Mereka Dicap Makar

Opini: Reza Indragiri Amriel

Penulis adalah Peserta Community Policing Development Program, Jepang

Jumat, 24 Mei 2019 | 16:00 WIB

Paruh kedua tahun 1920-an Bung Hatta disidang. Pledoinya berjudul “Indonesia Merdeka”. Saking panjangnya, di hadapan hakim, Bung Hatta hanya membacakan beberapa halaman bagian awal dan sejumlah halaman bagian akhir dari naskah pembelaan dirinya itu. Persidangan atas diri Bung Hatta berlangsung di Den Haag, Belanda.

Berselang dua tahun kemudian, 1930, Bung Karno mendapat giliran. Ia dihadapkan ke hakim di Pengadilan Bandung, Hindia Belanda. Pledoinya, yang juga dibacakan berjam-jam, bertajuk “Indonesia Menggugat”.

Kedua judul pledoi itu seolah bertautan. “Indonesia Merdeka”, guratan pena Bung Hatta, adalah sebuah visi, gambaran masa depan tentang negara-bangsa yang diidam-idamkan. Untuk merealisasikan visi, misi harus diambil, upaya harus dikerahkan. Caranya adalah mengajukan gugatan terhadap segala bentuk penguasaan Belanda atas negeri jajahan yang kala itu bernama Hindia Belanda. Jadilah lantas judul teks pembelaan diri Bung Karno “Indonesia Menggugat”.

Antara kedua figur agung itu memang terhubung lewat surat-menyurat. Tapi tak jelas, apakah Bung Hatta dan Bung Karno juga saling bertukar ide tentang judul naskah pledoi yang akan mereka susun. Yang jelas, selama Bung Karno disidang, keberadaan Partai Nasional Indonesia yang ia pimpin dihubung-hubungkan sedemikian rupa oleh jaksa dengan Perhimpunan Indonesia. Nama organisasi yang disebut belakangan itu digerakkan oleh Bung Hatta.

Kedua bung tersebut didakwa dengan persoalan serupa: ujaran kebencian, menghasut untuk memberontak, dan mengajak khalayak untuk melakukan kekerasan.

Bung Hatta menabukan rasa takut. Ia memandang proses hukum atas dirinya dengan senyum sinis. Persidangan tak lebih --meminjam diksi dalam pledoinya-- cerminan betapa penguasa Belanda tidak dapat berbuat apa-apa selain membawa kasus ke mahkamah hukum. Penguasa juga mengenakan perlakuan-perlakuan imoral untuk membuat tak berdaya mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda.

Kriminalisasi
Dalam perbendaharaan kata hari ini, tikaman yang Bung Hatta sebut itu kiranya setara dengan kriminalisasi dan perampasan hak-hak warga negara. Bung Karno juga pantang berciut nyali. Tetap dengan gaya orasi, Bung Karno menggurui, mematahkan persepsi jaksa bahwa ia adalah agitator. Bung Karno “kecil”-kan keberadaannya lewat perkataan, “Pergerakan, pemberontakan, dan lain sebagai macamnya terlahir bukan karena hasutan kaum intelektual. Pergerakan lahir adalah alamiah karena penderitaan rakyat yang tak tertahankan.”

Diringkus ke pengadilan dengan tudingan serupa, namun suratan tangan mereka berbeda. Bung Hatta divonis tidak bersalah. Hakim menilai ucapan dan tulisan adalah produk berpikir dan pikiran manusia tidak patut dibersalahkan. Bung Karno lain cerita, dihukum dua tahun penjara.

Persidangan atas Bung Hatta dan Bung Karno memperlihatkan usaha Belanda untuk membungkam dan mematikan kelompok-kelompok bermisi subversif. Tapi tak tepat juga andai Belanda di situ dianggap sebagai segenap warga negeri Kincir Angin tersebut. Di tubuh Belanda sendiri ada kalangan yang justru bersimpati pada orang-orang pergerakan semacam Bung Hatta dan Bung Karno. Ambil misal, simpati yang diberikan oleh para petugas pejagaan kepada Bung Karno selama ia menjalani masa tahanan di Banceuy. Wujud lain, berupa pengakuan kelas atas, adalah ajakan kepada Bung Hatta dan Bung Karno masing-masing untuk masuk ke dalam partai-partai politik Belanda, betapa pun kenyataan historis mereka berdua tidak pernah bergabung ke partai Belanda mana pun.

Demikianlah azas tanpa kompromi Bung Hatta dan Bung Karno peragakan. Memang di antara mereka berdua ada variasi satu sama lain dalam mendefinisikan sikap non-kompromistis terhadap penguasa kolonial Belanda. Tapi ujung-ujungnya tetap keteguhan hati yang sama: “sini” bukan “sana”, tak sudi “sini” bergandengan tangan dengan “sana”.

Bung Hatta lolos dari lubang jarum. Bung Karno menerima pengurangan masa hukuman, sehingga bisa meninggalkan tembok-tembok frustrasi setahun lebih cepat. Tapi ternyata mereka tetap tidak kapok. Si sarjana ekonomi dan si insinyur berulah lagi. Bahkan dengan skala perlawanan lebih masif. Satu demi satu perkumpulan yang bertujuan Indonesia merdeka terus bermunculan, baik yang mereka bentuk masing-masing maupun oleh aktivis-aktivis radikal lainnya.

Ganjaran pun dijatuhkan kepada Bung Hatta dan Bung Karno. Kali ini dalam bentuk pengasingan. Bung Karno dibuang ke Ende lalu dipindah ke Bengkulu. Sementara Bung Hatta, lebih pelosok lagi, diasingkan ke Boven Digul, kemudian direlokasi ke Banda Neira.

Selama mengarungi nasib sebagai orang terhukum, sisi-sisi kemanusiaan mereka menyeruak. Bung Hatta, yang tenang itu, menjadi sering uring-uringan dan gampang marah. Meski begitu, ia nyatakan bahwa penjara membuat keyakinannya kian bulat dan pasti. Tulisan-tulisannya juga mengalir teratur.

Bung Karno setali tiga uang. Merasa kepengapan hidup yang luar biasa, bahkan hingga mengiba-iba dengan janji akan berhenti berpolitik asalkan dibebaskan. Hebatnya, dalam keadaan tercekik sekali pun, Bung Karno menemukan kesempatan untuk sungguh-sungguh mempelajari Islam serta menyusun naskah tonil dan serbaneka karya tulis tentang keiindonesiaan.

Berbeda-beda dalam menerima perlakuan hukum, Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya bersimpul kembali dalam visi-misi mereka. Atas nama bangsa Indonesia, manusia-manusia yang dicap Belanda berotak makar itu membanting kelaliman dan kezaliman masa silam, sekaligus menyongsong fajar baru. Fajar dengan cahayanya yang keemasan.

Tamsil katakan “roda sejarah”. Berputar, berulang. Tak terkecuali hikayat tentang keperkasaan Bung Hatta lewat “Indonesia Merdeka”-nya, dan kegagahan Bung Karno lewat “Indonesia Menggugat”-nya, nampaknya. Tinggal lagi nasib memilih orang-orang yang akan dihampirinya: kelak ia Hatta-kan atau ia Soekarno-kan.

Allahu a'lam.