Belajarlah kepada Anak-anak

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Selasa, 30 April 2019 | 15:31 WIB

Pemilihan umum (pemilu) adalah episode mutlak dalam berdemokrasi. Perhelatan itu dibingkai sebagai sesuatu yang penuh kegembiraan. Mari kita simak lagu berjudul Pemilihan Umum karya Mochtar Embut. “Pemilihan Umum telah memanggil kita. Seluruh rakyat menyambut gembira...!”

Tahun 1953, lagu dengan judul serupa namun diciptakan komposer berbeda, juga memuat lirik bagaikan cahaya yang bersinar indah. “Pemilihan Umum. Ke sana beramai. Marilah, marilah saudara-saudara...” demikian gubah Marius Ramis Dajoh, Ismail Marzuki, dan GWR Tjok Sinsu.

Namun, seberapa jauh orang menyangka bahwa hari ini pesta demokrasi ternyata menghadirkan adanya kegalauan dan kekhawatiran tersendiri. Itu yang secara populer diistilahkan sebagai Post-election Stress Disorder (PESD). Dan anak-anak pun ternyata tidak selalu tahan terhadap ketegangan politik semacam demikian, termasuk --yang saya khawatirkan-- setelah pemilu serentak 17 April 2019 kemarin.

PESD bertambah parah saat gelombang berita pilpres melalui media sosial dan aplikasi pesan semakin menakutkan. Begitu di Indonesia, sebagaimana pula terjadi di Amerika. Sebagai gambaran, 40% warga dewasa Amerika menyatakan bahwa diskusi politik di media sosial membuat mereka stres. Dan dibandingkan dengan mereka yang tidak bermedia sosial, kalangan pengguna media sosial pun mengakui bahwa pemilu membuat mereka lebih kalut.

Anak-anak ternyata juga tak imun dari PESD, baik sebagai dampak langsung maupun dampak tidak langsung pemilu. Misalnya, tercatat adanya lonjakan 35% anak-anak Inggris yang membutuhkan bantuan profesional akibat dihantui oleh isu-isu pascapemilu.

Sesuai namanya, post-election, gelora di dunia politik nasional ini disebabkan oleh situasi yang justru terkesan menjadi amat-sangat tidak menentu pasca-17 April lalu. Heroinisasi kubu sendiri dan demonisasi kubu lain yang berlangsung sedemikian rupa, saya khawatirkan, telah mencapai tingkatan yang berisiko kurang baik bagi perkembangan jiwa anak-anak. Bukannya sedang mendramatisasi keadaan, namun hasil penelitian jugalah yang menunjukkan bahwa anak-anak tidak imun dari ekses yang dimunculkan oleh benturan politik antarorang dewasa. Bahkan, dikaitkan ke tulisan tersebut, saya khawatir bahwa anak-anak hari ini berisiko memperoleh ajaran keliru terlalu dini tentang bagaimana meluapkan perasaan negatif dan memacu kehendak untuk saling bermusuhan.

Terkenang cerita Mahabarata, Pandawa dan Kurawa merupakan contoh bahwa watak bermusuhan antarsaudara kandung tidak mengendap seketika sejak awal kehidupan manusia. Habil dan Qabil, anak-anak Nabi Adam alaihisalam, begitu pula. Padahal, kalangan psikolog telanjur membuat istilah khusus, yakni sibling rivalry, sebagai manifestasi kentalnya aura permusuhan di kalangan saudara kandung. Ada sekian banyak studi dan teori yang menjelaskan mengapa pertikaian antarsaudara kandung menjadi keniscayaan. Rekomendasi yang kemudian disampaikan adalah orang tua harus berperan sebagai penengah. Rekomendasi ini pun disanggah oleh riset lainnya, yang menyimpulkan bahwa perang kata bahkan adu fisik antarsaudara kandung justru lebih sering terjadi ketika orangtua mereka hadir. Serba salah, memang.

