Minat Baca itu Seperti Melatih Bayi Makan

Opini: Entin Supriati

Mantan wartawan.

Jumat, 3 Mei 2019 | 17:58 WIB

Perkara membaca buku, saya harus berterima kasih kepada koran Suara Karya. Surat kabar milik Golkar, penguasa jaman Orde Baru itu. Lho... jangan tertawa dulu. Ada ceriteranya. Begini...

Sebelum bersekolah, saya amat kagum dengan orang yang bisa membaca. Sangat hebat. Ingin sekali menjadi seperti itu. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengajari. Mungkin juga karena tidak meminta, tidak tahu pula bagaimana cara menyampaikannya.

Senang bukan main ketika hari pertama masuk sekolah dasar tiba. Seolah-olah hari itu akan langsung bisa membaca.

Kalau ada pertanyaan, mengapa tidak belajar di taman kanak kanak atau PAUD. Tolong dipahami bahwa yang sedang diceriterakan ini bukan jaman sekarang, melainkan anak pra sekolah, hidup di desa awal tahun 80-an.

Kembali ke soal surat kabar Suara Karya itu. Setelah satu dua minggu bersekolah, mengenal huruf dan menyambungkannya.. trala.. tiba-tiba semua menjadi terang-benderang. Saya bisa membaca.

Ketika itu Bapak adalah kepala sekolah dasar yang kemudian menjadi semacam pengawas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tingkat kecamatan. Setiap pulang kantor selalu membawa koran, untuk dibaca sore-sore atau malam setelah salat Isya.

Bisa dibilang koran itulah satu satunya yang tersedia pada saat sudah mulai bisa membaca. Saking senangnya, membaca pun keras-keras. Pamer. Tidak penting apakah paham dengan maksud yang tertulis di artikel itu, toh keperluannya adalah melampiaskan rasa bangga.

Puluhan tahun dan beratus atau ribu buku setelah koran Suara Karya itu, saya membaca angka-angka dari UNESCO.

Pada tahun 2015 tingkat literasi rakyat Indonesia yang berusia di atas 15 tahun adalah 93,9 persen. Pada laki-laki presentasenya lebih tinggi, yakni 96,3 persen. Sedangkan pada perempuan adalah 91,5 persen. Yang dimaksud dengan tingkat literasi disini adalah mampu membaca dan menulis.

Angka capaian literasi di Indonesia ini sangat tinggi, hampir menyamai tingkat literasi di negara maju, yakni 99,2 persen, dan jauh meninggalkan rata-rata tingkat literasi di negara-negara Asia Selatan dan Asia Barat yang baru mencapai 70,2 persen.

Sedikit lagi Indonesia akan menjadi negara bebas buta huruf. Ini modal dasar untuk negara besar berpenduduk 267 juta.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana memaksimalkan modal dasar ini.

Ibarat bayi yang sudah bisa menelan makanan solid, apakah akan selesai dengan diberi satu jenis makanan saja..?

Dari strata ekonomi apapun, para orangtua berusaha memberi yang terbaik. Bermacam makan dicoba, sebagian diterima, sebagian ditolak, sebagian disemburkan.

Para orangtua yang berusaha mengenalkan sebanyak mungkin jenis makanan, memahaminya tidak melulu sebagai isi perut, melainkan upaya pembiasaan agar kuncup rasa di lidah si anak bayi terbuka, mekar, menerima segala rasa. Kelak, saat usia bertambah si anak akan lebih mudah bersosialisasi dengan rasa, berkembang, menemukan banyak hal yang terbaik.

Ini juga yang terjadi dengan kebiasaan membaca. Tidak ada yang lebih bertanggungjawab dari tinggi rendahnya minat baca selain para orangtua.

Bisa saja menyalahkan pemerintah yang tidak punya program greget untuk meningkatkan minat baca, rantai produksi dan penjualan buku yang tidak merangsang kreatifitas para penulis, beban pajak, serbuan siaran televisi yang hanya mengejar rating, kecanduan games, media sosial, gemar memamah hoax, dan sebagainya dan seterusnya.

Banyak yang bisa disalahkan, bisa dituding, bisa dituduh. Seolah-olah bila semua yang disebut sebagai biang kerok rendahnya minat dan kemampuan membaca itu lenyap, dengan seketika semua orang membaca buku. Seperti sulap.

Saya percaya bahwa karakter manusia dewasa dibentuk dari apa yang dialami, pembiasaan, nilai nilai kebaikan yang didapat, terus menerus ditanamkan pada tahun-tahun awal hidupnya. Usia 0-12 tahun. Cetak biru perjalanan dan pencapain manusia dewasa sudah ‘tertulis’ di situ.

Tidakkah kita ingin menjadi bagian dan berkontribusi pada hidup seseorang..? Bahwa ingatan terhadap hal-hal tertentu akan terus ada. Dalam hal ini, seperti hubungan historis saya dengan surat kabar Suara Karya. Salah satunya.