, atau kira-kira sepertiga hasil panen. Benih, pupuk, pestisida ditanggung penggarap.

Betul, bahwa benih dan pupuk disubsidi pemerintah, dan hasil panenan dalam kondisi apapun diserap Bulog, tetapi dengan lahan yang makin berkurang, penghasilan petani penggarap tidak lebih dari 8-9 juta setiap musim panen. Jika setahun hanya sekali tanam, maka itulah jumlah penghasilannya dalam setahun.

Memaksakan bertanam dua kali setahun, untuk daerah kami di selatan Sukabumi yang tidak punya jaminan air, resiko gagal lebih besar dari potensi selamat sampai panen. Selain curah hujan yang rendah pada periode April hingga Juni, serangan hama lebih ganas di masa tanam kedua. Barangkali karena tradisi menanam ikan diantara masa tanam yang ternyata juga bagian dari ‘mengistirahatkan’ sawah sudah hilang.

Tentu saja menjadi petani turun temurun tidak melulu berpatok pada angka dan galau dengan hujan. Ada iktiar menanam semangka atau labu yang perlu disiram setiap hari pada awal tumbuh. Atau kedelai. Tapi dengan tenaga kerja yang menua, tidak semua sawah sanggup ditanami, kecuali sayuran untuk kosumsi sendiri.

Kompromi dari langka tenaga kerja dan curah hujan rendah adalah menanam jagung hibrida untuk pakan ternak. Bisa langsung dapat giliran ditanam setelah padi dipanen, tanah tidak perlu diolah khusus. Ini yang paling penting; biaya produksi lebih rendah dari padi dan bisa dikerjakan oleh perempuan sambil mengurus anak dan rumah tangga.

Bagi penggarap, ada ego kultural yang harus dipinggirkan. Dari menanam padi konsumsi manusia berganti menjadi jagung hibrida untuk pakan ternak. Menurut para penggarap, bahkan babi hutan saja enggan makan jagung ini.

Tantangan bagi kami, pemilik lahan yang serba tanggung ini adalah mengenalkan generasi keempat dengan tradisi bertani, merawat lahan, sawah yang setia menghidupi beberapa generasi. Bila tidak bisa menambah luas, setidaknya jangan sampai sawah berubah menjadi ruko.

Untuk generasi yang tidak mengalami tradisi ngabedahkeun, sesekali mudik, menengok sawah dan penggarap, rasa-rasanya hanya sekedar menghormati romantisme orang tua saja.