Menangkal Predator Daring

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Kamis, 12 Desember 2019 | 16:00 WIB

Dari masa ke masa anak-anak disebut sebagai salah satu kelompok manusia yang paling rentan menjadi korban kejahatan. Termasuk kejahatan seksual berbasis daring (dalam jaringan atau online). Keringkihan itu bersumber dari tingginya suggestibility yang umumnya dimiliki anak.

Suggestibility bermakna sebagai kepekaan anak untuk menerima pengaruh atau sugesti dari pihak lain. Suggestibility merupakan dimensi yang dimasuki oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan anak, tak terkecuali para predator seksual yang mengincar anak-anak di dunia daring.

Agar anak-anak terpikat, mereka tidak didekati oleh predator dengan cara-cara yang menakutkan. Jika pendekatan teror seperti intimidasi yang diterapkan, anak-anak tentu akan lari menjauh. Padahal, predator boleh jadi tidak hanya sekali memangsa korbannya, melainkan berkali-kali. Untuk maksud itu, predator paling keji sekali pun perlu menyamar sebagai sosok yang menyenangkan bagi anak.

Bertitik tolak dari hal ini, muncullah istilah grooming behavior. Inilah siasat psikologis yang dimainkan oleh kebanyakan pelaku kejahatan seksual, baik daring maupun nyata, guna memviktimisasi anak-anak. Bentuknya wajah manis, bujuk rayu, iming-iming, dan tindak-tanduk lainnya yang membuat anak tidak menaruh perasaan curiga sama sekali.

Teknik grooming melalui sejumlah tahap. Pertama, membangun persahabatan. Si pemangsa berusaha membangun kepercayaan sang anak pada dirinya. Agar peluang keberhasilannya meningkat, predator akan melakukan pemetaan tentang kondisi atau ciri anak yang paling mudah untuk diajak “berteman”. Mencermati status maupun pesan dan komentar anak di media sosial, si pemangsa akan mengidentifikasi sisi pertemanan yang paling tepat untuk disasarnya.

Setelah tahap pertama berhasil dilalui, tahap interaksi yang akan dibangun berikutnya adalah membangun kehangatan. Pada tahap ini, predator akan mengisi ruang kosong batiniah anak yang telah dibacanya pada tahap pertama. Anak korban perceraian, misalnya, akan didekati si penjahat dengan bertutur kata maupun menampilkan gestur layaknya anak dengan kondisi serupa atau pun sebagai figur yang mengayomi.

Tahap kedua grooming tersebut memberikan gambaran merisaukan bahwa anak-anak bisa saja mencari pemenuhan atas kebutuhan mereka di dunia daring. Kepolosan anak-anak itu membuat mereka mudah jatuh terbuai, tanpa pernah sungguh-sungguh mengecek siapa sebenarnya orang yang “begitu baik” di media sosial itu.

Saat anak sudah berhasil dibawa masuk ke tahap kedua ini, hubungan anak dan calon pemangsanya sudah semakin eksklusif. Mereka bisa mempunyai nama sapaan khusus dan tema-tema obrolan yang menjadi rahasia antarmereka saja. Sampai di sini, sudah cukup bagi kita untuk langsung menyimpulkan bahwa dunia daring sama sekali bukan dunia yang sepenuhnya aman. Segala bentuk siluman ternyata banyak berkeliaran di situ.

Tahap ketiga, predator menakar kendala atau risiko yang ia hadapi. Si pemangsa mulai menanyakan hal-hal yang menyangkut seberapa jauh anak dalam kondisi tersupervisi dan seberapa jauh interaksi mereka termonitor pihak lain. Itu ia lakukan dengan mengajukan pertanyaan seperti, “Berapa orang yang tinggal serumah denganmu?”, “Ini komputermu sendiri atau kamu pakai bersama orang lain?”, “Siapa orang yang paling dekat denganmu?”, “Boleh aku juga mem-follow akun medsos orang tuamu?”, “Jam berapa yang paling asyik bagi kita untuk chatting berdua?”, dan semacamnya.

