Rindu Mudik yang Ramah Anak

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Senin, 10 Juni 2019 | 16:00 WIB

Tak dapat disangkal, suara takbir dan sekali-sekali diikuti suara beduk bertalu-talu itu memunculkan rasa rindu yang mendalam di hati. Bahkan bukan sekadar mendengar, baru membayangkan saja sudah membangkitkan perasaan sentimentil yang indah!

Di tengah baluran perasaan romantis ini, saya merasa perlu untuk mengangkat narasi mudik yang ramah anak. Narasi yang saya coba untuk menerjemahkan ke dalam dua makna.

Makna Pertama
Mudik sesungguhnya bukan hanya pelestarian tradisi. Dilihat dari sisi perundang-undangan, mudik atau pulang kampung sesungguhnya dapat ditafsirkan sebagai pelaksanaan amanat dari Undang-Undang Perlindungan Anak. Undang-undang ini menekankan bahwa anak berhak untuk mengetahui dan mengenal asal-usulnya.


Pulang kampung juga senapas dengan Peraturan Pemerintah tentang Pengasuhan, bahwa di Tanah Air, model pengasuhan yang patut dikedepankan adalah pengasuhan berbasis keluarga. Keluarga adalah orang-orang yang berada di tiga garis ke atas dan tiga garis ke kiri-kanan sang anak.


Mudik, dengan demikian, merupakan cara untuk merevitalisasi potensi-potensi pengasuhan itu sendiri. Saat sanak saudara bahkan yang tergolong jauh dapat berhimpun bersama, nilai-nilai kekeluargaan itu pun merekah cemerlang kembali. Kehangatan menyala dan rasa saling asih dan asuh diasah kembali dengan mesra.


Amanat konstitusi tersebut seyogianya juga memunculkan keinsafan bahwa--harus diakui--ada yang keliru selama ini dalam persepsi masyarakat terkait panti asuhan. Studi di banyak wilayah menunjukkan bahwa kebanyakan anak yang berada di panti asuhan sesungguhnya masih memiliki keluarga. Keluarga itu, apabila diberdayakan, bisa menjalankan perannya sebagai pengasuh pada saat ayah dan ibu sang anak telah tiada.

Kesalahannya, jangankan mencari dan memfungsikan kembali makna keluarga tersebut, anak yang bersangkutan buru-buru segera dikirim ke panti asuhan. Panti asuhan menjadi solusi prematur dengan mengedepankan pengasuhan alternatif. Padahal, sekali lagi, adalah pengasuhan berbasis keluarga yang harus lebih diutamakan.

Hasilnya, apabila pengasuhan berbasis keluarga itu dapat direalisasikan, kita patut berharap bahwa saat liburan Lebaran, panti asuhan akan menjadi kosong. Ini disebabkan anak-anak yang mudik di akhir Ramadhan menandakan bahwa sesungguhnya mereka masih mempunyai keluarga di kampung halaman masing-masing. Dan panti yang kemudian sunyi senyap menandakan bahwa pengasuhan atas anak-anak yang semula tinggal di sana telah beralih sebagaimana amanat undang-undang. Apalagi, pada sisi lain, salah satu unsur yang dinilai dalam akreditasi panti adalah kesanggupan panti dalam mereunifikasi kembali anak-anak asuhan ke keluarga mereka masing-masing. Secara ringkas dapat dikemukakan bahwa mudik yang ramah anak dapat dimaknakan sebagai seremoni mengantarkan kembali anak-anak ke keluarga masing-masing.

Makna Kedua
Keceriaan memang tak pernah lekang dari Ramadhan ke Ramadhan, dari masa ke masa, senantiasa mewarnai suasana hati. Namun, keceriaan yang meluap-luap itu pula yang dikhawatirkan memunculkan hindsight bias. Bias kognitif ini ditandai oleh kecenderungan kuat manusia untuk kurang peduli terhadap risiko, meremehkan bahaya, dan menganggap enteng kemungkinan-kemungkinan terburuk. Dengan perkataan lain, saat dilanda hindsight bias, tindak-tanduk manusia akan cenderung menyerempet-nyerempet bahaya.

