Impian Indah di Hari Pertama Sekolah

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Senin, 15 Juli 2019 | 18:22 WIB

Menjelang tahun ajaran baru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merilis lagu ceria. Judulnya, Hari Pertama ke Sekolah. Dari liriknya pun kentara bahwa Kemdikbud ingin menyemangati orang tua sekaligus menenangkan sang siswa. Orang tua didorong untuk mendampingi putra-putri tercinta hingga ke gerbang sekolah pada Senin (15/7). Siswa juga ditenangkan batinnya bahwa mereka akan disambut oleh “ayah bunda di sekolah” dengan senyumnya yang merekah.

Lirik lagu Hari Pertama ke Sekolah memang sangat relevan. Bahkan tidak hanya di Indonesia. Di amat banyak negara di dunia pun, perasaan risau di hari pertama sekolah juga tercatat sebagai fenomena. Berbagai studi juga digelar untuk menemukan sebab-musabab sekaligus memberikan resep paling mujarab atas kecemasan yang menggelayuti hati para orang tua dan siswa itu.

Namun, tampaknya ada yang sedikit terlupakan pada lirik lagu Kemdikbud tadi. Riset tentang pihak yang terlupakan itu juga tak sebanding jumlahnya. Siapakah dia?

Dia adalah sosok yang juga manusia, yang juga terlibat penuh dalam prosesi hari pertama di sekolah itu. Manusia yang juga punya segudang harapan akan keberhasilan pendidikan. Manusia yang--nah, ini dia--sesungguhnya juga bisa pusing, penat, bahkan cemas. Tak lain beliau adalah Sang Guru!

Masalahnya, saat lirik lagu Kemdikbud berusaha menggembirakan orang tua serta membuat siswa berbunga-bunga, lalu siapa yang mengambil tanggung jawab untuk membesarkan hati para bapak dan ibu guru? Seolah terlupa adanya lagu khusus untuk mereka atau--setidaknya--juga menyinggung para guru selaku salah satu pemangku kepentingan di dunia pendidikan.

Perhatian bagi Guru
Kecemasan pada guru, apalagi pada momentum hari pertama sekolah, tak bisa dilupakan. Tekanan batin terkait pekerjaan, yang muncul berupa keletihan fisik, mental, dan psikologis, merupakan wabah yang kian menjalar di berbagai bidang pekerjaan. Tak terkecuali merayap juga pada diri para guru. Sebagai contoh, berdasarkan survei The American Federation of Teachers (2017), 61% guru mengindikasikan bahwa pekerjaan mereka sering atau bahkan selalu bikin stres. Kemudian, paling sedikit 58% guru menyebut stres yang mereka alami sudah mengganggu kesehatan mental mereka.

Tidak hanya di negeri Paman Sam. Kondisi serupa juga berlangsung di negeri Kanguru. Penelitian yang dirilis Bond University (2019) bahkan menyimpulkan bahwa guru-guru di Australia lebih depresi dan lebih cemas dibanding rata-rata masyarakat di sana.

Andai kajian dengan tema yang sama dilakukan di sini, boleh jadi temuannya tidak akan jauh berbeda. Bisa dinalar: saat orang tua menaruh harapan tinggi dan siswa memiliki banyak pertanyaan di dalam kepala, meski tidak terucap, harapan dan pertanyaan itu niscaya diletakkan ke meja para guru. Situasi yang dipandang mencekam itu disodorkan ke para guru dengan keyakinan bahwa merekalah yang akan memberikan penawarnya. Pada saat yang sama, pihak sekolah pun tentunya mengharuskan para guru berhasil sejak hari pertama membuat anak-anak didik nyaman di kelas atau sekolah baru mereka.

Sekolah menyediakan layanan untuk mendengar keluh-kesah para siswa dan orang tua mereka. Namun, apakah layanan konseling juga tersedia bagi para guru. Akal sehat bertanya-tanya: kalau orang tua dan siswa boleh curhat ke guru, apakah guru juga boleh katarsis ke orang tua siswa? Dan saat para orang tua diimbau untuk mengantar buah hati mereka di hari pertama sekolah, lalu bagaimana para guru juga bisa memperoleh kesempatan serupa terhadap anak-anak mereka?

Tekanan batin yang diderita guru perlu kiranya mendapat perhatian dengan porsi yang semestinya. Bila terabaikan, pada titik hilir adalah para siswa sendiri yang akan mengalami kerugian. Penjelasan tentang hal ini disajikan oleh riset McLean, Arby, Taylor, dan Connor (2018). Para peneliti tersebut menemukan bahwa guru-guru yang memiliki gejala depresi akan mengajar dengan pendekatan ala kadarnya. Artinya, mereka berhadapan dengan para siswa dengan energi lebih sedikit, dibandingkan guru-guru yang lebih sehat. Alokasi energi yang lebih sedikit itu masuk akal karena pasokan energi lainnya sudah lebih dahulu terkuras untuk meredakan aneka ragam perasaan yang tidak nyaman. Pemberian berbagai bentuk instruksi pun mengendur, mengakibatkan situasi kelas cenderung kacau, akhirnya anak-anak didik pun tidak dapat mengikuti kegiatan belajar dengan optimal. Dari sini bisa dipahami, depresi pada guru bukan hanya sebatas masalah mereka sendiri, namun juga berpotensi memengaruhi pengalaman dan performa belajar siswa.

Ditekan dari luar, diimpit dari dalam, wooow... betapa beratnya pekerjaan para pahlawan tanda jasa ini. Apa boleh buat, itulah risiko pekerjaaan sebagai guru. Namun hati saya tetap yakin, bahwa di situ pula letak kemuliaan pekerjaan para guru. Karena mulia, sudah tentu mereka pun patut senantiasa dimuliakan. Caranya cukup sederhana. Yakni, yang paling utama, relasi antara orang tua dan guru patut dibangun sehangat dan sesetara mungkin agar terumuskan harapan realistis atas pengalaman belajar anak. Demikian pula, manakala kita mengharamkan school bully antarsiswa serta antara guru dan siswa, sudah saatnya pula norma nirkekerasan ini juga bersemi dalam hubungan antara guru dan orang tua siswa.

Ayah bunda, anak-anak, dan bapak ibu guru sekalian, mari kita tarik napas dalam-dalam. Kembangkan senyum lebar-lebar penuh persahabatan. Kiranya, impian indah dalam lirik lagu Walt Disney ini dapat kita ciptakan bersama terhitung sejak hari pertama kaki anak-anak tercinta menjejak gerbang sekolah: A whole new world, That's where we'll be, A thrilling chase, A wondrous place, For you and me...

Semoga.