Pahlawan di Era Milenial

Opini: Eko Sulistyo

Mantan Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden 2015-2019

Jumat, 8 November 2019 | 15:00 WIB

Bisa jadi generasi milenial mempunyai pahlawannya sendiri yang tidak didapatkan dari menghafal buku pelajaran sejarah di sekolah. Seperti dikatakan sejarawan Universitas Indonesia (UI), Bondan Kanumoyoso, cara kita memaknai pahlawan bangsa masih meninggalkan jurang lebar dengan realitas generasi ini. Pelajaran sejarah hanya berhenti pada glorifikasi masa lalu yang tidak relevan dengan masa sekarang.

Tidak mengejutkan jika generasi milenial cenderung lebih mengenal dan mengagumi tokoh-tokoh fiksi superhero dalam Avengers daripada sosok pahlawan bangsa. Film Avengers di bioskop selalu penuh antrean dan menjadi cerita kepahlawanan yang mengasyikkan bagi generasi milenial—tren yang sebenarnya sudah dimulai pada generasi X. Sementara kisah pahlawan bangsa, seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, dan Cut Nyak Dien menjadi hafalan pelajaran sekolah untuk menjawab soal-soal ujian.

Persepsi Tentang Pahlawan
Namun kabar baik masih bisa kita baca dari survei Litbang Kompas pada kaum muda pada 2018. Hasil survei menunjukan bahwa pahlawan kemerdekaan masih diingat oleh generasi milenial. Ketika ditanyakan siapakah yang disebut pahlawan? Jawabannya, 49% adalah para pejuang kemerdekaan, 36% tokoh popular, 9,6% tokoh agama, 3,5% tokoh imajiner yang diproduksi industri, 2,5% berjasa bagi rakyat, 1,3% bermanfaat, dan 0,2 % menjawab tidak tahu.

Meski para pejuang kemerdekaan mendapat jawaban 49%, jumlahnya secara keseluruhan masih dibawah 50%. Artinya, generasi milenial menafsirkan pahlawan lebih luas, tidak sebatas tokoh perjuang kemerdekaan. Generasi milenial mengajukan tokoh dan penafsiran pahlawannya sendiri.

Penafsiran milenial tentang pahlawan seharusnya diajarkan dalam buku pelajaran sejarah bahwa pahlawan tidak harus tokoh perjuang kemerdekaan. Tapi bisa setiap individu yang memberikan sumbangan positif bagi masyarakat, kemanusiaan, lingkungan hidup, pendidikan dan bidang lainnya. Uniknya, meski pejuang kemerdekaan mendapat angka tertinggi sebagai pahlawan, justru tidak tercermin ketika ditanyakan pada kaum muda tentang nilai-nilai kepahlawanan.

Kaum muda lebih melihat hal-hal konkret dan berguna bagi masyarakat sekarang, bukan sekadar glorifikasi masa lalu. Ketika ditanyakan bagaimana nilai-nilai kepahlawanan menurut Anda? Dijawab, 51,8% adalah yang memperjuangkan kesejahteraan bagi banyak orang; 39,5% membela kebenaran; 4,6% memperjuangkan kemerdekaan Indonesia; 2,9% berjuang melawan musuh; 0,8% bermanfaat bagi orang banyak; dan 0,4% menjawab tidak tahu.

Persepsi pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan yang hanya dijawab 4,6%, menunjukan adanya kesenjangan penafsiran dan nilai-nilai dari perjuangan kemerdekaan kepada generasi milenial. Nilai tertinggi 51,8% terhadap persepsi pahlawan yang berjasa memajukan kesejaheraan umum menjadi nilai yang dipersepsikan tinggi generasi milenial. Memajukan kesejahteraan umum sebagai salah satu tujuan kemerdekaan, harusnya dinarasikan dan diwacanakan dalam buku sejarah ketika membicarakan nilai-nilai kepahlawanan.

Generasi milenial hidup dalam lingkungan sosial dan budaya digital yang terkoneksi secara global, dan menjadi sumber informasi dalam memandang dunia. Dunia yang berubah dan tantangan yang dihadapi generasi milenial telah membentuk persepsi milenial tentang kepahlawanan. Figur pahlawan masa lalu, belum tentu cocok untuk tantangan generasi milenial saat ini, karena diangap kurang relevan dengan zamannya.

Bagi generasi milenial, pahlawan harus relevan dengan tantangan zaman. Dalam The Deloitte Global Millennial Survey 2019, yang dilakukan atas generasi milienal di 42 negara, termasuk Indonesia, didapatkan data bahwa generasi milenial melihat tantanga zaman yang harus dihadapi sekarang. Dari mulai masalah iklim (29%), kesenjangan penghasilan dan kesenjangan kekayaan (22%), pengangguran (21%), keamanan personal (20%), korupsi bisnis dan politik (20%), terorisme (19%), ketidakstabilan politik, serta perang dan konflik (18%).

Tindakan Nyata
Pahlawan bagi generasi milenial juga dipersepsikan sebagai sebuah aktivitas yang memberi inspirasi dan pengaruh positif bagi masyarakat. Pahlawan bagi milenial adalah suatu tindakan nyata yang memberi manfaat kepada masyarakat. Pahlawan bukan lagi dipahami sebagai sebuah gerakan heroik yang mengangkat senjata melawan penjajah.

Sebuah harian ibukota pernah mengadakan angket “7 Millennial Heroes” untuk menjaring apa yang dianggap pahlawan oleh generasi milenial. Tujuh katagori pahlawan milenial itu meliputi para figur milenial yang berkarya dalam bidang ekonomi digital, seni dan budaya, olahraga, pendidikan, sosial, lingkungan, dan kesehatan. Dalam setiap bidang dipilih tujuh orang yang dianggap sebagai pahlawan milenial.

Dari tujuh katagori kepahlawanan dan figur pahlawan yang terpilih menunjukan bahwa pahlawan generasi milenial adalah legenda hidup, bukan para tokoh masa lalu yang sudah wafat. Para pahlawan milenial dapat diikuti dalam praktik dan filosofi hidup mereka melalui akun media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Facebook. Melalui media sosial, para pahlawan milenial bisa melakukan dialog interaktif secara online, sesuatu yang tidak bisa dilakukan pada pahlawan kemerdekaan yang telah gugur.

Generasi milenial akan menjadi fondasi sumber daya manusia Indonesia masa depan. Generasi inilah generasi emas yang akan memimpin Indonesia, mulai jadi pemilik kafe kopi, manajer perusahaan, tokoh budaya, hingga politisi dan pejabat tinggi negara. Di pundak merekalah cita-cita kesejahteraan Indonesia menjadi negara maju secara ekonomi pada 2045 seperti disampaikan Presiden Jokowi dalam pidato pelantikannya sebagai Presiden RI (2019-2024).

Persoalannya sekarang bagaimana menciptakan generasi milenial yang cakap menghadapi tantangan zaman, tapi juga tetap relevan dan tidak melupakan nilai-nilai kepahlawanan. Pengenalan pahlawan yang penuh glorifikas dan pemujaan sudah seharusnya diubah menjadi pewarisan nilai-nilai universal yang relevan dengan tantangan zaman. Agar pahlawan terus relevan dengan generai milenial, biarkan generasi milenial menciptakan pahlawannya sendiri.

Dengan mengakomodasi persepsi generasi milenial pada pahlawan sesuai dengan zamanya, maka pahlawan tidak hanya menjadi masa lalu dari orang-orang yang sudah almarhum. Tapi pahlawan juga adalah tokoh masa kini (living heroes) yang akan membawa Indonesia ke depan sebagai bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya.