Tak Usah Lebay dengan Gawai

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Selasa, 2 Juli 2019 | 16:00 WIB

Mari kita tidak terlalu terburu-buru merasa bangga dengan status sebagai ayah dan bunda! Begitu “provokasi” saya setiap menyampaikan materi tentang pengasuhan ke para orang tua maupun calon orang tua. Mengapa saya menyampaikan kalimat seperti itu?

Adalah kenyataan bahwa hari ini, secara getir, sebutan “orang tua” perlu dipilah ke dalam dua kategori. Pertama, orang tua biologis. Merekalah adalah sumber sel telur dan sel sperma yang setelah bertemu menjadi seorang bayi.
Kedua, orang tua efektif. Berbeda dengan orang tua biologis, orang tua kategori ini tidak ada relevansinya dengan asal-usul anak. Kehadirannya baru ada setelah anak dilahirkan. Walau demikian, orang tua efektif memiliki peran signifikan dalam proses tumbuh kembang anak. Merekalah peletak dasar bahkan--bisa pula--pemandu perjalanan hidup anak menjadi insan dewasa yang paripurna.

Sepatutnya, orang tua biologis adalah juga orang tua efektif. Yang paling indah adalah manakala orang tua efektif merupakan kesinambungan setelah ayah bunda berkedudukan sebagai orang tua biologis. Orang tua adalah kodrat biologis, sementara orang tua efektif adalah hasil proses belajar. Bahkan, sesuai temuan banyak studi, melalui interaksi yang konsisten, orang tua sudah bisa berperan efektif sejak anak masih berada di dalam kandungan.

Apa boleh buat, pembedaan antara orang tua biologis dan orang tua efektif muncul sebagai buah dari seberapa jauh fungsi ayah dan bunda dalam kehidupan anak setelah dilahirkan. Dan kenyataan yang kurang menyenangkan itu seolah semakin terlegitimasi oleh rencana Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang akan menerbitkan peraturan pembatasan penggunaan gawai oleh anak-anak. Rencana itu merupakan episode susulan setelah Agustus tahun lalu Menteri PPPA bersama tiga menteri lainnya mengeluarkan pernyataan bersama tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan. Ketiga menteri dimaksud adalah Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, serta Menteri Agama.

Kedua keluaran dari KPPPA tersebut mencubit masyarakat, khususnya para orang tua, bahwa dewasa ini sudah hadir sosok-sosok baru yang perannya boleh dikata jauh lebih efektif dan berpengaruh terhadap kehidupan anak. Sosok itu lebih sering disentuh anak, bahkan juga dijamah orang tua. Sosok itu, baik bagi anak maupun orang tua, seolah telah menjadi kebutuhan utama. Sosok yang sukses menjadi “orang tua efektif” itu tak lain adalah gawai alias telepon seluler (ponsel) cerdas.

Pembatasan Gawai
Bila diurutkan, daftar riset tentang pengaruh negatif gawai terhadap orang tua dan anak niscaya akan sangat panjang, lebih banyak daripada pengaruh positif yang dihasilkan benda yang sama. Sadar akan risiko buruk yang bisa dialami anak-anak, negara semisal Perancis sudah sejak beberapa waktu silam mengeluarkan pelarangan nasional penggunaan ponsel cerdas di sekolah-sekolah. Pelarangan nasional itu merupakan puncak setelah sebelumnya banyak sekolah menegakkan aturan main serupa secara individual.

Regulasi nasional di Prancis tersebut berbunyi--kurang lebih--bahwa pelarangan dilakukan di sekolah dasar dan sekolah menengah dengan pengecualian di tempat-tempat dan dalam situasi-situasi tertentu yang ditetapkan oleh pihak sekolah. Para siswa dilarang menggunakan ponsel di dalam dan di luar ruangan kelas, kecuali dalam keadaan darurat dan penggunaan untuk kepentingan pendidikan.

Bagaimana perincian ketentuan pembatasan penggunaan gawai yang akan diterbitkan KPPPA, masih dinantikan masyarakat luas. Dari sisi semangat, ketentuan itu kita yakini berlatar baik dan bertujuan positif pula. Meskipun dari sisi implementasi nantinya, bisa diperkirakan bahwa ketentuan KPPPA tersebut akan menghadapi kendala yang tidak ringan sebagaimana yang juga dihadapi oleh peraturan perundang-undangan yang diinisiasi oleh KPPPA lainnya. Bahkan penerapan sebatas di lingkungan sekolah sekali pun tidak serta-merta akan berjalan mulus.

Salah satu masalah yang bisa muncul tergambar pada sebuah informasi yang masuk ke LPAI. Sepasang orang tua mengaku bisa memahami saat sekolah menyita ponsel cerdas yang dibawa oleh anak mereka. Penyitaan itu merupakan hukuman bagi siswa karena gawai yang ia gunakan telah mengganggu ketenangan proses belajar-mengajar di kelas. Yang tidak bisa diterima klien adalah saat ponsel dikembalikan, pulsa atau paket datanya telah habis. Klien menduga itu disebabkan oleh ulah oknum personel di sekolah.

Persoalan pertama, pada usia berapa atau pada kelas berapa sesungguhnya anak dinilai patut mempunyai ponsel pribadi. Karena habitat primer anak adalah rumah dan sekolah, maka jawaban atas persoalan tersebut seharusnya bertitik tolak dari harmonisasi antara kebutuhan pendidikan dan usia anak.

Kedua, mengapa anak sampai nekad menggunakan (bermain) ponsel di kelas. Di situ mungkin ada masalah tentang materi dan metode pengajaran yang diterapkan guru. Tentu, secara teoretis, stimulasi guru melampaui stimulasi ponsel adalah jalan keluarnya.

Ketiga, penyalahgunaan kewenangan harus berangkat dari bagaimana pembatasan penggunaan gawai di sekolah tidak hanya dikenakan ke para siswa, namun juga diberlakukan bagi seluruh guru dan karyawan sekolah.

Pembatasan yang tidak disertai sanksi, rasanya sulit untuk manjur. Konsekuensinya, penegakan sanksi dibutuhkan tidak hanya untuk kepentingan regulasi itu sendiri. Adanya sanksi berarti bahwa regulasi tersebut mengandung keseriusan tingkat tinggi.

Seluruh pemangku kepentingan harus sadar sejak hari pertama bahwa pembatasan penggunaan gawai merupakan tata tertib nomor satu di sekolah. Pelanggaran atas tata tertib itu akan berlanjut dengan keluarnya sanksi bagi para siswa dan orang tuanya.

Satu lagi, partut dieksplorasi kemungkinan bahwa pembatasan serupa juga diberlakukan oleh orang tua selama anak berada di rumah. Lalu dikunci dengan semacam surat kontrak bertanda tangan di atas materai secukupnya.

Sepengetahuan saya, ada sekian banyak orang tua yang sama sekali tidak mengizinkan anak-anak mereka menggunakan gawai. Mereka berprinsip bahwa gawai bukan segala-galanya, sehingga tak perlu lebay dengan gawai. Yakin bahwa setiap keluarga mempunyai tata nilainya masing-masing, saya tidak apriori terhadap sikap semacam itu.

Saya pribadi jadi teringat dan ingin bercermin pada beberapa kenyataan: pengusaha rokok tidak membiarkan anak-anak mereka merokok. Mafia narkoba melarang anak-anak mereka mencicipi narkoba. Pemilik pabrik gawai ekstra ketat mengatur penggunaan gawai oleh anak-anak mereka. Bagaimana dengan kita?

Kiranya kita semua juga dapat bercermin dari kenyataan ini. Semoga.