Peristiwa 27 Juli Selalu Aktual

Opini: Dono Prasetyo

Pimpinan Kolektif DPN Seknas Jokowi.

Sabtu, 27 Juli 2019 | 12:55 WIB

Setelah lebih dari dua dekade berlalu, Peristiwa 27 Juli 1996, tetap saja aktual. Peristiwa itu akan selalu dikenang publik sebagai prolog menuju gerakan reformasi yang puncaknya ditandai dengan mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998. Peristiwa 27 Juli selalu aktual mengingat pada saat itu rakyat menunjukkan kedaulatannya atas demokrasi. Demokrasi harus diperjuangkan. Demokrasi yang sedang kita rasakan hari ini merupakan hasil perjuangan panjang.

Secara kelembagaan, peristiwa itu pula yang mendorong lahirnya PDI Perjuangan (PDIP). Benar, peristiwa tersebut merupakan bagian sejarah penting dari PDIP, terlebih situs tempat terjadinya peristiwa, kini telah berdiri kantor pusat DPP PDIP di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sejarah seperti berulang, di saat memperingati Peristiwa 27 Juli hari ini, salah seorang kader PDIP yang sangat fenomenal, yakni Joko Widodo, tengah bersiap menuju pelantikannya sebagai presiden untuk periode kedua. Jokowi sungguh fenomenal, mengingat dirinya adalah representasi dari wong cilik, sama seperti PDIP yang juga selama ini mengidentikkan dirinya sebagai partai wong cilik.

Dari segi karakter Pak Jokowi juga fenomenal. Meskipun sudah sampai ke Istana, tetapi sifat kerakyatannya tidak berkurang sedikit pun. Kita bisa melihat sendiri, saat kunjungan kerja ke pelosok Nusantara, Jokowi selalu mendapat sambutan meriah dari rakyat dan Jokowi langsung membalasnya dengan kehangatan setimpal. Jokowi tak segan menabrak segala aturan protokoler demi bisa menyambangi rakyatnya yang telah lama menanti kehadirannya untuk sekadar berjabat tangan dengan pemimpinnya.

Kini tugas sejarah berikutnya telah menanti PDIP dan salah satu kader terbaiknya--Jokowi--, untuk membalas kepercayaan rakyat. Pada peristiwa 27 Juli dulu, rakyat mendukung PDI pro Mega (cikal bakal PDIP), meski secara diam-diam. Rezim Orde Baru dikenal sangat otoriter, sehingga segala bentuk dukungan terhadap PDI pro Mega, tidak bisa dilakukan secara terang-terangan. Namun kita semua tahu, dukungan rakyat begitu masif dan tidak bisa dibendung lagi, dan jejaknya masih tampak sampai sekarang dengan menangnya kader PDIP dalam Pilpres 2014 dan 2019.

Menjadi tugas sejarah PDIP untuk mengembalikan segala kepercayaan rakyat tersebut dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka. Bila melihat perilaku elite PDIP saat ini dengan segala gaya hidup dan privilese sebagai bagian dari partai berkuasa (the rulling party), publik masih cukup was-was, apakah benar elite PDIP saat ini masih memiliki elan perjuangan seperti dua dekade yang lalu?

Memang masih ada sejumlah pertanyaan soal kualitas keterpanggilan elite PDIP terhadap problem-problem konkret kerakyatan. Tentu saja hal ini sudah menjadi bagian dari refleksi para elite PDIP sendiri. Mereka sendirilah yang harus membuktikan: masih adakah yang linier dari kiprah PDIP saat ini dengan peristiwa dua dekade yang lalu?

Dengan keberadaan Jokowi sebagai figur yang fenomenal, PDIP tengah bersiap menuju fase yang sangat menentukan. Kiranya dua periode pemerintahan Jokowi kelak akan dikenang rakyat sebagai rezim yang sangat memberi perhatian pada isu wong cilik.

Para relawan akan selalu bersiap mengawal program Jokowi dan selalu bahu-membahu bersama elemen masyarakat yang lain. Para relawan akan selalu selalu setia tegak lurus kepada Jokowi atau meminjam istilah Bung Karno, tanpa reserve.