Masa Lalu Reynhard, Masa Kini Anak-anak Kita

Opini: Seto Mulyadi

Ketua Umum LPAI; Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Rabu, 15 Januari 2020 | 08:00 WIB

Reynhard Sinaga membuat gempar. Dia kini dijuluki sebagai pelaku kejahatan seksual terbejat dalam sejarah hukum Inggris. Ratusan lelaki telah diperkosa oleh Reynhard dalam keadaan tak sadar. Sebelumnya, para korban menenggak minuman beralkohol yang ke dalamnya, oleh Reynhard, telah dibubuhkan obat-obatan keras yang kabarnya hanya dapat diperoleh di pasar gelap.

Banyak kalangan mengaitkan perilaku jahat dengan orientasi seksualnya yang menyimpang. Tidak sedikit pula yang mencoba memberikan penjelasan dengan ragam pengasuhan yang mungkin telah diterima Reynhard.

Sebetulnya tak sampai hati saya mengaitkan penyebab kelakuan jahat Reynhard ke masalah pengasuhan. Alasannya, pertama, kaitan semacam itu niscaya melukai hati orangtua Reynhard. Padahal, saya yakin, apa pun pola asuh yang telah diterima, kedua orangtua dan keluarganya niscaya tidak akan membenarkan kejahatan seksual mahasiswa program doktoral itu.

Kedua, banyak hasil studi saya baca. Bahwa, anak-anak yang pernah mengalami viktimisasi seksual pada usia dini, apabila tidak diobati, nantinya akan bisa tumbuh sebagai predator pedofilia. Korbannya juga anak-anak. Bertransformasinya korban ke pelaku melalui tiga kemungkinan mekanisme. Menyerang anak secara seksual merupakan ekspresi amarah atau dendam kepada objek pengganti. Pelaku paham bahwa mengincar orang dewasa adalah berisiko. Karena itulah ia sasar target paling potensial, yakni anak-anak. Kemungkinan lainnya, menyetubuhi anak-anak merupakan proses menemukan jawaban atas kebingungan pelaku yang mengendap selama sekian lama terkait pengalaman yang tak bisa ia pahami semasa kanak-kanak. Mekanisme lainnya, menjadikan anak-anak sebagai objek seksual merupakan hasil belajar keliru tentang bagaimana memperoleh kepuasan seksual.

Pada sisi lain, saya belum menemukan adanya studi yang menyimpulkan bahwa anak-anak yang disakiti secara seksual, sekiranya tidak direhabilitasi, akan tumbuh sebagai pelaku perkosaan yang mengincar orang dewasa. Jadi, saya belum menemukan justifikasi ilmiah untuk menuding Reynhard sebagai kriminal dengan akar masalah yang berada di masa silam.

Ketiga, andaikan ada pengalaman buruk dan menyakitkan yang pernah dialami semasa kanak-kanak, jika diungkap, itu bisa mengubah persepsi suasana hati masyarakat. Bahwa, misalnya, ternyata Reynhard bukanlah pelaku tulen. Dia adalah pelaku yang dulunya adalah korban. Namun karena penderitaan itu tak kunjung terobati, maka Reynhard menjelma sebagai monster buas. Mirip gambaran psikopat yang diajukan Robert Hare, bahwa di balik perilaku biadabnya, Reynhard sesungguhnya berteriak-teriak minta pertolongan.

Saya tidak menginginkan itu. Karena, dalam situasi kejahatan, pihak yang sungguh-sungguh memperoleh simpati adalah justru para korban. Jadi, kepada ratusan lelaki yang telah dijahati Reynhard secara seksual itulah uluran kepedulian sepatutnya ditujukan.

Sejauh media mewartakan, yang saya pahami adalah Reynhard dihukum penjara seumur hidup. Setelah tiga puluh tahun meringkuk di balik jeruji besi, barulah Reynhard diijinkan untuk mengajukan permohonan pembebasan lebih dini. Karena sebatas permohonan, maka bisa dikabulkan dan bisa pula tidak.

Tidak ada informasi bahwa Reynhard dikenakan sanksi berupa kewajiban membayar ganti rugi kepada para korbannnya. Juga tak ada berita bahwa si pemilik dua gelar master itu akan direhabilitasi, termasuk kebiri, selama menjalani masa hukumannya.

Bila bentuk sanksi yang Reynhard terima memang hanya satu, yaitu penjara seumur hidup, maka dapat ditafsirkan bahwa juri dan hakim persidangan Reynhard tidak mengeksplorasi kehidupan Reynhard sewaktu masih berumur kanak-kanak. Tidak dilakukannya telaah tersebut mengindikasikan bahwa kepedihan hidup pada masa lalu bukan merupakan pemakluman, peringanan hukuman, atau pun pemaafan atas suatu perbuatan jahat. Logika semacam itu bisa diterima karena, andai Reynhard benar-benar menderita viktimisasi seksual semasa usia dini, ia masih bisa mencari bantuan untuk mengatasi ketersiksaan batiniah yang ia rasakan.

Ketiadaan rehabilitasi bagi Reynhard mengesankan bahwa hakim yang mengadili pria berkacamata itu tidak percaya akan kemujaraban opsi-opsi terapi yang dapat dikenakan kepada pelaku kejahatan seksual sebejat Reynhard.

Juga barangkali ada pertimbangan pragmatis: rehabilitasi ditujukan untuk memodifikasi kondisi mental dan perilaku pelaku, sehingga kelak tidak lagi membahayakan masyarakat seusai ia mengakhiri masa hukumannya. Lalu, untuk apa memberikan rehabilitasi bagi orang yang dihukum menghabiskan waktu selama-lamanya di dalam penjara?

Tidak Paralel
Alih-alih menggunakan cara-cara kasar dan brutal, Reynhard memakai pendekatan lembut untuk menaklukkan para lelaki yang akan ia mangsa. Cara lembut, misalnya, berupa ajakan pertemanan, yang Reynhard praktikkan menandakan pria itu sebagai individu yang cerdas. Dia mampu mengemas dirinya sedemikian rupa menjadi sosok yang sama sekali tidak menyeramkan. Dia juga berhasil mengelabui korban-korbannya. Hanya pria dengan intelijensi yang cemerlang yang mampu melakukan modus penuh pesona itu sehingga berhasil membuat ratusan orang pria lainnya bertekuk lutut.

Namun, di sinilah ironisnya: kecerdasan yang baik justru dimanfaatkan untuk tujuan jahat. Inilah ilustrasi nyata tentang bagaimana kematangan fisik, kematangan psikis, kematangan moral, dan kematangan spiritual sering tidak selalu berkembang beriringan.

Satu pelajaran dapat kita petik. Bahwa, analisa ke masa lalu seorang Reynhard memang menarik. Namun jauh lebih penting bagi kita hari ini adalah mengupayakan agar anak-anak kita sungguh-sungguh mengalami kematangan pribadi secara paripurna. Kematangan pribadi yang ditempa melalui pendidikan karakter sebagaimana senantiasa diserukan oleh Presiden Jokowi akhir-akhir ini.

Semoga.