Mungkin karena “putus asa” tidak menemukan resep untuk menghentikan pertengkaran antarsaudara kandung, sekian banyak ahli psikologi akhirnya banting setir. Dari yang semula berpandangan bahwa sibling rivalry mengganggu proses tumbuh kembang, akhirnya bahkan menilai bahwa cekcok antar saudara kandung sebagai dapat tetap ada manfaatnya. Dikatakan bahwa hal tersebut dapat membantu proses pembentukan jati diri anak, melatih daya debat anak, menempa nyali anak, dan sebagainya. Jadi, karena ada positifnya, orangtua sebaiknya jangan terburu-buru langsung melerai anak-anak mereka saat sedang bertengkar. Jelas, butuh kearifan ekstra sebelum menyerap dan mempraktikkan rekomendasi semacam demikian.

Meredakan Kericuhan
Apa pun itu, ada satu hal yang sering luput dari radar kita, orang dewasa. Yakni, sebagai wujud keluhuran--bukan kericuhan--tabiat anak-anak adalah, meski hidup mereka seolah tak pernah sunyi dari pertengkaran, namun hanya dalam hitungan menit atau bahkan detik sesama mereka sudah bisa akur dan rukun kembali. Belum lama mereka bertengkar berebut mainan, misalnya, sampai saling mendiamkan, namun beberapa saat kemudian mereka sudah saling mencari akibat kerinduan satu sama lain. Mungkin kita lupa. Seolah tidak menyadari bahwa kita pun pernah seusia mereka dulu, pernah bertengkar seperti mereka, lalu berubah suasana hati secara tiba-tiba juga mirip mereka.

Kekhawatiran akan PESD dan dampaknya terhadap anak-anak, saya coba mengikuti cara pandang dan rekomendasi komunitas psikologi. Pertandingan catur antarsaudara sekandung (sibling rivalry!) selepas 17 April--anggaplah--memang diperlukan. Untuk memperkokoh identitas Indonesia sebagai bangsa yang berdemokrasi, untuk menajamkan kepekaan kita terhadap berbagai penyelewengan kehidupan bernegara, serta untuk memperteguh keyakinan kita bahwa yang benar akan kita dukung dan yang keliru juga akan kita koreksi.

Namun, persoalannya, kita --orang dewasa-- sering tidak semudah anak-anak dalam meminggirkan sakit hati. Begitu khalayak dewasa terjerembab dalam ketidakpercayaan satu sama lain, sukar untuk secepatnya membongkar dan membalikkan keadaan tersebut.

Pada saat yang sama, narasi konstruktif tentang bagaimana menghentikan kericuhan ini terdengar terlalu samar-samar. Formula untuk mengatasi situasi yang serba tak menentu ini tentu sudah ada. Ketentuannya sudah tersedia. Namun, itu sering menjadi bab yang seolah hilang dari buku pesta demokrasi tahun ini. Dan anak-anak dapat dipastikan menjadi subjek yang paling terakhir menyimak narasi tentang jalan keluar yang sesungguhnya sangat dibutuhkan itu.

Pesta demokrasi telah usai. Sekarang saatnya untuk bersih-bersih. Kita semua ditagih untuk konsekuen: saling bersahabat dalam suasana gembira lagi dan menata kembali ruang serbaguna yang sesaat lalu menggairahkan namun kini sempat berantakan. Teristimewa bagi anak-anak, mereka ingin menyaksikan bukti nyata bahwa kita para orang dewasa mampu berbuat nyata menjadi penemu jalan keluar yang konstruktif.

Untuk itu, tak ada salahnya bila kita semua patut belajar kembali justru kepada anak-anak. Belajar dengan rendah-hati untuk meregulasi mood kita sealamiah mungkin, sehingga tercipta dunia yang indah penuh nuansa persahabatan dan perdamaian, sebagaimana indahnya kehidupan pada anak-anak kita tercinta! Semoga.