Airlangga Hartarto Menaklukkan Badai dan Memenangkan Golkar

Opini: Melchias Markus Mekeng

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR.

Selasa, 25 Juni 2019 | 19:41 WIB

Sesaat setelah ditetapkan sebagai ketua umum DPP Partai Golkar dalam rapat pleno di Jakarta pada 13 Desember 2017, keluarlah pernyataan dari Airlangga Hartarto,"Tidak ada faksi-faksi di Golkar. Yang ada adalah seluruh kita bersama, bekerja dalam satu setengah tahun ke depan menyelesaikan agenda-agenda politik."

Penyatan ini tentunya disampaikan Airlangga Hartarto karena ia sadar betul kondisi Golkar saat itu yang dililit persoalan internal yang luar biasa, sementara masa kepemimpinannya begitu singkat. Terpilihnya Airlangga Hartarto secara aklamasi saat ini juga merupakan sebuah kesadaran kolektif dari seluruh kader tentang situasi perpecahan internal yang cukup panjang dan melelahkan, disertai kasus hukum yang melanda ketua umum saat itu, telah menguras kepercayaan publik yang luar biasa terhadap Partai Golkar. Ketika itu, hasil survei dari beberapa lembaga survei menunjukkan elektoral Partai Golkar tergerus hingga pada angka 6-7 persen. Dan tantangan terbesar Airlangga Hartarto saat itu adalah mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada Partai Golkar.

Setelah dikukuhkan dalam Munaslub Golkar pada 14 Desember 2017, selaku ketua umum DPP, Airlangga Hartarto bergerak cepat untuk menyelesaikan beberapa agenda penting di depan mata, yaitu membentuk kepengurusan DPP, melakukan konsolidasi organisasi dan struktural untuk menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung 2018, serta Pileg dan Pilpres 2019.

Di tengah kesibukannya selaku menteri perindustrian, ketua umum Golkar selalu memiliki waktu buat kepentingan partai dengan mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia untuk memberi semangat kepada para pengurus dan kader di setiap daerah.

Di tengah tugas konsolidasi tersebut, Airlangga Hartarto masih dibayang-bayangi berbagai persoalan yang sudah dan sedang terjadi. Beberapa persoalan dan tantangan paling utama yang menuntut penyelesaian dan pemulihan kepercayaan publik berupa masalah dualisme kepengurusan antara Munas Bali dan Ancol, kasus "Papa Minta Saham" dan korupsi yang menjerat beberapa elite Golkar di nasional dan daerah.

Selain itu, Golkar mengalami pergantian ketua umum berulang kali, dituduh sebagai partai pendukung penista agama, ditangkapnya mantan Ketua Umum Golkar Setya Novanto, korupsi mantan Sekjen Golkar Idrus Marham, dan korupsi anggota DPR dari Partai Golkar menjelang detik-detik akhir pencoblosan Pemilu 2019.

Kemudian, lahir pula Partai Berkarya yang dibidani sejumlah mantan elite Golkar yang secara nyata menggerus suara Partai Golkar.

Kalau dilihat dari dinamika tersebut, bisa saja Golkar terjerembap ke titik nadir sesuai dengan prediksi sebagian lembaga survei yang sempat memperkirakan bahwa perolehan suara Golkar hanya di kisaran 6-9 persen secara nasional.

Dengan segala tantangan yang disampaikan di atas dan dengan segala keterbatasan waktu serta finansial seluruh pengurus dan caleg pada semua tingkatan serta para kader dan simpatisan yang telah bekerja bahu-membahu dengan semangat gotong royong, Golkar berhasil memperoleh hasil cukup fantastis pada Pemilu Serentak 2019. Untuk pertama kalinya, Partai Golkar berhasil memenangkan calon presiden yang diusungnya selama dalam sistem pilpres secara langsung di era reformasi. Bahkan, Partai Golkar tetap bertengger di pososi kedua perolehan kursi DPR setelah PDIP.

Inilah sebuah hasil kerja keras seluruh keluarga besar Partai Golkar pada semua tingkatan, perjuangan di tengah prahara dengan sebuah hasil yang sangat membanggakan. Jika kita membandingkan hasil perolehan kursi Partai Golkar di DPR pada Pemilu Legislatif 2014 sebanyak 91 kursi dengan Pemilu Legislatif 2009 sebanyak 106 kursi tanpa badai dan tantangan yang besar, telah terjadi penurunan 15 kursi, padahal kepemimpinan DPP Golkar saat itu bekerja lima tahun penuh. Oleh karena itu, perolehan jumlah kursi DPR dengan masa kepemimpinan 1,3 tahun dari Airlangga Hartarto yang mengalami penurunan hanya 6 kursi DPR dengan amukan badai yang sangat dahsyat, maka dapat kita sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas keberhasilan Partai Golkar di bawah kepemimpinan Ketua Umum Airlangga Hartarto.

Kita patut berterima kasih atas langkah-langkah strategis dan cepat dari ketua umum sehingga pengalaman salah satu partai yang pernah berkuasa dengan penurunan suara drastis dari 20 persen pada Pemilu 2009 menjadi 10 persen pada Pemilu 2014,. lalu turun lagi menjadi 7,77 persen pada Pemilu 2019, tidak dialami Golkar. 

Perjuangan dan hasil yang sangat membanggakan ini kiranya menjadi penyulut semangat seluruh pengurus dan kader pada semua tingkatan untuk menata partai secara lebih mantap demi kejayaan Golkar pada pemilu yang akan datang. Solidaritas dan semangat gotong royong yang menjadi andalan Partai Golkar pada Pemilu Legislatif 2019 ini bersama Airlangga Hartarto, sudah seharusnya menjadikan momentum titik balik kebangkitan Golkar saat ini, sekaligus energi pendorong dan pemersatu Golkar agar tetap kokoh di peringkat atas kekuatan politik nasional yang sangat diperhitungkan. Seluruh keluarga besar Partai Golkar harus fokus menatap ke depan dengan modal yang ada sekarang untuk memenangkan suara rakyat pada Pemilu 2024. Suara rakyat, suara Golkar!