Tentu, groomer --baik daring maupun nyata-- tidak menghendaki adanya mata lain yang mengintai “pertemanan istimewa”-nya dengan anak.

Pada tahap selanjutnya, si pemangsa akan berupaya agar anak memperdalam ikatan batiniah dengan “sahabat” daringnya itu. Kesibukan anak berselancar pada jam-jam yang tidak lazim patut diwaspadai sebagai pertanda adanya relasi yang semakin eksklusif antara dia dan groomer-nya.

Tidak tertutup kemungkinan anak akan diajak berjumpa darat. Dan pastinya, saat kopi darat berlangsung, si pemangsa akan menampilkan dirinya sedemikian rupa agar tetap tidak menakutkan di mata sang anak.

Di ruang publik yang menjadi lokasi pertemuan antara anak dan si predator, mungkin saja ada pihak-pihak yang menangkap kejanggalan pertemuan tersebut. Tapi memang tidak tersedia landasan yang cukup bagi siapa pun, bahkan mungkin juga bagi petugas keamanan sekali pun, untuk mengecek apakah seorang anak yang berjalan-jalan bersama orang dewasa adalah sesuatu yang wajar ataukah justru momen rendezvous sebelum terjadinya kejahatan seksual terhadap anak. Padahal, pada tahap inilah, saat anak berjumpa tatap muka langsung dengan groomer, pemutusan mata rantai viktimisasi sudah sangat nyata harus dilakukan agar anak tidak terperangkap ke tahap berikutnya yang semakin berisiko tinggi.

Kejahatan Seksual
Pada tahap berikutnya, aktivitas bermuatan seksual sudah diterapkan si predator terhadap anak yang ia sasar. Secara lisan maupun tertulis, si predator mengangkat tema-tema seksualitas secara eksplisit. Atau, ajakan berenang bersama, menonton film biru, bertukar cerita tentang pengalaman seks, dan berbagi informasi tentang links maupun literatur terkait seks. Rasa ingin tahu yang sejatinya bersifat alamiah pada diri anak benar-benar dieksploitasi oleh si groomer.

Setelah melampaui tahap-tahap di atas, puncaknya adalah kontak seksual yang sesungguhnya antara anak dan si predator. Kontak fisik adalah situasi yang amat-sangat mengerikan. Namun pada masa sekarang, kontak seksual juga dapat berlangsung secara virtual. Pemangsa, sebagai contoh, memerkosa anak melalui webcam dengan menggunakan tangan anak itu sendiri. Variasi lain adalah eksploitasi moneter, yaitu kumpulan foto atau video si anak diperdagangkan si pemangsa.

Seiring dengan itu, pada tahap ini, mungkin saja si predator tidak lagi tampil manis seperti sediakala. Ia bisa mengancam dan merendahkan korbannya agar terus menutup-nutupi aksi kejahatan yang telah terjadi. Anak mulai tertekan, depresi, namun tetap sulit untuk melepaskan diri dari “sahabat” daringnya karena telanjur mengisolasi dirinya dari pihak-pihak lain.

Seiring berkembangnya kelakuan-kelakuan jahat manusia, termasuk grooming seksual berbasis daring, pola pengasuhan perlu semakin dimodifikasi, perlu dipercanggih. Saya tidak bermaksud menjangkiti masyarakat, khususnya para orang tua dengan paranoia. Namun realistis untuk mengatakan, bahwa pengawasan terhadap anak-anak patut semakin diperkuat dan ditingkatkan sebagai bagian dari pembangunan daya lenting (resiliensi) anak-anak terhadap bahaya pemangsaan seksual.

Untuk itu, dengan tegas saya mohon kepada otoritas pidana untuk berani membuka wajah serta identitas para groomer dan para pedofil. Batasilah ruang gerak mereka serta berdayakan masyarakat luas agar lebih aktif mewaspadai gerak-gerik para penjahat seksual itu yang menyasar anak-anak kita. Hanya dengan demikian maka kejahatan para predator daring pun dapat ditangkal secara lebih optimal lewat kewaspadaan dan kepedulian kita bersama!

Semoga.