Bayangkan, manakala hindsight bias membanjiri ribuan bahkan jutaan orang yang menyemut untuk mudik. Tindakan meremehkan itu tidak hanya berisiko terhadap diri sendiri, namun dapat juga membahayakan banyak orang. Dan dalam keadaan seperti ini, pihak yang paling berisiko--saya khawatirkan--adalah justru anak-anak.

Rasa waswas sedemikian itu mungkin disikapi secara sinis banyak kalangan. Wejangan agar ekstra berhati-hati dipandang klise lalu cenderung diabaikan. Ini disikapi sebagai kebawelan orang dan sudah bukan jamannya lagi.

Namun, sejujurnya saya masih merasa terguncang setiap kali membayangkan kejadian beberapa tahun silam. Yaitu saat seorang anak, tanpa disadari orang tuanya, meninggal dunia di balik kain yang ironisnya justru dipakai untuk melindungi sang anak dari terik matahari. Anak malang itu kehabisan oksigen, mungkin juga diperburuk dehidrasi, di pangkuan ibunya sendiri di atas sepeda motor yang dikendarai ayahnya. Sedih sekali membayangkan ayah ibu itu histeris mendapati buah hati tercinta tak lagi bernyawa saat keceriaan Lebaran sudah hadir di pelupuk mata.

Di samping berdampak ke keselamatan jiwa, hindsight bias juga dapat berdampak buruk ke kondisi keuangan. Sekian banyak survei menunjukkan bahwa pada masa liburan, perilaku berbelanja menjadi berlipat ganda. Apa daya; momentum Lebaran diidentikkan sebagai masa serbabaru. Tradisi mudik pun merupakan prosesi simbolik tentang bagaimana orang sukses membawa sekaligus membagi-bagikan kesejahteraan kepada orang-orang di tanah kelahirannya.

Tendensi untuk jor-joran dalam urusan berbelanja sangat mungkin semakin terfasilitasi oleh produk-produk finansial yang menjamur tahun-tahun belakangan ini. Mereka mengiming-imingi serbaneka kemudahan bagi para peminjam uang. Besaran persentase bunga pun ditulis sedemikian rupa untuk melengahkan kejelian konsumen.
Nantinya, saat waktu pengembalian pinjaman telah tiba, dan orang tua mengalami banyak kendala untuk memenuhi kewajibannya, sangat mungkin pos anggaran untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak akan terkena getahnya. Ini sungguh jauh dari ideal.

Ecological approach hendaknya memagari setiap warga, teristimewa orang tua, bahwa kepentingan anak harus senantiasa berada di prioritas utama. Pertimbangan tentang kehidupan anak--tidak bisa tidak--mesti melampaui pertimbangan atas hal-hal lainnya. Apa pun itu.

Ecological approach, dalam konteks perjalanan pulang kampung, mengirim pesan tegas bahwa perjalanan yang sesungguhnya tidak ringan itu harus diselenggarakan dengan mengikuti irama hidup anak. Anak memiliki irama biologis, psikologis, dan sosialnya yang berbeda dengan irama orang dewasa. Irama itulah yang menjadi pengingat kapan perjalanan bisa dimulai, diistirahatkan, dilanjutkan, dan seterusnya. Sikap peduli terhadap irama hidup anak sekaligus berfungsi sebagai penangkal agar orang-orang dewasa terhindar dari hindsight bias.

Melalui tulisan ini tentu saya tidak sedang bermaksud merusak mood para pembaca tentang indahnya mudik. Juga tidak sebersit pun ingin menakut-nakuti keluarga pembaca.


Justru dengan tulus saya ingin mengingatkan kita semua bahwa liburan Idulfitri yang membahagiakan adalah liburan yang sepatutnya ditandai oleh senyum ceria di bibir dan mata anak-anak kita semua. Senyum yang merekah indah dalam suasana bahagia bersama keluarga tercinta di kampung halaman.

Semoga.